headermask image

header image

Sebuah Titik Balik

 

 Bismillah ar-rahman ar-rahim

DALAM perjalanan dari Lhokseumawe ke Banda Aceh, kami singgah di Biereun untuk sekadar mampir di sebuah Posko yang didirikan oleh Lembaga Sosial Islam asal Malaysia. Kami melihat para relawan sedang membongkar barang-barang untuk perlengkapan esok ke lapangan. Mereka belia, santun dan intelek.

Di lokasi pengungsian lain, setidaknya kami melihat dua unit pengolahan air bersih canggih (water treatment) yang dibangun oleh Lembaga Sosial dari Eropa dan Amerika. Pada banyak titik pengungsian berdiri pos-pos bantuan kesehatan sampai rumah sakit lapangan dari Bulan Sabit Merah Internasional. Posko kesehatan ini diawaki para relawan asal Malaysia, Singapura, Pakistan, Turki dan beberapa dari Indonesia.

Di sebuah tempat lain di Banda Aceh berdiri sebuah rumah sakit lapangan canggih, yang antara lain dilengkapi tenda ber-AC serta alat pendukung lain, termasuk mobil-mobil operasional yang “wuah keren betul untuk ukuran kita”.

Rumah Sakit lapangan dengan bentuk tenda itu dibangun Angkatan Bersenjata Jerman. Relawan-relawan asing dari berbagai bangsa hilir mudik di titik-titik bencana baik untuk bekerja membersihkan puing, mendata maupun mendokumentasikan berbagai hal. Pendek kata, Banda Aceh menjadi kota Internasional yang didatangi oleh banyak orang dari berbagai bangsa di dunia dan mereka bekerja sebagai relawan yang serius.

Pada kesempatan berbincang dengan banyak kalangan di Banda Aceh, umumnya mereka menaruh hormat dan respek terhadap kerja dari relawan-relawan asing tersebut. Kenyataan ini membuat saya terperangah apabila mengingat beberapa waktu lalu pernah muncul berita tentang keberatan adanya pasukan dan relawan asing yang bekerja di Tanah Rencong.

Fakta ini sedikit menambah keyakinan, bahwa omongan tokoh politik atau para pengamat sering tidak sama dengan rasa dan hati rakyat kebanyakan. Salah seorang staf lokal kami malah berguman, “Pengamat yang banyak omong suruh datang ke Aceh, evakuasi tuh mayat-mayat dan beresin lumpur-lumpur …bisanya cuma ngomong…!!”

Saat malam tiba, kami tidur dan beristirahat di Posko PT Arun yang terletak di Ulee Kareng, pinggiran kota Banda Aceh. Posko itu merupakan sebuah bangunan pemerintah yang tak terpakai, dan dengan sedikit polesan, tempat itu kemudian menjadi posko sederhana.

Di posko sekaligus gudang itu, tersimpan barang-barang yang setiap hari dibagikan oleh mobil pick up PT Arun ke titik-titik pengungsian. Beberapa barang yang dibagikan berasal dari bantuan Persaudaraan Muslim Malaysia. Packing barang bantuan dari saudara-saudara kita di Malaysia demikian rapi. Tiap kotak telah disablon, lengkap dengan tulisan asal sumbangan, isi dan jumlah paket yang ada di dalamnya. Saya langsung teringat kotak-kotak bantuan dalam negeri yang masih ditulisi spidol, diikat tali rafia, atau kalau agak rapi dikit menggunakan lakban.

Yang lebih parah, lembaga asing membangun tenda untuk menampung aktivitas relawan guna membantu masyarakat Aceh, seperti pendirian posko kesehatan, pendidikan, konsultasi psikologi dan lain-lain, sementara lembaga kita lebih menonjol dalam hal menaikkan dan memasang spanduk, untuk menyatakan “kami pernah datang dan sekarang tinggal kenangan.”

Lama saya termenung. Saudara serumpun telah demikian jauh meninggalkan kita dalam hal manajemen dan etos kerja. Dr. Tri Joko, teman seperjalanan, coba menghibur saya; “Ya… mereka ‘kan telah berpengalaman menyalurkan bantuan…jadinya lebih rapi lah.”

Kegalauan itu terus ada di dalam pikiran dan hati, sampai saya bertemu dengan tokoh penting di Pemprov NAD. Beliau bercerita sambil memuji bagaimana relawan-relawan swasta Indonesia, seperti teman-teman dari FPI yang memiliki etos kerja luar biasa, mampu mentransformasikan semangat “jihad” ke dalam kerja sosial di Aceh.

Teman-teman FPI menjadi buah bibir dan dihormati oleh hampir semua pihak di Aceh. Gaya mereka yang bersahaja, tidak banyak omong dan sanggup bekerja keras telah mencuri hati rakyat Aceh. Di Banda Aceh kiprah teman-teman dari Partai Politik yang terjun membantu dengan tidak banyak omong, juga menjadi “trade mark” kesuksesan Parpol mengambil hati melalui perbuatan bukan dengan omongan atau sekadar janji.

“Kerja baik-baiklah sekarang, bantu rakyat Aceh agar pada pemilu nanti tak perlu capai-capai omong sana omong sini untuk kampanye,” demikian kira-kira kiat teman-teman dari Parpol untuk memperoleh simpati rakyat Aceh.

Pada malam terakhir kami berada di Banda Aceh, sempat kami bersantai di salah satu kedai kopi di pusat kota. Saat ada waktu untuk bersantai, Yohandromeda Syamsu, rekan satu tim, mencoba menghubungi teman relawan yang selama ini telah menjalin kerjasama dengan Radar Banjar Peduli. Ketika mereka datang, saya terperangah dengan penampilannya yang belia, cemerlang, intelek dan terlihat berpikiran lurus. Lembaga sosial yang dipimpinnya relatif besar dan ternama, program kerja yang mereka rancang dari brosur yang kami baca, menunjukkan mereka intelek dan profesional, sekaligus serius.

Pada malam terakhir itulah tensi rasa kesal terhadap diri sendiri dapat menurun drastis. Dalam hati saya; “Setidaknya Indonesia masih ada…”. Kita masih memiliki orang-orang muda kreatif yang sanggup bekerja profesional dan berpikir lurus. Kita masih punya manusia-manusia yang sanggup bekerja dengan peralatan dan fasilitas seadaanya dengan semangat “jihad”. Kita masih punya teman-teman Partai Politik yang berkampanye dengan contoh perbuatan dan tindakan bukan sekadar omong dan janji.

Tanah kita kaya. Alamnya elok. Budaya kita eksotik dan memukau. Pada malam-malam terakhir itu, menetes air mata saya mengenang Indonesia permai yang saat ini berduka.

Wallahu’alam bisawab

Post a Comment

Email Anda tidak akan ditampilkan. Anda harus mengisi kolom bertanda *

*
*