headermask image

header image

Pendidikan Kita?

Bismillah ar-rahman ar-rahim

Nomer satu, Number One atau The First secara universal adalah ungkapan yang menggambarkan keunggulan. “Japan is number one !”, adalah kalimat heroik yang diteriakkan para eksekutif Jepang sebagai spirit persaingan pada beberapa dekade lalu, dan kemudian terbukti, mereka mampu mengguncang dunia. “We Are The Campions” salah satu lagu terkenal dari kelompok legendaris The Queen, dalam beberapa Vidieo Clip, lagu itu juga memakai angka satu sebagai simbol kejawaraan. Angka satu sebagai merek keunggulan, merupakan sebuah “aksioma” yang dipahami dan dibenarkan hampir semua orang.

Chaca Handika seorang penyanyi dangdut, beberapa tahun yang lalu telah memutar balikan hegemony, angka satu sebagai merek keungulan menjadi simbol yang menyedihkan. Simak beberapa baris lagu dengan judul “Angka Satu” yang pernah dinyanyikanya itu . “Masak-masak sendiri, Makan-makan sendiri…….. hidup sendiri…….bagai angka satu”. Sebuah penemuan tetang renungan kehidupan yang sangat filosofis, matematis dan luar biasa.

Prolog di atas merupakan sebuah gambaran tetang betapa kelirunya pengklasifikasian sosial, jika hanya didasari oleh sebuah “prasangka subjektif”. Dangdut adalah musik yang cenderung hanya berhubungan dengan selera rendah atau erotisme, merupakan sebuah stempel yang telah dicapkan dengan semena-mena, entah oleh siapa? Mungkin “stigma” itu sekarang telah banyak berkurang kadarnya, tapi bekas jejaknya masih jelas terasa. Pada beberapa komunitas ungkapan “dasar, kaya penyanyi dangdut loe”, adalah sebuah kalimat sindiran yang bernada menghina, atau melecehkan.

Seorang teman yang doyan musik, pada sebuah obrolan pernah berucap; “Musik yang paling tinggi nilai jualnya adalah dangdut, musik yang paling progresif dan inovatif dalam penyajian dan pencarian celah pasar juga dangdut”. “Akan tetapi banyak diantara kita masih malu-malu mengakui dangdut adalah musiknya orang Indonesia”. Soal tidak tau dimana kita berdiri, siapa kita ini, atau malu mengakui diri sendiri, adalah penyakit kronis yang sebenarnya sangat berbahaya. Fenomena dangdut adalah sebuah contoh yang mungkin pas untuk menggambarkan penyakit “lupa diri” itu.

Bahwa kita telah lupa diri secara bersama-sama (tapi bukan teler bareng loe) adalah sebuah kenyataan yang sukar terbantah. SDM adalah perlu, hanya dengan SDM yang handal kita mampu keluar dari krisis, retorika ini sudah lama, bahkan bosan kita dengar, nyatanya berapa sich anggaran yang keluar untuk urusan SDM ? (Kecil boo). Tapi jangan pula salah tafsir, pembiayaan atau pengeluaran SDM dalam arti agregate (keseluruhan), jangan hanya dikaitkan dengan APBN dan APBD saja. Belanja negara dari sudut pandang pengeluaran secara luas, harus pula memperhitungkan pengeluaran masyarakat, selain belanja pemerintah. Untuk melakukan uji petik secara sederhana terhadap hal tersebut, dapat dibuat beberapa bertanyaan sebagai berikut : Berapa banyak uang yang kita dikeluarkan untuk membeli buku, jika dibanding dengan baju, celana, bedak atau lipstick?. Berapa besar perbandingan investasi pendidikan atau pengetahuan jika dibanding dengan biaya “hiburan” kita?.

Dari perbandingan itu, saya yakin sukar rasanya menghindar dari kenyataan bahwa kita umumnya adalah orang yang lupa diri. Lebih parah lagi, tidak sedikit yang “nyap-nyap” ketika diminta yumbang untuk kemajuan atau peningkatan mutu SEKOLAH DASAR dimana sang buah hati menuntut ilmu. ( padahal doi orang berada) “Kan anak SD bebas SPP!”. “Kalau begini jelas pungutan ilegal!”. “Hal ini akan saya tulis dikoran!”. “Kalau perlu saya laporkan langsung ke Walikota!.” Kemarahan jenis atau model ini, adalah hak setiap warga negara, tapi tolong diingat, yang dipersoalkan tidak jarang, hanya sekedar untuk membayar honor guru pelajaran tertentu yang tak tersedia disekolah, dan besarnya jauh dibawah UMR.

Kita lupa diri, bahwa pendidikan itu penting, menghargai pendidikan berarti mau berkorban untuk itu, kalau hanya karena LIMA BELAS RIBU RUPIAH perbulan, kita merasa keberatan untuk kemajuan pendidikan anak, padahal berpenghasilan kita “200 kali lipat” dari itu, mau ngomong apa lagi?. Atau dalam komunitas yang besar, tidak banyak orang yang merasa sedih begitu mendengar ada guru yang honor mengajarnya hanya dibayar LIMA PULUH RIBU RUPIAH perbulan. LIMA PULUH RIBU ITU, jika dikomparasi nilainya, hanya setara dengan separo harga blue jeans kwalitas cukup. Seoarang teman baik saya, pernah menulis judul tulisan “NASIB GURU DITANGAN BANGSA DURHAKA”, saya tidak berani membaca tulisan tersebut, karena turut merasa menjadi bagian dari dosa dan durhaka yang menyesakan itu…….. Semoga tuhan mengampuni saya yang berdosa, durhaka dan lupa diri ini….Amien.*

Wallahu’alam bisawab

One Comment

  1. Esai ringkas padat yang cantik

    1. Ersis W. Abbas on October 5th, 2007 at 7:30 pm

Post a Comment

Email Anda tidak akan ditampilkan. Anda harus mengisi kolom bertanda *

*
*