Bismillah ar-rahman ar-rahim
MANAJEMEN kan, suatu usaha bersama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan mengelola sumber daya di lingkup organisasi dengan sebaik-baiknya. Lalu dari mana datangnya istilah manajemen masing-masing ini dan apa maksudnya?
Tulisan ini diilhami oleh perseteruan antara BPK-RI dengan Ketua MA , yang berujung perdamaian setelah Presiden SBY turun tangan. Sebagai masyarakat awam sungguh saya merasa heran dengan prilaku elite pemerintahan kita. Bagaimana mereka bisa bertikai satu dengan yang lain dan hasilnya sudah bisa di prediksi oleh kita-kita ini.
Jadi tindakan mereka sungguh malu-maluin, coba bayangkan yang di laporkan oleh ketua BPK-RI adalah Ketua MA kepada Polisi. Alasan pelaporan; Karena MA tak mau di audit oleh BPK-RI, soal salah atau betul tindakan MA atau BPK itu adalah persoalan lain, persoalan utamanya adalah tidak adanya kesamaan Visi antar sesama lembaga tinggi negara.
Seandainya saja laporan dari Ketua BPK-RI itu ditanggapi dengan sigap oleh Polisi, lalu disidik dan diteruskan ke Kejaksaan, yang kemudian P-21 lalu disidangkan kemana? Apa berani Pengadilan Negeri menyidang petinggi mereka sebagai pesakitan, ditengah suasana profesionalisme yang masih tanda tanya, karena konon karier sebagai hakim masih belum murni ditentukan oleh prestasi mereka semata.
Lalu jikalau Polisi lambat menyidik, hal ini akan jadi bulan-bulanan pers atau LSM, tentang kelambanannya itu, sementara karena yang disidik adalah pejabat negara maka Polisi harus berkirim surat meminta izin/persetujuan kepada presiden melalui Setneg, betapa merepotkan nya pekerjaan ini, sementara hasil akhirnya telah dapat ditebak bersama…. Jadi laporan Ketua BPK-RI itu hanya ngerepot-ngrepotin aja.
Sesama lembaga tinggi negara kok bertikai dan diumumkan kepada publik. Saya coba merenung mengapa kejadian menyedihkan ini bisa terjadi ? Mungkin benar guyonan salah seorang pakar politik; Bahwa Indonesia tidak mungkin keluar dari krisis, jika para etite pemerintahan, politik, ekonomi dan sosial, tidak mampu menghentikan perseteruan diantara mereka, artinya ”Kompak gitu loe”.
Seandainya antara BPK-RI dan Ketua MA memiliki jalinan koordinasi yang baik, tentu persoalan perbedaan persepsi ini bisa dibicarakan dengan baik pula. Jika tidak terdapat titik temu antara mereka berdua, maka persoalan ini bisa dilaporkan kepada Presiden. Selanjutnya Presiden dapat meminta pertimbangan Mahkamah Konstitusi untuk menyelia perbedaan persepsi dua lembaga tinggi negara ini. Jadi tak perlulah di umumkan kepada publik, kalau hasil akhirnya telah dapat diduga hanya bersalaman saja di hadapan presiden dan di foto oleh para wartawan.
Buruknya koordinasi dalam pemahaman manajemen antar dua lembaga tinggi negara ini disadari atau tidak pada akhirnya melahirkan dampak:
- Kepercayaan masyarakat kepada MA merosot tajam karena laporan Ketua BPK-RI kepada Polisi. Padahal pemerintahan yang baik harus dilandasi oleh penataan hukum yang baik pula, dan hal ini hanya dapat diraih jika kredibilitas Pengadilan (MA) baik dimata masyarakat, disamping kinerja para hakim harus juga baik.
- Merepotkan beberapa pihak terutama aparat kepolisian, dalam hati mereka tentu bergumam yang kira-kira demikian bunyinya, ”Mau diapkan laporan ketua BPK-RI ini ?”
- Melahirkan guyonan ”Jangan-jangan kejadian ini adalah trik dari Presiden SBY, agar populeritasnya tetap terjaga, dengan memperlihatkan kewibawaannya dalam mendamaikan perseteruan antara Ketua MA dan BPK-RI”
Pada akhirnya mendorong ketidak percayaan rakyat terhadap pemerintahan, ini menurut pendapat saya… bagaimana dengan Anda? ***
Wallahu’alam bisawab



















BlogoSquare