
Bismillah ar-rahman ar-rahim
SABTU malam tepatnya pada tanggal 29 September 2007, seniman sastra Kota Banjarbaru kembali mengelar acara rutin tahunan di setiap Ramadhan, dengan nama Malam Tadarus Puisi, tema acara pada tahun ini Zegezegeze (Tuhan do’a serta dan gumam kami berlapis-lapis), mengutip salah satu baris dari puisi Bung Tarji sang Presiden Penyair Indonesia.
Acara ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi sastrawan di Kalimantan Selatan, berkaitan dengan acara di kota tempat ku berdiam, aku menjadi teringat salah satu kolom di harian Radar Banjarmasin yang berhubungan dengan sastra Koran “Nanang Kelelepon” judul besar dari kolom itu.
Beberapa tahun lalu saya pernah diminta memberikan komentar tentang kolom itu, sayang tulisan saya tidak pernah diterbitkan karena adanya persoalan manajemen dalam penerbitan buku Nanang Kelelepon tersebut. Jadi untuk turut memeriahkan silaturami sastra, rancangan komentar saya tentang kolom nanang kelelepon itu akan saya sajikan kembali pada blog berikut ini.
Agar tulisan tentang nanang kelelepon tidak kehilangan roh, maka disajikan dalam bahasa campuran yang khas dipakai oleh masyarakat Banjarbaru dan sekitarnya, namun para pembaca dapat menyimak beberapa kata khas banjar melalui keterangan dibawah tulisan ini;
Secara pribadi saya memandang; telah terjadi peleburan yang bersifat luar biasa secara sosial antara urang Bajarbaru dan Urang Martapura. sebagai sebuah pemunculan kenyataan, dan telah lahir lapisan kelompok masyarakat baru. Sebagai bagian dari sebuah kesatuan budaya, sangat banyak perubahan yang terjadi dari urang Banjarbaru dan urang Martapura. Di masa saya kecil dulu, sekitar tahun 70an, terlihat cukup jelas style atau gaya urang Banjarbaru dan Martapura yang berbeda. Urang Banjarbaru dengan trade mark Pegawai Negeri, Tentara, Polisi, pegawai PLN, Telkom, Pos Giro atau Bank, serta mahasiswa . Urang Martapura dikenal sebagai pedagang sekaligus komunitas islam tradisional yang dalam bahasa sosiologi dikenal sebagai kaum santri.
Pada saat ini agak sulit bagi kita untuk mengklasifikasikan perbedaan yang ada pada dua kelompok masyarakat tersebut. Seiring dengan derasnya proses pembauran diantara kedua kelompok tersebut. tentang terjadinya proses pembauran sosial urang Banjarbaru dan urang Martapura serta masuknya pengaruh tambahan dari kaum pendatang baru.
Melalui fakta empirik dapat dilihat urang Martapura semata-mata tidak lagi ber-trade mark pedagang dalam lingkungan komuditas Islam tradisional, sebaliknya urang Banjarbarupun demikian pula, Selanjutnya kita tidak boleh lupa pula style atau gaya urang Pahuluan telah sangat banyak merasuk dalam keseharian urang Banjarbaru dan urang Martapura.
Gaya atau budaya yang telah bercampur baur inilah yang menjadi patron dari cerita Nanang Klelepon ini. Ide dan penggarapan Nanang Klelepon memang dibidani generasi baru dari komunitas urang Banjarbaru dan urang Martapura, seperti saudara Mahfuz Abdullah, yang urang Kandangan yang lawas begana di Banjarbaru, Ramli Arisno Urang Jawa yang lawas begana di banua Banjar atau Deni Setiawan urang Martapura yang sempat mengecap pendidikan Sekolah Islam dan sekarang ber style metropolis.
Nanang Klelepon ditilik dari sisi bahasa tentu akan dianalogikan sebagai kenanakan Martapura karena wadai klelepon sampai saat ini bagi masyarakat Kalimantan Selatan identik dengan Martapura. Namun jika dilihat dari tutur atau akar dari gaya bahasa Nanang Klepon, sering kali lebih mirip dengan style urang Pahuluan, pada kesempatan lain Nanang Klepon ber-style sebagai urang Jawa perantauan.
Sesuatu yang fenomenalogis, sepanjang yang saya baca, sangat sedikit seri Nanang Klelepon yang ber-Joke atau bertutur dengan akar budaya urang Martapura Tradisional, seperti guyon khas, style bahasa sampai penyebutan kampung khas Martapura, seperti; urang kampung melayu, urang kraton, Urang Breman atau urang kampung Jawa.
Nanang Klepon sesungguhnya adalah bayang-bayang dari masyarakat yang terus tumbuh dan berubah, baik dari sisi gaya hidup atau budaya, sehingga penamaan Klelepon pada Nanang, Puracit pada Rudy sesungguhnya adalah realitas dari kekinian. Cerita pendek ini mengisyaratkan walaupun klelepon identik dengan Martapura namun yang berdagang dan tempat berdagangpun tidak lagi selalu identik dengan Martapura. Hal ini terjadi pula dengan ketupat kandangan atau rendang padang.
Dalam menjalani hidup saya memiliki beberapa pengalaman menarik, seorang teman bersuku Batak dan bermarga Siregar, namun tutur katanya lembut mirip orang Sunda padalah ia seorang Polisi yang dalam pikiran saya dan mungkin anda biasanya “sangar”. Saya pun memiliki seorang teman, Hadi Purwanto namanya keturunan orang Jawa, wajah dan namanya memang sangat bercorak Jawa, namun ia lahir dan besar di Kandangan karena ayahnya tentara, yang bertugas di sana, hasilnya…. tempramen dan typikalnya benar-benar “khas urang kandangan”.
Catatan-catatan tersebut telah menggambarkan dalam sekala kecil kita dapat merekam terjadinya proses asimilasi, duplikasi sekaligus globalisasi dari kehidupan di sekitar kita. Apa yang dibuat oleh orang-orang muda pencetus dan penulis cerita pendek Nanang Klelepon, menurut pandangan saya, salah satunya ingin memotret kenyataan pergeseran budaya tersebut.
Generasi baru dengan gaya hidup yang tak lagi kental dengan budaya asal, karena mengalami pergeseran dan asimilasi dengan gaya hidup dan budaya lain, merupakan typikal khas urang Banjarbaru yang berada disebuah Kota terbuka. Haji Amak sebagai salah satu tokoh yang sering di tulis dalam cerita pendek Nanang Klepon merupakan typikal orang muda Banjarbaru yang telah naik haji namun tidak menggambarkan sosok “Pa Haji” sebagaimana dalam sketsa imajiner Islam tradisional.
Haji Amak sosok seorang yang usianya tidak terlalu muda namun juga belum dapat dikatakan tua, artinya masih sepantaran saja dengan Nanang Klepon Cs. Cara berpakaiannya biasa saja , prilakuknya-pun relatif masih suka begayaan. Ciri fisik Haji Amak tentu saja lamak ganal kalau tidak agak tambum. Haji Amak digambarkan berciri sosial suka mentraktir kecil-kecilan, yach termasuk bos dalam skala kecillah. Pada beberapa seri Haji Amak dijadikan papantul artinya atas tindakan dan keputusannya karena informasi yang mehalabiu dari Nanang Klelepon, akhirnya menimbulkan kelucuan karena tokoh lain atau dirinya yang tertipu alias tabunguli.
Wallahu’alam bisawab
Keterangan:
Urang = Orang berkaitan dengan asal tempat tinggal/kelahiran
Wadai = Kue/Jajanan
Tabunguli = Tertipu dalam konteks dipermainkan
Papantul = Sebagai objek kelucuan
Mehalabiu = Semacam joke, yang berkaitan dengan humor
Begayaan = Bercanda
Lamak = Gemuk
Puracit = Salah satu kue tradisional orang banjar
Kenanakan = Anak muda
Pahuluan = Sebutan untuk masyarakat perantau dari Hulu Sungai



















BlogoSquare
2 Comments so far (Add 1 more)