Bismillah ar-rahman ar-rahim
Secara tidak sengaja ketika mengutak-atik file lama di komputer, saya membuka sebuah lagu lama Iwan Fals, jika tidak salah berjudul “Willy”, mungkin maksud dari sang penyanyi adalah WS Rendra yang kerap dipanggil dengan sebutan Willy.
Mungkin saja sang penyanyi ingin menyapa koleganya yang sama-sama berani bersuara lantang, ketika zaman masih memasung. Saya terkesima ketika menyimak syair lagu itu, Iwan Fals dengan sangat lantang berani menyuarakan protes keras walau terbalut dengan kata-kata puitis, namun semua orang juga tahu maksud lagu tersebut.
Lagu itu dinyanyikan dengan penuh makna pemberontakan yang sangat menusuk, coba kita perhatikan syair lagu itu;
Si anjing liar dari Yogyakarta apa kabarmu ?
Kurindu gong-gongmu yang keras hantam cadas?.
Si kuda binal dari Yogyakarta sehatkah dirimu?
Ku rindu ringkikmu yang genit memaki onar!
Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suara mu?
Si mata elang dari yogyakarta resahkah kamu?
Ku rindu sorot mata mu yang tajam belah malam!
Dimana rucing kokoh paruh mu?
Tetapkah angkuh menghadang keruh?
Masih sukakah kau mendengar dengus nafas saudara kita yang terkapar?
Masih sukakah kau melihat butir keringat kaum kecil yang terjerat?
Oleh slogan-slogan manis sang hati laknat!
Oleh janji-janji mulut tanpa bukti !
Dimana kini kau berada ?
Tetapkah nyaring suara mu?
Dimana runcing kokoh paruhmu?
Tetapkah angkuh menghadang keruh?
…………
Iwan Fals dan WS Rendra adalah dua sosok seniman yang terlahir pada dua masa yang berbeda. Namun keduanya memiliki kesamaan pandangan pada masa Orde Baru itu. Mereka juga mengeluti dua jenis seni yang berbeda. Yang satu seorang penyanyi terkenal, yang seorang lagi sastrawan top dan sering membaca puisi dan ditonton banyak orang. Namun segala macam perbedaan itu coba dilebur dalam lirik lagu tadi.
Artinya melalui proses asimilasi sosial, mereka mampu melebur melalui kontak imajiner segala perbedaan, guna mencapai tujuan bersama. Mereka menyatuka hati dan langkah guna menentang segala macam penindasan, melalui panggung hiburan tentunya. Sebagai tambahan informasi lagu ini dinyanyikan jauh, sebelum group “Kantata Taqwa” terbentuk, Kantata Taqwa adalah kolaborasi, dari dua seniman ini dalam satu team pada panggung pertunjukan.
Artinya segala fenomena pada Iwan Fals dan WS Rendra pada akhirnya menemukan satu titik yang disebut “Musuh Bersama”. Secara perlahan Iwan Fals dengan lagunya yang mengkritik ketidakadilan, WS Rendra dengan puisi dan Theater nya yang tidak jauh berbeda dengan itu, pada akhirnya melahirkan image bahwa pemerintahan Orde baru penuh dengan penindasan. Lahirnya pemahaman Orde Baru adalah “musuh bersama” , pada akhirnya berakibat tubangnya rezim Soeharto.
Peristiwa yang melegenda dengan istilah reformasi, melalui gerakan people power yang mencengangkan dunia. Betapa tidak ABRI yang demikian kokoh dan kuat itu, diprediksi akan mem Back Up habis-habisan pemerintahan Orde Baru, diluar dugaan banyak orang, ABRI menjadi bimbang ketika berhadapan dengan rakyatnya sendiri, sehingga mereka enggan menempuh jalan kekerasan.
Keraguraguan bertindak keras, mungkin juga ditunjang dengan kondisi Pa Harto yang semakin menua pada saat itu. Atau ABRI masih memiliki nurani, bahwa mereka adalah bagian dari rakyat indonesia juga, saya memilih berpendapat seperti itu, karena ABRI juga merasakan ketidak adilan system yang telah dibangun, walaupun beberapa diatara mereka memperoleh keutungan dari ketidak adilan itu, namun mayoritas merasakan ketidak adilan tersebut
Jika peristiwa reformasi ditelaah rantainya sangatlah panjang. Coba kita bayangkan betapa kokohnya Orde Baru, mereka sanggup mendesain dan membangun satu sytem politik, birokrasi, dan TNI dalam satu payung monoloyalitas. Sementara gerakan perlawanan rakyat tidak memiliki sumber dana dan senjata jadi perlawanan hanya berawal dan bermodal pikiran dan kenekatan saja.
Betapa pentingnya pembangunan Image tetang “Musuh Bersama”, seperti yang telah dilakukan oleh Iwan Fals dan WS Rendra, adalah sejarah yang tak terbantahkan. Walaupun mereka mungkin hanya noktah dari sebuah gambar besar dari proses penciptaan musuh bersama itu. Musuh bersama adalah idiom penting dalam pencapaian tujuan negara atau dalam bahasa yang lebih netral disebut dengan komitmen bersama.
Lalu apa komitmet bersama kita pada saat ini? Jika kita menyebutkan akan mencapai masyarakat adil dan makmur, rakyat sudah bosan mendengar ungkapan itu. Lalu apa lagi ? Jika kita menganggap korupsi adalah musuh bersama, langkah sosial apa yang telah kita lakukan ? Dan pertanyaan ini harus dijawab dengan rancangan serius dari pemerintahan yang ada. Misalkan pemasyarakatan sikap anti Korupsi harus disosialisasikan dengan sungguh-sungguh kepada masyarakat luas.
Pentahapan pencapaian tujuan penting untuk disadari, karena penciptaan image tidak dapat berjalan dengan tiba-tiba. Jika coba melihat dengan objektif, korupsi dan penyelewengan telah berkecamuk disekitar kita, mungkin sejak kita dilahirkan dan boleh jadi kita adalah bagian dari segala proses itu.
Misal ketika kita melanggar lampu merah, lalu ada polisi yang melihat, langkah pertama yang akan diambil oleh sebagian besar dari kita adalah mengajak damai atau “sidang ditempat”. Ketika penerimaan Siswa baru sangat banyak orang tua murid yang mencari jalan pintas demi “anak kesayangan nya” Jadi menurut pikiran saya kita sudah demikian terbiasa membuat pelanggaran dan mencoba membenarkan dengan berbagai dalih.
Sehingga ketika jika kita menetapkan korupsi sebagai musuh bersama. Perlu ditetapkan langkah-langah yang harus diambil secara bertahap, pertama memperbaiki kredebilitas aparat penegak hukum. Sebab bagaimana rakyat dapat tertib, jikalau image aparat penegak hukum masih jadi pertanyaan. Kedua penertiban pada level atas sehingga dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas.
Ketika BPK mengeluarkan larangan memberikan THR pagi PNS langkah ini sungguh kontraproduktif dari sisi penataan system anti korupsi, karena justru dapat melahirkan antipati dari kalangan luas terhadap gerak pemberantasan koprupsi. Selanjutnya yang mutlak diperlukan adalah sosialisasi bahwa korupsi itu adalah racun yang mematikan bagi bangsa ini, melalui langkah terpadu dan bertahap ini, diharapkan pada generasi yang akan datang, korupsi akan jadi tinggal kenangan di Indonesia tercinta ini. Sanggupkah kita melaksanakannya?
Wallahu’alam bisawab



















BlogoSquare