headermask image

header image

Satu Tanya Tentang Logika Kita…

Bismillah ar-rahman ar-rahim 

Pada bulan April tahun 2002 Singapura telah menutup pelayanan telegram dinegara itu. Kebijakan ini merupakan langkah dengan makna  sangat revolusioner.  Telegram sebagai alat komunikasi yang sangat penting dalam kurun waktu yang begitu lama,  oleh Singapura telah dirasa cukup kiprahnya,    E-mail, SMS, Fax atau pebicaraan langsung melalui telepon, di  era cyber ini ,dirasa jauh lebih praktis dan efektif untuk berkomunikasi. Dengan Back Up teknologi memadai, wilayah teritorial sempit serta SDM yang sangat baik, Singapura dengan tegas menarik garis demarkasi, antara era komunikasi analog yang konvensional ke era digital.

Proses yang terjadi di Singapura pada hakekatnya juga terjadi di seluruh belahan dunia, Revolusi Informasi dan Komunikasi adalah bagian dari The New Wave Era seperti dikemukakan Alvin Toffler.  karenanya Geliat The High Way Tranportation terasa semakin deras dari hari ke hari. Namun apa yang terjadi Singapura  terhitung sangat cepat jika disandingkan  dengan Indonesia (misalnya). Sadar atau tidak revolusi informasi dan komunikasi telah hadir  ditengah kita. sekedar ilustrasi pada awal tahun 2000an telpon selular adalah sebuah barang mewah yang dapat dijadikan lambang status.  Kini telepon selular  nyaris hanya menjadi alat komunikasi belaka.

Demikian mudahnya orang  berkomunikasi dan memperoleh informasi dari berbagai tempat dibelahan dunia. Kemudahan ini merupakan  peluang yang sekaligus dapat berubah menjadi ancaman bagi Indonesia sebagai sebuah bangsa. Melalui komunikasi bebas hambatan siapa saja dapat mengakses jurnal penelitian, berita-berita penemuan atau sekedar melihat foto artis terkenal. Namun dengan hal yang sama dengan mudah seseorang membuka situs pornografi dari A s/d Z bahkan kursus kilat menjadi teroris lengkap dengan carai meracik bom.

Keterbukaan informasi  dalam dua dasawarsa ini, telah mengalami perubahan yang luar biasa. Di era 80an, Cony Semiawan seorang tokoh pendidikan, mendapat kecaman yang demikian hebat karena memberikan pengantar buku “Adik Kecil”. Buku yang diributkan adalah sebuah terjemahan naskah standart  pendidikan seks (usia dini) di Eropa Barat. Akan tetapi saat ini dapat kita saksikan di rubik surat kabar, Talk Show di Radio atau TV, pendidikan seks  merupakan topik sangatlah  populer dengan ratting tinggi. Perbincangan tentang seksi demikian mudah di simak, di binacangkan atau kita baca. Bisa jadi Cony Semiawan tertawa  atau sebaliknya tersenyum sinis melihat fenomena perubahan nilai yang sangat dahsyat .

Kemudahan arus informasi dan komunikasi harus dipandang sebagai sarana untuk berkompetisi di era yang kian menglobal ini. Jika perkembangan komunikasi informasi hanya dipandang sekedar mode, kita telah terperosok menjadi orang-orang konsumtif  yang akan menjadi “pesuruh” di era datang. Kita pakai pulsa untuk mengakses data, kita pakai software untuk load atau browse data, kita anu, kita itu. yang sekarang harus menjadi pertanyaan: dari hardware satelit, komputer modem atau printer siapa yang “produksi”, lalu software untuk urusan itu, dari A-Z siapa yang membuat. Oke kita bisa berkilah “inikan upaya mengejar ketinggalan”, namun jika kemudahan informasi dan komunikasi lebih banyak digunakan untuk “berselancar” pada “selebritis cyber”, keadaan ini semakin menguatkan  dugaan kita akan tetap menjadi sapi perahan pada era komunikasi dan informasi ini.

Suatu ketika dalam sebuah perjalanan saya bertemu dengan beberapa wirausahawan muda dari negara jiran, mereka datang dengan membawa konsep berfikir, metode pemasaran serta sofware komputer dan bukan uang, saya meyakini orang-orang seperti mereka inilah yang kelak akan menguasai dunia perdagangan global. Mengapa telah terjadi disparitas yang sangat hebat antar para pemakai teknologi. Melalui sofware yang sama, komputer yang  tidak terlalu berbeda, pulsa yang juga sama,  telah terbelah dua kelompok manusia. Satu kelompok mereka yang produktif sedangkan kelompok lainnya adalah mereka yang konsumtif. Kita menjadi sangat menyesal ketika menyadari demikian banyak para muda kita menjadi kelompok yang sangat konsumtif.

Pemahaman kita tentang hakikat dari pendidikan adalah jawaban dari semua itu. Ketika pendidikan hanya dianggap sebagai formalitas belaka spirit untuk menemukan sesuatu yang baru tak lagi dirasa penting. Seseorang hanya merasa perlu lulus dari Pergutruan Tinggi atau Lembaga Kursus dengan IPK atau nilai bagus, agar gampang diterima bekerja. Pemikiran ini pada hakekatnya bukan salah namun belum paripurna. Pendidikan seharusnya mengajarkan seseorang agar memahami dan mampu mengembangkan disiplin ilmu yang ditekuninya bukan sekedar lulus dan dapat kerja. Mengapa mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan tidak dapat menghasilkan lulusan yang paripurna?. Harus diakui masyarakat kita disadari atau tidak, telah mengajarkan bahwa belajar dengan sungguh-sungguh dan pendidikan itu TIDAK PENTING!.

Akumulasi dari peremehan tentang proses pembelajaran dan pendidikan pada akhirnya melahirkan generasi yang “Un Logic” alias tidak memiliki logika yang baik. Sebagai contoh beberapa tahun silam  Polisi dikecam banyak pihak akibat tindakan yang kelewat refresif,  menghajar beberapa pekerja Pers. Mungkin karena merasa sangat bersimpati dengan rekan wartawan yang malang itu, salah seorang anggota DPR RI mengancam akan mengganjal Anggaran yang diajukan POLRI, lho?. Langkah ini Kelihatanya reformis sekali, namun jika ditelisik lebih jauh pernyataan tersebut lebih dilandasi  teriakan emosional, dan penyalah gunaan wewenang belaka atau pendek kata berasal  dari logika yang bengkok.

Dasar dari DPR menyetujui Anggaran (APBN) yang diajukan oleh pemerintah,  seharusnya dilandasi oleh  wajar atau tidaknya pengeluaran yang diajukan tersebut, atau perlu tidaknya pengeluaran itu. Bukan soal marah, setengah marah atau marah sekali suatu hal. Jika DPR RI merasa sangat marah atas tindakan aparat kepolisian, adalah sangat berkompeten jika mereka menuntut Kapolres, Kapolda bahkan Kapolri untuk  mundur, atau meminta dan mengawasi agar para yang bermasalah tersebut , diproses dengan serius hingga tuntas, bukan dengan main ancam terhadap anggaran yang diajukan.

Jika anggaran POLRI diganjal dengan dasar kemarahan belaka, sesungguhnya POLRI secara keseluruhan yang dirugikan (bukan mereka yang bersalah saja) yang lebih fatal pada akhirnya masyarakat yang akan menanggung akibat jika kinerja POLRI terganggu karena soal anggaran. Sebaliknya jika anggran POLRI disetujui berdasar perasaan senang belaka, sangat mungkin masayarakat jua lah yang  akan menanggung beban atas pemborosan yang terjadi.

Wallahu’alam bisawab
 

Post a Comment

Email Anda tidak akan ditampilkan. Anda harus mengisi kolom bertanda *

*
*