Bismillah ar-rahman ar-rahim
Beberapa SDN (Inpres) ditutup atau digabungkan karena kekurangan murid !, Demikian antara lain fenomena yang terjadi pada awal tahun 90 an hingga tahunan 2000an ini. Lebih dari itu terdapat pula SLTPN dan SMU Negeri yang juga mulai kekurangan pasokan murid.
Berbagai alasan dan penjelasan atau analisa yang kemudian menyertai fakta ini. Misal terlontar sebuah alasan berbau promosi seperti “ KB kita berhasil sehingga anak usia sekolah dasar dan menengah menjadi jauh berkurang” (wah hebat benar ya?). Namun pada situasi lain, orang tua rebutan bangku sekolah favorite untuk anaknya ketika tahun ajaran baru dijalankan.
Dalam situasi seperti ini sesungguhnya menarik sekali bagi saya, walau saya tidak merasa ahli dan berkompeten untuk turut berkomentar. Namun yang ingin saya ungkapkan adalah fakta, yang terjadi dimana saya lahir dan dibesarkan di Kota Banjarbaru.Ketika mulai mengenal pendidikan, saya mengetahui di tiap sudut Banjarbaru terdapat Sekolah Dasar.
Kala itu Banjarbaru sebagai kawasan pemukiman terbagi ke dalam dua katagori. Pertama Kawasan pemukiman (baru), yang dibangun mulai tahun 50an, kemudian kawasan pemukiman lama. Kawasan pemukiman baru ini terbagi menjadi empat bagian utama dan satu suplemen. Bagian utama disebut Banjarbaru I, II, III dan IV.
Sedangkan kawasan pemukiman baru (suplemen) antara lain Komplek Projakal (Proyek jalan Kalimantan – Kerja Sama antara Rusia dan Indonesia-), Komplek PLN (sampai sekarang), Komplek Aneka Tambang, Komplek Proyek Besi Baja, dan Komplek Asrama, TNI Polri yang tersebar di beberapa tempat. Adapun kawasan pemukiman lama adalah daerah yang kita kenal seperi Simpang Empat Banjarbaru, Cempaka, Guntung Payung dan Landasan Ulin.
Di masa itu ,dengan visi yang luar biasa para pembuat rencana tapak kota (site plane), telah menempatkan fasilitas umum dan cadangan lahan untuk utilitas kota lainnya pada posisi yang tepat dan berjangkauan jauh kedepan. Sebagai contoh Sekolah Dasar ditempatkan pada tiap titik pemukiman . Selanjutnya titik-titik pemukiman diletakan pada posisi yang “berjarak cukup ” dengan jalur transportasi ekonomi.
Strategi ini membuat kawasan pemukiman Banjarbaru menjadi relatif terjaga, artinya tidak cepat berubah menjadi kawasan “ekonomi atau bisnis”. Sehingga sekolah-sekolah tetap mendapat pasokan murid.
Kemudian karena SLTP dan SMU kala itu hanya dibangun satu buah saja, maka peletakannya berada di pertengahan antara Wilayah Barat Banjarbaru (Gutung payung-Landasan Ulin) dan Wilayah Timur Banjarbaru (Simpang Empat-Cempaka mungkin juga wilayah Martapura). Sebuah proses perencanaan yang matang ini, membuat sekolah-sekolah itu didirikan itu hingga saat ini tetap pada titik equbelirium (memperoleh keseimbangan sosial).
Jika kemudian pada beberapa waktu lalu terdapat Sekolah Dasar yang kekurangan murid dapat dipastikan sekolah tersebut adalah produk (inpres) yang perencanaan tata letaknya memang acak-acakan atau semau gue pada awal tahun 70 an.
Apa yang telah dilakukan para pendahulu merupakan sebuah “cindera mata” yang berharga. Walaupun pada saat ini proses ideal pada masa lalu sukar diperoleh, mengingat beberapa perubahan yang membuat sangat banyak “variabel” yang harus dikendalikan, namun paling tidak harus tetap ada oprang yang bersuara : Dalam merancang Kota, jangan hanya berpikir dimana letak pabrik, ruko dan seterusnya saja!.
Para desaigner kota harus dapat berpikir dengan seksama, dimana sebaiknya sekolah diletakan. Pemikiran ini harus terus mengemuka, jika Banjarbaru tetap ingin menjadikan dirinya sebagai kota yang memiliki sarana pendidikan yang memadai agar image sebagai Kota Pendidika masih tercium baunya.
Peletakan utilitas kota yang berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan dari sisi perencanaan ( yang saya ketahui biasanya hanya dibicarakan sepintas saja). Para perencana lebih senang memperbincangankan prospek ekonomi. Artinya mereka getol mendiskusikan peletakan sarana dan prasarana ekonomi, atau perencanaan dalam konteks pelestarian lingkungan.
Mengapa demikian?. Karena kalau orang piawai berbicara tentang rencana kawasan industri, pengembangan ekonomi, maka yg bersangkutan telah teridentifikasi sebagai pembaharu, atau orang yang dapat menjanjikan perubahan ekonomi. Sehingga kita terpukau dan merasa bersimpati. Mungkin ini adalah salah satu penyebab kita telah menjadi masyarakat konsumerisme dan materialistik.
Jika kemudian orang berteriak-teriak tentang perlunya kawasan penyangga untuk kelestarian lingkungan hidup, maka orang tersebut akan menjadi populer sebagai pahlawan lingkungan. Kepopuleran ini akan membawa dia diberitakan media masa bahkan mungkin mendapat perhatian luas dari negara donor.
Para pencinta ekonomi adalah penting, para pencinta lingkungan juga penting, namun yang sekarang merepotkan, kita sedang mencari-cari orang yang mau mencintai pendidikan, orang yang mau berpikir dengan serius, bahwa pendidikan itu penting. Jika terdapat ribu guru yang berjuang untuk pendidikan,itu adalah fakta, kemudian terdapat sekian banyak orang yang mendermakan uangnya bagi pendidikan, ini adalah juga fakta.
Akan tetapi, ketika kita mencoba membangun pendidikan melalui konstruksi yang komprehensif (menyeluruh) institusi pemerintah atau masyarakat kita cenderung tidak siap untuk itu.
Menurut saya ketika pendidikan akan diperbaiki atau dibangun, disamping penataan manajemen pendidikan yang bersifat ke dalam, harus pula didukung penuh oleh perencanaan–perencanaan disektor lainnya. Seperti mensingkronisasi letakan rencana kawasan pendidikan dengan rencana lainnya dalam penataan ruang.
Perencanaan ini tentunya harus dengan jelas dan terperinci serta argumentatif mengapa satu kawasan diletakan pada titik A bukan pada titik B.. Artinya dimana kawasan pendidikan diletakan, harus didasari oleh argumen seperti, kecukupan murid, transportasi serta dijaukan dengan kawasan yang tidak bersahabat dengan pendidikan.
Ketika Banjarbaru akan direncanakan berkembang ke arah Selatan, sebelum “terlanjur” selain ploting untuk kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi, permukiman bagi PNS, perdagangan dan jasa berpikirlah serius dimana kawasan pendidikan yang idealnya akan dibangun, dan berhitunglah dengan segala implikasinya?. Apa yang saya ungkapkan ini adalah riak kecil ditengah gelombang samudra, mudah-mudahan bisa dilihat dan didengar oleh para pakar pendidikan yang mulia serta dan para petinggi pemerintahan yang terhormat….amien.
Wallahu’alam bisawab



















BlogoSquare
One Comment