headermask image

header image

Pendidikan dan Fasilitas Publik

 

Bismillah ar-rahman ar-rahim 

Pendidikan dan Karakter Bangsa
Mengapa pendidikan penting?. Seorang dosen yang profesor mengatakan: “Pendidikan akan menciptakan efek berantai yang berdampak luar biasa”. Anarkisme, tindak main hakim sendiri yang marak di negeri ini, adalah buah dari pendidikan bahwa “Hukum itu tidak penting”, tuding-menuding soal pembagunan Bandara Syamsudin noor, pengerukan alur Barito, pembangunan siring sungai depan Mesjid raya dll, pada dasarnya adalah buah dari  pendidikan bahwa “kejujuran itu tidak penting”.

Baik atau buruk keadaan suatu bangsa, pada hakekatnya ditentukan bagaimana bangsa itu dididik. Pendidikan dalam pengertian luas bukan sekedar omong-omong tentang sekolah atau perguruan tinggi. Namun jargon membangun pendidikan tanpa memberi perhatian terhadap sekolah, lembaga pendidikan atau Perguruan Tinggi adalah “OMONG KOSONG”. Sekolah dan perguruan tinggi adalah basis terpenting dari upaya membangun pendidikan.

Akan tetapi mengartikan pendidikan hanya pada lingkup sekolah atau Perguruan Tinggi adalah pemikiran yang  jauh dari Komperhensif. Kita tidak akan pernah memperoleh generasi yang berkualitas, jika banyak diantara kita yang  berpikir “mendidik anak, adalah urusan sekolah”. Jika kita tidak memiliki kebersamaan untuk memerangi pornografi, sadisme, mistis pada televisi, maka pada hakekatnya kita turut andil  mendidik anak kita , menjadi generasi “cabul, sadis dan tak berpikir rasional”.

Prof.Bandura seorang pemikir pendidikan telah melukiskan bahwa “Pendidikan Sosial” adalah aspek yang berpengaruh terhadap karakter seorang anak, yang pada akhirnya menentukan “tabiat” sebuah bangsa!. Ivan Illich, Paulo Piere atau Alfred. Y. Raimer adalah para pemikir  yang sangat percaya bahwa “pendidikan”  tidak akan paripurna  hanya melalui sekolah.

Pendidikan Milik Siapa ?
Dalam kekinian pada saat orang berteriak tentang demokrasi atau otonomi daerah, adalah keliru besar jika tudingan tentang kurang greget dan tidak bermutunya hasil pendidikan,  hanya ditujukan kepada Dinas Pendidikan atau sekolah . Memang benar lembaga tersebut bertanggung jawab besar terhadap pendidikan,  namun perlu dipahami banyak pihak yang harus pula dimintai tanggung jawabnya.

Ketika Diskotiq, dengan dengan mudah menjaring pelajar melalu program “Ladies Nite”, siapa yang harus berteriak dan mengaku bertanggung jawab. Jelas Dinas Pendidikan atau lembaga pendidikan tidak memiliki kuku untuk “mencakar soal” soal seperti ini.
Merancang  pendidikan pada hakekatnya adalah merencanakan  kehidupan  itu sendiri , demikian salah satu ungkapan  dari kalimat mat filosoifis Al Gazali. Sehingga ketika persoalan pendidikan di jadikan wacana atau perdebatan publik. Adalah bagai katak dalam tempurung, jika kita hanya melihat, berapa persen APBD untuk  sektor pendidikan?. Sebenarnya adalah perlu sebuah analis yang menyeluruh tentang kebijakan pemerintah yang jika ditimbang-timbang  telah berpihak kepada pendidikan?. Ketika kota dibangun selain sekolah Apakah pemerintah juga memikirkan ruang publik, seperti taman, lapangan olahraga atau tempat jajan masal yang murah ?.

Fasilitas umum, adalah kelengkapan  yang harus dimiliki oleh kota atau pemerintahan yang menganggap pendidikan itu penting. Anak sekolah atau mahasiswa perlu tempat bercengkerama, berolahraga atau sekedar saling sapa ketika melepas kepenatan belajar. Omong kosong, pendidikan akan menghasilkan generasi berkualitas ketika anak sekolah harus pergi ke tempat hiburan remang-remang, karena tidak terdapat cukup ruang publik bagi mereka untuk sekedar berinteraksi. Bohong besar pendidikan akan bersifat paripurna ketika anak sekolah harus bermain bola di halaman pertokoan karena ruang publik  dimana seharusnya mereka berolahraga telah dirampas oleh rakusnya “pembangunan ” .

Kota dan Pendidikan
Kota pada dasarnya adalah kumpulan manusia yang memerlukan fasilitas seperti; gedung pemerintah, sekolah, plaza atau pasar. Pengertian ini menjadi sangat berbahaya jika logikanya dijungkir balikan menjadi “Kota adalah kumpulan bangunan yang perlu di isi oleh manusia”.

Pada pemahaman yang keblinger ini lah manusia dijadikan objek dari sebuah kota. Artinya kebijakan pembangunan dibuat, kemudian dicocok-cocokan dengan manusia yang ada di dalamnya. Sehingga jangan heran setelah sekian lama, baru beberapa tahun lalu Banjarbaru memiliki gedung dengan nama “PERPUSTAKAAN”, dengan kondisi seadanya jauh dari nyaman dan wah padahal demikian banyak pelajar, mahasiswa yang bermukim di kota ini dan sejak tahun 60an Banjarbaru didengung-dengungkan sebagai Kota Pendidikan.

Seyogyanya perpustakaan, halte, toko buku, warung makan atau rumah kost  adalah simpul-simpul pertemuan bagi pejajar dan mahasiswa. Jadi desainer kota harus memahami karakteristik itu, kemudian merancang kota agar sesuai dengan kebutuhan proses pendidikan tersebut.

Lalu apakah pengambil kebijakan telah sadar bahwa penyediaan ruang publik atau utilitas kota itu perlu untuk menyokong konsep pendidikan dalam arti luas?. Sulit untuk menjawab pertanyaan ini dalam tulisan yang terbatas, namun  ratusan anak-anak dan remaja yang  bergerobol menonton temannya mengadu nyawa melalui mesin pacu, di Lapangan aspal. Murdjani setiap sore pada akhir minggu, adalah tanda-tanda penting bagi para petinggi pemerintahan, untuk lebih serius menyusun rencana  ruang dan kegiatan publik yang lebih responsible. lho bagaimana dengan konsep Banjarbaru sebagai Kota Pendidikan…?. Capee deeeh mikirnya……

Wallhu’alam bisawab

3 Comments so far (Add 1 more)

  1. Pendidikan milik kita semua, milik mereka yang ingin terus belajar dan belajar, menggali dan memaknai hidup lebih dewasa.

    Setelah membaca wacana ini, saya hanya bisa ikut mendoakan, mudah-mudahan Banjarbaru bisa benar-benar menjadi kota pendidikan.
    Amien… :-)

    1. SQ on November 8th, 2007 at 9:03 am
  2. Susah memang memasukkan ke mindset orang (guru, pejabat, birokrat, etc) ‘meaning’ dalam jajaran lebih penting dari ‘materi’. Saya jadi agak pesimis, petinggi negeri ini banyak yang dongok memaknainya. Nulis trus ya kawan …

    2. Ersis W. Abbas on November 7th, 2007 at 2:31 am
  3. pendidikan terdahsyat sebenarnya adalah kehidupan. kitab-kitab suci bahkan hanya menjadi guidens, maka bacalah, bacalah, bacalah, kata Allah, menunjuk begitu banyaknya tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

    sayangnya, pendidikan kita masih terpenjara oleh sangat banyak aturan tentang kurikulum, keharusan pola dan metode yang top down, seolah anak di sudut kampung Martapura harus dijejali bahan pelajaran yang sama dengan anak di sekolah favorit di Jakarta.

    3. windede on October 31st, 2007 at 3:58 pm

Post a Comment

Email Anda tidak akan ditampilkan. Anda harus mengisi kolom bertanda *

*
*