headermask image

header image

Kretivitas Publik

Kartun model ini yang sekarang merajai dunia

Bismillah ar-rahman ar-rahim

Kreatifitas adalah satu hal yang mudah diucapkan namun relatif rumit untuk dibentuk atau dibangun. Apalagi slogan “Dengan Kesenian Kita Tingkatkan Kreatifitas Remaja” misalnya, adalah slogan yang benar-benar memerlukan kesungguhan untuk mewujudkannya. Kesungguhan yang dimaksud adalah keseriusan dalam pemikiran, serta daya dan upaya yang kuat tentunya, sehingga kalimat romantis atau heroik saja, belum cukup untuk mewujudkan cita-cita itu.

Membangun kreatifitas masyarakat melalui kesenian, tak cukup dengan talenta saja, jadi harus ada mekanisme manajerial di dalamnya. Secara praktis kita lihat Jepang pada saat ini, Mereka telah mampu mengeser kedudukan Hollywood (Amerika dan Eropa) untuk Film Kartun, Animasi, Komik dan Buku Bacaan. Setelah sekian lama , Buku Bacaan, Komik serta Film Kartun dan Animasi Amerika dan Eropah merajai pasaran dunia.

Pada tahun 80an hampir seluruh anak-anak dan remaja di dunia tentu mengenal sosok Tintin detectif cerdik dengan anjing kecilnya yang lucu, mereka tentunya juga mengenal sosok Micky & Mouse yang lucu dan menggelikan. Dimulai dengan Film Animasi The Lion King, kemudian dilanjudkan dengan Petualangan Mulan yang gagah berani nilai-nilai Asia mulai merambah Hollywood. Untuk diketahui ternyata The Lion King adalah cerita khayalan dari kartunis Jepang yang kemudian dikembangkan oleh industri film Hollywood.

Sebelum masa tahun 80an artinya pada era 70an, anak-anak dan remaja di dunia mengenal sosok, Tarzan atau si Kaki Besar Geronimo dari suku Apache dalam cerita fiksi karya Karl May. Di Indonesia pada tahun 70an anak-anak dan remaja mengenal super hero versi Indonesia seperi; Godam si tangan kuat dan bisa terbang, Aquanus simanusia air, Gundala si Putra Petir dan yang lainnya.

Sekarang ini tak banyak lagi anak-anak atau remaja yang menyimak Micky & Mouse apalagi cerita Godam, Gundala dan sejenisnya, yang terlihat dengan jelas, komik, Film Kartun dan Animasi telah dikuasai oleh produk jepang. Hanya beberapa komik atau bacaan barat yang masih diminati oleh remaja dan anak di Indonesia seperti Harry Potter dan Lord Of The Ring . Artinya terjadi arus perubahan berpikir dari Barat ke Asia (Jepang).

Komik dan Buku Bacaan Film Kartun atau Animasi, memang salah satu bentuk dari produk berkesenian, hal ini tentunya adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Namun efek lain yang juga harus dicermati pada era informasi seperti sekarang ini, negara yang menguasai arus informasi pada sektor Komik, Buku Bacaan, Film Kartun dan Animasi tentu memiliki sisi keunggulan tersendiri dalam persaingan lainnya.

Salah-satu contoh keseriusan Jepang membina kretivitas seniman 

Apakah keberhasilan Jepang merebut kiblat itu hanya berdasar talenta atau bakat dari Komikus, Kartunis atau Animator semata? Lalu apakah pencapaian itu dapat diraih dalam waktu yang singkat? Jika coba kita telusuri apa yang telah diraih oleh Jepang, adalah buah dari usaha yang serius dan sungguh-sungguh dalam waktu yang relatif panjang.

Pada tahun 80an dalam sebuah kolom laporan perjalanan seorang kartunis Indonesia, merasa terheran-heran ketika mereka diundang ke Jepang. Mereka di undang dalam suatu acara berkaitan dengan profesi mereka sebagai Kartunis. Ternyata masyarakat Jepang mengelu-elukan Kartunis yang hadir dalam acara itu. Artinya ketika itu masyarakat Jepang telah sampai pada titik dimana profesi sebagai Kartunis demikian mereka hormati. Jadi membentuk sikap masyarakat yang dapat menghargai profesi kartunis tentu juga memerlukan proses yang juga panjang serta berliku. Pendek kata keberhasilan Jepang pada saat ini merupakan hasil dari keseriusan mereka membina sistem dan mekanisme berkesenian, yang diimbuhi oleh kebanggaan terhadap karya bangsa sendiri.

Kemudian jika kita perhatikan lebih jauh, ada tradisi berteather dalam kehidupan masyarakat Jepang, dan tradisi ini terus dijaga oleh mereka. Misalkan setiap tahun diadakan festival theater untuk anak-anak dan remaja, kemudian mereka menyiapkan segala keperluan penampilan dengan menjahit baju serta perlengkapan sendiri. Dengan cara ini tentu akan menumbuhkan penghayatan mereka pada kehidupan berkesenian.

Memang terlalu jauh jika kita membandingkan Indonesia dengan Jepang, namun setidaknya hal baik yang mungkin dapat kita lakukan, kita lakukanlah dengan segera. Kehidupan bertheater di Jepang dapat terus dibangun karena mereka memadukan unsur manajerial dalam pembinaan berkeseniaan. Misalkan ketika fesival theater dilangsungkan Televisi meliput acara itu dari persiapan hingga penampilan group theater anak-anak dan remaja itu.

Sehingga kreatifitas mereka dapat terus tumbuh dengan berantai melalui pemberitaan itu. Kemudian darimana biaya operasional peliputan itu, tentu dari iklan, kemudian mengapa para pemasang iklan mau membayar, karena acara itu banyak ditonton orang, kenapa acara itu ditonton banyak orang, karena menarik, mengapa menarik….dst. Adalah pertanyaan sebab akibat yang bersifat sangat panjang untuk di uraikan dalam kolom ini. Jika kita perhatikan yang pokok dari hal itu adalah spirit untuk berbuat baik bagi kejayaan budaya bangsa sendiri.

Dapat kita lihat, salah satu semaraknya kehidupan bertheater masyarakat Jepang, pada Global TV misalkan dalam acara “Masquered”. Sungguh dapat kita lihat bermunculannya beragam ide-ide yang tak terduga, pada acara festival teather itu dan hal ini terus tumbuh dan berkembang dan terhitung luar biasa.

Sesungguhnya kreatifitas, berkesenian atau apa saja, adalah saling berkaitan dan berhubungan satu aspek dan aspek lainnya, sebagaimana teori system; Bahwa kehidupan kita saat ini adalah bagian dari kehidupan yang lebih besar dan masing-masing berperan sesuai dengan fungsinya, lalu system itu melahirkan kesetimbangan. Jadi mungkin saja dari sisi teori system kita hanya sebagai pembeli atau konsumen dari para pembuat (Jepang , Eropah dan Amerika) sekiranya tidak ada gejolak maka system ini akan tetap berjalan dalam posisi setimbang….MENYEDIHKAN MEMANG!!!!

Walahhu’alam bisawab

5 Comments so far (Add 1 more)

  1. assalamualaikum

    salam kenal….

    1. ic_banjarbaru on July 12th, 2008 at 6:04 am
  2. bang, kayaknya kalo sistem pendidikan kita masih menggunakan nilai (rapot, unas, usek, dsb) sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran, bakalan makin ketinggalan deh.

    kayaknya saatnya bergeser ya bang, dari “nilai” (yg biasanya hasil murah hati guru) ke “Karya nyata” anak

    2. yuniar eka on July 1st, 2008 at 2:40 pm
  3. Ya, makanya guru-guru sudah waktunga bergeser pikiran dalam mendidik, tidak saja pada ranah teori tapi pada praktik … hingga, kreatifitas anak didik bangkit, hingga nantinya menjadi bangsa kreatif. Bukan bangsa komsumen produk orang, bangsa saudagar doang. Dus, perlu pemimpin kreatig dan membangkitkan kretifitas. Betul?

    3. Ersis W. Abbas on January 23rd, 2008 at 3:23 am
  4. Kepada ading Zulfaisal Putera, trimakasih atas kometar dan kritiknya.

    4. Ogi Fajar Nuzuli on January 18th, 2008 at 4:54 am
  5. Salam jumpa, Bang!

    Soal kreativitas, SDM kita (baca: urang banua) tak kalah kualitasnya. Banyak tak berbilang. Hanya tak semua mengungkapkannya dan menjadikannya sebuah karya. Apalagi memiliki nilai jual. Yang dibutuhkan sekarang adalah motivator dan fasilitator. Dua-duanya adalah penggerak pasti.
    Bang Ogi sudah memulainya di Banjarbaru.

    Satu lagi, sekadar catatan dari guru Bahasa Indonesia. Kata ‘kreativitas’ ditulis dengan menggunakan hurup ‘v’ bukan ‘f’. Kata itu merupakan adaptasi dari ‘reativity’. Jika adaptasi dari ‘creative’ maka hasilnya ‘kreatif’.

    Salam!

    Tabik!

    5. Zulfaisal Putera on January 12th, 2008 at 4:15 pm

Post a Comment

Email Anda tidak akan ditampilkan. Anda harus mengisi kolom bertanda *

*
*