headermask image

header image

Suku Banjar dan Sungainya…….

Bismillah Ar-rahman Ar-rahim

Buih motor tempel dg latar belakang Jembatan Barito

Dengan teman-teman berfoto di atas motor tempel

Aku yang disebut orang sebagai suku Banjar, logikanya tentu akrab dengan dunia sungai, terlebih setelah adanya tayangan iklan di RCTI dengan “acil/emak-emak yang sedang belanja” di pasar terapung. Pasar terapung dan segala pernak-pernik sungai sesungguhnya tak lagi akrab dengan suku Banjar kini, semisal aku yang memang bersuku Banjar tapi tinggal di Banjarbaru, karena di Banjarbaru sama sekali tidak terdapat sungai, sebagaimana yang tergambar dalam pikiran orang tentang suku Banjar.

Tongkang BBM kecil sedang sandar di tepi sungai Barito

Ayah, kakek dan nenek ku dulu memang akrab dengan dunia sungai, karena mereka lahir dan di besarkan di “pinggir banyu” yang dalam bahasa Indonesianya “pingiran sungai”. Namun sekarang sungai-sungai di Banjarmasin, yang demikian kotor karena tercemar kegiatan manusia, bahkan tak sedikit sungai yang telah mati. Sekarang ini orientasi angkutan tak lagi mengutamakan jalur sungai akan tetapi lebih mendahulukan jalur atau lintasan darat.

Sayapun cenderung tak lagi memandang sungai sebagai jalur angkutan yang memadai dari sisi kepraktisan, walaupun ketika sebelum tidur dulu sering nenek bercerita tentang serba-serbi kehidupan masyarakat “di pinggir banyu”. Mungkin ini adalah efek zaman yang mau lagi ingat dengan masa lalu, kalau boleh saya ungkapkan dengan kata-kata puitis, atau yang lebih tepat dengan kata-kata yang lebih sarkasme saya “Bagai kacang yang lupa dengan kulitnya”. Secara tak sengaja , kembali saya diperlihatkan bahwa sungai adalah potensi yang luar biasa, selain dari aspek perhubungan juga kemungkinan untuk perkembangan pariwisata. Dari yang saya lihat dan perhatikan memang potensi suku Banjar di seputar sungai-sungai yang ada sungguh luar biasa.

Rumah di pinggir sungai dengan “jukung tiung” (perahu besar)

Pada satu ketika secara tidak sengaja, saya bersama beberapa rekan diajak berkeliling dengan motor tempel untuk melihat kehidupan masyarakat di sekitar sungai. Tentunya saya bersedia, rute yang kami lalui dari sungai di ujung Kayu tangi Kota Banjarmasin kearah Ujung panti Kabupaten Barito kuala. Rute ini bukan jalur yang biasa dijalani oleh rombongan wisatawan. Sebelum berangkat kami minum es kelapa yang di jual dari “rombong” (warung di atas perahu). Melalui percakapan dengan pedagang es kelapa itu, saya teringat dengan idiolek, suku Banjar yang berada di sepanjang sungai, lafal dan syle bicaranya seperti kakek dan nenekku dulu.

Sehingga perjalanan ku dari ujung Kayu tangi sampai ke Ujung panti seperti kembali meniti ke ranah asal budaya ku, sebuah perjalanan yang terhitung sentimentil sekali tentunya…he…he… Rekaman peristiwa itu seperti yang dapat anda lihat pada halaman Web ini, sebagai sebuah rekaman foto yang sangat sederhana tentunya.

Berjualan es kelapa diatas perahu

Wallahu’alam bisawab 

10 Comments so far (Add 1 more)

  1. salam kenal bang ogi/ iya mudahan aja habis lebaran saya dan suami bisa mudik ke kampung. tapi bingung juga ke tempat siapa ya/? karna rata rata keluarga besar merantau di kaltim. boleh nginap tempat bang ogi kah? he…he…

    1. muslihah on July 30th, 2009 at 2:35 am
  2. Yap….bgs bener artikelnya…jadi ingat kampung halaman, udah lama tidak pulang kampung nich, pingin makan katupat kandangan….hehe….mudahan kawa lakas bulik ka banua….

    2. didik on February 14th, 2009 at 9:38 am
  3. Wah banjarmasin mengingatkanku pada seseorang.Pengen sekali aku kesana utk mengingat masa masa indah apalagi dengan sungainya.

    3. jusman on December 18th, 2008 at 2:39 am
  4. saya oRg bnjar tp SAYa ngak pRnH pergi kesana Apatah lagi melihat sungai yg d maksudkan keRnA SayA KINI BRaDA DI MaLAySiA. .SYa hArAp sUngAi yG D MksUdKaN DpT MGaLiR SpERti sEbELuM iNi. . .

    4. mohd azRuL NiZAm on November 12th, 2008 at 5:03 am
  5. salam kenal pak

    5. taufik on June 30th, 2008 at 4:47 am
  6. salam pak, saya merindukan realitas banjarmasin sebagai “kota seribu sungai”, tp masih relevan kah perumpamaan itu??

    6. taufik on June 30th, 2008 at 4:44 am
  7. Sungai kita sudah kehilangan tempat mengalir, Bang!
    Jalan-jalan yang menjadi hak air sudah diambil oleh bangunan rumah dan sampah. Dan tak ada yang perduli.
    Coba Abang jalan-jalan ke Malaka atau Brunei.
    Kita malu dengan diri sendiri bila membandingkannya.
    Bang, bagaimana kalau kita ada gerakan ‘normalisasi sungai’ atau ‘ kembali ke sungai’ atau apa pun, asalah sungai kita kembali menemukan tempat mengalirnya!

    Selamat surfing di sungai kehidupan!

    Tabik!

    7. Zulfaisal Putera on February 17th, 2008 at 5:18 pm
  8. Salam kenal bang Ogi, saya pernah bareng sama bang Ogi beberapa tahun lalu ketika mengadakan pengobatan massal di desa Kabuau Batola. Bang Ogi, Bang EWA dan Bos Erwin kecapekan naik speedboat sualnya kelamaan diperjalanan :-)

    8. Inas on February 16th, 2008 at 2:19 pm
  9. Kayaknya pertemuan tahun ini seru di banjarmasin yaa..gimana nich?

    9. cut driska on February 10th, 2008 at 1:17 pm
  10. Siip makin yahud wal ai. Satu hal: kalau ngak ninggalin komen di blog saya, saya ngak mau lagi kesini he he (ngrajuk). Itu tidak adil.

    BTW, mana oleh-oleh Okinawa bos?

    10. Ersis W. Abbas on February 8th, 2008 at 2:08 am

Post a Comment

Email Anda tidak akan ditampilkan. Anda harus mengisi kolom bertanda *

*
*