headermask image

header image

Jakarta Yang Sangat Luas Dan Beragam, Hakekat Dari Sempitnya Dunia

Bismillah Ar-rahman Ar-rahim
Dalam satu atau dua bulan terakhir ini, kantor tepat saya bekerja, beberapa kali menugaskan saya untuk datang ke Jakarta. Jika ke Jakarta agenda yang selalu saya anggap penting adalah bertemu dengan kawan-kawan lama, yang kebetulan berprofesi sebagai jurnalis. Walau ada perbedaan rentang usia yang agak jauh antara saya dengan kawan-kawan lama itu, namun sungguh hal ini bukanlah problem yang berarti bagi kami, dalam menjalin persahabatan.

Biasanya pertemuan dan perkawanan itu dihabiskan pada pojok-pojok yang menyediakan layanan Wifi atau Hotspot. Melalui kongkow-kongkow ini saya jadi memahami tabiat terbaru, dari beberapa kelompok masyarakat di Jakarta yang beragam dan sangat meriah itu. Ada sekelompok muda di Jakarta, yang sangat gemari nongkrong di café yang ada menyediakan layanan Wifinya, sambil diiringi musing yang berdentam dengan kuat, yang nongkrong ditempat seperti ini sebagian besar adalah orang-orang asli Indonesia.

Sekali waktu di kawasan Menteng tempat kami nongkrong, pernah kami bertemu dengan pasangan yang tidak biasanya. Seorang pemuda yang dari wajahnya mungkin berasal dari syiria, spanyol atau apalah saya juga tidak mengetahui persis. Sedangkan si wanita dari warna kulit dan wajahnya jelas dari ras Africa, mereka berdua berjalan dengan sangat mesra . Tulisan ini bukan ingin menghidupkan diskriminasi warna kulit atau ras, namun hanya ingin menggambarkan bahwa dunia kita saat ini relative tanpa batas, dan tak ada yang bersifat absolute jika menyangkut kecocokan dalam memilih pasangan.

Lain waktu kami nongkrong di kawasan Kuningan, pokoknya lokasi nongkrong kami dekatlah dengan lokasi tertangkapnya Al-Amien Nasution (sang anggota DPR yang terhormat itu oleh KPK). Perlu juga diketahui di lokasi ini 90% yang nongkrong atau pengunjungnya adalah orang bule dari Amerika, Australia, Inggris dan lainnya, pokoknya tempat itu dipenuhi oleh para ekspatriat atau pekerja asing di Jakarta. Karena sebagian besar yang nongkrong para pekerja asing maka usianyapun relative sudah agak tua-tua, mungkin kamilah gerombolan yang termuda di lokasi ini. Bisa jadi kami juga yang salah mencari tempat nongkrong….ha…ha…

Dari informasi teman-teman jurnalis kami pernah juga nongkrong di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Woow yang ngumpul disini sebagian besar ABG di Jakarta, Mereka datang dengan aneka dandanan yang menyegarkan setidaknya bagi saya yang masih terkatagori lelaki normal. Sehingga jika malam Sabtu dan malam Minggu kawasan ini luar biasa ramainya. Jika coba saya amati pengujung yang datang, dan sebagian besar yang datang adalah ABG Indonesia asli. Yang menarik ternyata menu yang ditawarkanpun sangat beragam, dari Shisa rokok ala budaya arab, sampai dengan spagheti ala budaya Italia, dan yang paling penting harganya terjangkau, bagi kocek orang muda kita

Berkat jalinan komunikasi dan informasi kawan-kawan jurnalis ini, setelah mendengar kabar, kamipun mencoba nongkrong pada lokasi lain di kawasan Kemang juga. Woow pada titik ini kami serasa berada di Kuta Bali karena benuh dengan bule, yang agak istimewa dari tempat ini yang nongkrog adalah bule yang masih ABG. Laku dan tingkahnya yach…. has ABG lah. Sampai ada guyonan dari teman-teman jurnalis, “Aku takut kalo lokasi ini jadi sasaran Bom berikutnya…” (Mudah-mudaha aja nggak ya…..)

Dari rangkaian “penongkrongan ” ini, saya jadi semakin yakin bahwa komunikasi nir kabel via internet sudah semakin menyerbu kehidupan kita, artinya tempat-tempat nongkrong, terasa kurang sip jika tidak tersedia layan Wifi gratis. Berkat jalinan komunikasi inilah dunia menjadi tanpa batas. Batas yang ada hanyalah garis territorial belaka atau dalam pemahaman administrasi saja. Sementara untuk selera dan rasa, mohon maaf; “Pada saat ini” relative tidak ada batasnya kalau meminjam istilah urang Banjar “Sudah kada bakamus lagi”. Sehingga jika dilukiskan dengan kata-kata ada kesannya agak berlawanan, Jakarta yang amat beragam dan luas sesungguh menggambarkan betapa sempitnya dunia ini…..

Wallah hu alam bi sawab

9 Comments so far (Add 1 more)

  1. jakarta memang kota yang maju, tetapi banyak ketidaknyamanan disana. macet dan kejahatan tidak akan pernah habis disana, lebih nyaman di banjarbaru. hihihi,,

    mencari ilmu sampai ke jakarta, kerja balik ke kampung halaman. “banjarbaru”

    1. Indra kurniawan on February 26th, 2010 at 12:38 am
  2. selamat berjumpat mister, bgmn pun jakarta pernah mewarnai kehidupan personal siapa saja, tergantung bagaimana dia mengajari kita dan membodohi kita

    2. heriansyah on October 10th, 2008 at 10:00 pm
  3. tidak ada yang lebih enak selain banjarbaru

    3. soulH on September 28th, 2008 at 6:42 am
  4. Ah, jakarta, kapan saya ke sana ya? Tapi banjarbaru juga tidak kalah mempesona… :P

    4. manusiasuper on September 11th, 2008 at 10:55 am
  5. hanya satu kata, Jakarta itu sumpek. Selamat menjalankan ibadah puasa.

    5. hariesaja on September 10th, 2008 at 9:11 am
  6. Ngomong-ngomong, eh nulis-nulis, lama juga ngak diapdet nich. Met puasa. Salam.

    6. Ersis Warmansyah Abb on September 7th, 2008 at 8:27 pm
  7. diantara sempitnya jakarta saya mencoba berpikir. berupaya untuk lebih baik…
    namun saya tetap beginibegini saja..
    tapi bagi saya: MAJU MELAWAN ATAU DIAM TERTINDAS KARENA MUNDUR DARI PERJUANGAN ADALAH SEBUAH PENGHINAAN…
    biarlah jakarta
    biarlah dunia selama jiwaku tetap milik para pemuda yang masih percaya pada hakikat kebenaran

    salam

    7. hudan nur on September 6th, 2008 at 4:25 pm
  8. wah, ulun umpat bos ke jakarta,biar umpat merasakan sempitnya dunia

    8. isuur loeweng on September 1st, 2008 at 9:44 am
  9. Yoi

    9. Ersis Warmansyah Abb on August 6th, 2008 at 7:09 am

Post a Comment

Email Anda tidak akan ditampilkan. Anda harus mengisi kolom bertanda *

*
*