headermask image

header image

Perkembangan Tekhnologi dan Kebijakan Negara

Bismillah Ar-rahman Ar-rahim.Menarik apa yang diungkapkan salah seorang teman saya yang  bergelar Ph.d sekaligus seorang ilmuan Ilmu Fisika, beliau berkirim email kepada saya sekaligus memberikan pendapat tambahan berdasar teori yang beliau geluti dan pahami. Tambahan informasi berkaitan denagan tulisan saya terdahulu tentang“ Catatan dan Tekhologi”. Jika saya tidak salah memahami, intinya beliau memaparkan; pabrikasi  chip dari memori pada saat ini, masih sangat jauh dari teori kuantum atau atom, secara tersirat beliau bahkan sudah memprediksi dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah dapat diproduksi, chip atau memori yang memiliki kemampuan berlipat-lipat dari, hal luar biasa yang kini kita ketahui sekarang ini.

Tentunya saya berterimakasih sekali saya mendapat informasi ini, setidaknya kembali mengingatkan saya, bahwasanya bahasa program komputer, program aplikasi komputer serta hardware yang selama ini  populer dipergunakan adalah produk bangsa lain, artinya kita telah terlupa pada kenyataan, bahwa sesungguhnya bangsa kita dan kita-kita semua hanyalah jadi bangsa pemakai belaka.

Menurut saya dari sisi ilmu Kebijakan Negara dan Pemerintahan, setiap segmen (bangsa atau negara), memiliki pilihan dapat menjadi produsen pada level pertama, produsen pada level kedua, perantara antara produsen dan pembeli (pedagang) dan pembeli. Bukan berarti segmen pembeli selalu berposisi lebih buruk dari produsen atau pedagang. Segmen pembeli  terbagi lagi menjadi pembeli yang bersifat produktif dan konsumerisme belaka. Pada banyak kejadian pembeli yang bersifat produktif dapat menjadi pengatur produsen dan pasar (pedagang). Artinya pada tataran ini sesungguhya produsen adalah “kuli” dari konsumen.

Perlu kiranya dipaparkan pada tulisan ini, yang dimaksud bangsa produsen pada level satu adalah bangsa yang dapat memproduksi barang atau jasa yang sangat tekhnologinya tinggi misal Chip komputer dan yang sejenisnya. Kemudian bangsa yang menjadi produsen pada level kedua adalah bangsa yang dapat meproduksi aplikasi dari produksi bangsa pada level satu, misal, perakitan komputer, software komputer, alat-alat elektronik dan listerik sederhana dll.  Sedangkan bangsa pedagang dan pemakai sudah tentu semuanya telah jelas adanya.

Siapa yang menjadi leader atau pengatur, sesungguhnya ditentukan oleh komponen lain yang sangat kompleks dan beragam yang jika kita peras serta coba pahami secara keseluruhan, semua berawal dari pengambilan keputasan tentang kebijakan nasional. Setiap masa (zaman) memiliki karakteristik tersendiri, pada saat ini bangsa yang paling menentukan sebagai pengatur (leader) adalah bangsa pedagang contohnya Singapura, China, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Malaysia, Thailan dan Vietnam pada mulanya adalah bangsa pemakai tekhologi saja, namun karena kebijakan nasional yang dilakukan oleh negara, mereka dapat mereformasi diri menjadi bangsa pedagang yang saat ini lumayan disegani setidaknya  di kawasan Asia fasifik.

Jepang dan China adalah typikal bangsa yang awalnya produsen pada level kedua saat ini telah berupaya mereformasi diri menjadi bangsa produsen pada level satu. Khusus untuk bangsa China selain berupaya menjadi produsen pada level satu, mereka tetap mempertahankan posisinya sebagai bangsa pedagang. Jepang walaupun telah dapat menjadai bangsa produsen pada level pertama tetapi mereka nampaknya belum mau meningal kan status sebagai produsen pada level kedua.

Amerika Serikat selain sebagai produsen pada level pertama dan kedua mereka juga adalah bangsa pemakai dari yang bersifat konsumerisme hingga pemakai yang bersifat produktif. Patut pula untuk dicatatan bahwa bangsa Amerika pada dasarnya bukan bangsa yang dalam fungsinya bersifat sebagai bangsa pedagang. Hal ini dapat dilihat dari runtuhnya bursa saham dunia yang diawali dari persoalan produksi perumahan yang di pakai oleh rakyat yang meminjam uang dibank dan dijamin oleh perusahaan asuransi penjamin kredit perbankan di Amerika Serikat, runtuhnya bursa saham dunia yang diawali oleh kerusakan system perdagangan saham di Amerika, hendaknya hal ini jangan dilihat dari satu sisi ekonomi semata dengan mengesampingkan peran  teknologi dan informatika.

Rusia adalah bangsa produsen pada level satu disaat ini, namun patut pula diingat pada saat masih bersatu dalam Uni Soviet, mereka juga adalah bangsa produsen pada level dua, sekaligus pedagang dan konsumen setidaknya bagi negara-negara blok Timur kala itu. Apa yang terjadi pada Rusia setidaknya membuktikan klasifikasi bangsa dari sisi tekhnologi sangatlah ditentukan oleh berbagai fenomena politik yang terjadi pada satu negara.
Negara-negara produsen dari sisi teknologi pada level dua yang saat ini telah mengarah menjadi produsen pada level pertama antara lain; Jerman, Francis dan Inggris. Yang kemudian patut untuk kita prediksi, apakah perubahan yang mereka ingikan hanya menjadi negara produsen pada level satu saja. Tidakah mereka juga ingin menjadi negara dagang, dan kemanakah arah dan tujuan perdagangan mereka? .

Sesunguhnya sangat panjang pemaparan yang diperlukan untuk mengungkapkan satu persatu fenomena yang terjadi dari sisi hubungan kebijakan nasional dengan perkembangan tekhnologi dan perekonomian dan fenomena-fenomena sosial, baik dari sisi fungsi atau kawasan. Apa yang kita perbincangkan ini barulah menyangkut sebagian dari potret besar, negara-negara Eropah, Asia dan Amerika. Artinya kita belumlah membicarakan fenomena yang terjadi untuk bagian lain dari dunia seperti Africa, Australia dan Timur Tengah. Karena ada spesifikasi lain yang bersifat khas untuk kawasan-kawasan ini.

Selain mendapat email dari teman saya yang ilmuan Fisika , saya mendapat pula pencerahan dari teman saya yang sebenarnya seorang ekonom namun gemar dengan aplikasi teknologi. Beliau bertanya kapan saya memperkirakan (waktunya) tekhnologi hologram sampai ke Indonesia.

Sesungguhnya pertanyaan yang bersifat seperti ini adalah pertanyaan yang juga dilontarkan oleh hampir semua orang, hanya saja kadar pertanyaannya yang mungkin berbeda-beda. Bagi orang yang sangat akrab dengan aplikasi teknologi mungkin dengan sangat mudah memahami teori transfer data wujud kita atau siapa saja dan apa saja melalui teknologi hologram. Dalam hikayat orang dahulu (bukan ingin merendahkan nenek moyang) ketika masih belum mengenal tekhnologi seperti saat ini, hal-hal semacam ini disebutkan “ilmu halimunan, Ilmu sabrang jiwa dll”. Kita tentu tidak ingin bertikai tentang benar atau tidaknya ilmu-ilmu semacam itu, karena kita dan mereka (nenek moyang) berada pada zaman dan situasi yang tidak sama.

Pada akhir tulisan ini kita berharap, semoga  mereka yang memegang kewenangan untuk menentukan arah kebijakan nasioanal, dapat melihat secara obyektif dari berbagai presfektif, tentang potensi yang dimiliki oleh bangsa ini. Jika kita menginginkan secara nasional sebagai bangsa pemasok tekhnologi pada level pertama masih terlalu jauh, maka mestinya kita memprogramkan secara nyata menjadi bangsa produsen pada level kedua. Lalu agar beban pencapaian itu tidak menjadi beban yang terlampau berat bagi rakyat, hendaknya kita terlebih dahulu dan secara sungguh-sungguh membentuk bangsa ini  menjadi bangsa konsumtif yang produktif. Jika terdapat celah yang memungkinkan kita juga bisa menjadi bangsa pedagang, menurut hemat saya harus segera dirancang kebijakan kawasan untuk pengembangan tekhnologi dengan menggandengkan  potensi Indonesia, malaysia, Thailan dan Vietnam. Sebab jika setiap bangsa dalam satu kawasan, berpikir sendiri-sendiri dan pikiran itu saling bertolak belakang maka yang didapat adalah unproduktifitas saja.

Lalu bagaimana semua ini dapat dicapai, semua tentu telah memahami jawabnya; adalah menciptakan proses pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan. Artinya pendidikan kita harus benar-benar menjadi titik perhatian utama. Produk pendidikan haruslah tersegmentasi, menjadi dua bagia besar, pertama untuk pemasok permintaan pasar, misalnya praktisi perbankan, praktisi militer, sampai praktisi dunia hiburan (artis), artinya harus ada lembaga pendidikan yang berorientasi kepada kebutuhan ini.

Kedua, proses pembelajaran yang melahirkan peneliti-peneliti, perlu kiranya dipahami yang dimaksud peneliti disini bukan hanya pada bidang ilmu murni saja, tetapi haruslah juga dibahami persoalan negara pada dasarnya tidak dapat hanya diselesaikan oleh satu bidang ilmu saja.

Kemudian ketika kita menyatakan pendidikan adalah awal dari pembentukan bangsa dimasa datang, hal ini adalah pernyataan yang tak terbantahkan. Lalu bagaimana membiayai pendidikan semacam itu?  Kemudian dalam aplikasinya bagaimana membuat semua kurikulum yang diharapkan itu?. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah sebuah pertanda bahwa negara diurus oleh komponen-komponen yang bekerja dalam sebuah sytem raksasa. Artinya komponen-komponen itu bekerja pada lahan ekonomi, pendidikan, pemerintahan, kedokteran sampai dengan seni budaya. Lalu siapakah yang sanggup merubah system itu, jawabnya adalah: RAKYAT MELALUI PEMILU DAN PILPRES YANG SEBENTAR LAGI BERLANGSUNG

Walahu alam bi’sawab

8 Comments so far (Add 1 more)

  1. terimakasih atas kunjungan om ogi ya,

    1. baburinix! on May 22nd, 2009 at 4:59 pm
  2. wah asik juga nih , kayapa mun urang kita ba ulah surang…?

    2. baburinix! on May 7th, 2009 at 3:54 am
  3. bagaimana jika indonesia bikin produk sendiri?

    3. baburinix! on May 7th, 2009 at 3:52 am
  4. Perkenalan… mohon kunjungan balik

    4. admin on February 17th, 2009 at 1:52 pm
  5. kajian kronologis, historis, aktual
    ………………….
    diluar dari tulisan Pak Ogi, selamat dan sangat setuju atas gerakan/ “gebrakan” bapak untuk bersih-bersih kota banjarbaru, kalo perlu untuk setiap depan ruko/kantor yang ada drainase berikan surat himbauan agar mengelola/menjaga drainase and sampahnya dengan baik
    teruskan pak, saya dukung lahir batin insyaallah

    5. joe banjarbaru on February 17th, 2009 at 3:28 am
  6. Setuju

    6. Ersis Warmansyah Abbas on February 9th, 2009 at 3:40 pm
  7. Berbicara teknologi, jaman sekarang harus berbicara dgn komunikasi yg aman. Teknologi dari kami sudah bisa membuat handphone anti sadap yg terencrypted dgn teknologi militer. call us : my-toserba.com

    7. toserba on December 11th, 2008 at 5:44 am
  8. Om saya ga mo komentari tulisan pian, cuma karena masuk blog pian. mau buka email (yang baca cuma pian, jd aggap komen ulun tulisan terbuka bagi pembaca pian. Ulun sedang sekolah di Kyoto - Jepang. Ulun perlu foto-foto tempat umum Kota Banjarbaru (tempo dulu) seperti sekarang lap murjani yag diaspal, kolam renang minggu raya dan taman idaman. Kira-kira om bisa bantu ga,…
    Profile ulun ada pada Om Dewa Pahuluan.
    Makasih atas bantuannya, moga om sehat selalu

    8. Elda on November 19th, 2008 at 3:02 am

Post a Comment

Email Anda tidak akan ditampilkan. Anda harus mengisi kolom bertanda *

*
*