<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ogi fajar nuzuli </title>
	<atom:link href="http://ogifajar.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ogifajar.com</link>
	<description>Ogi fajar nuzuli</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Aug 2011 09:02:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Telah Terbit Buku Melawan dengan Budaya</title>
		<link>http://ogifajar.com/telah-terbit-buku-melawan-dengan-budaya.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/telah-terbit-buku-melawan-dengan-budaya.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 08:50:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[buku melawan dengan budaya]]></category>
		<category><![CDATA[buku ogi fajar nuzuli]]></category>
		<category><![CDATA[melawan dengan budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Radar Banjar Peduli]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Apa kabar kawan yang baik? Lama sekali saya tidak posting di blog ini. Banyak tugas dan kesibukan yang harus saya kerjakan, sehingga blog ini jarang update. Meski demikian, saya ada kabar gembira. Baru-baru ini buku saya berjudul &#8220;Melawan dengan Budaya&#8221; sudah terbit. Buku tersebut diterbitkan oleh penerbit mingguraya PRESS. Rencananya, buku ini akan dijual dan hasil penjualan akan digunakan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Buku Melawan dengan Budaya Karya Ogi Fajar Nuzuli" href="http://ogifajar.com/telah-terbit-buku-melawan-dengan-budaya.php" rel="" target="_blank"><img class="alignleft" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/melawandenganbudaya.jpg" alt="Buku Melawan dengan Budaya Karya Ogi Fajar Nuzuli" /></a> Apa kabar kawan yang baik? Lama sekali saya tidak posting di blog ini. Banyak tugas dan kesibukan yang harus saya kerjakan, sehingga blog ini jarang update. Meski demikian, saya ada kabar gembira.<span id="more-109"></span></p>
<p>Baru-baru ini buku saya berjudul &#8220;Melawan dengan Budaya&#8221; sudah terbit. Buku tersebut diterbitkan oleh <strong><a title="Penerbit Buku Mingguraya PRESS" href="http://mingguraya.com"> penerbit mingguraya PRESS</a></strong>.</p>
<p>Rencananya, buku ini akan dijual dan hasil penjualan akan digunakan untuk kegiatan sosial yakni disumbangkan ke <strong><a title="Kegiatan Radar Banjar Peduli" href="http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-1.php"> Radar Banjar Peduli</a>.</strong> Bagi yang berminat sialakan menghubungi pihak penerbit:</p>
<blockquote><p><strong>Penerbit mingguraya PRESS</strong></p>
<p>Perum Wirapratama 2, Jl. Bukit Barisan 12B Banjarbaru, Kalsel 70713 Telpon: (0511) 6349032 Websitel: www.mingguraya.com email: penerbit@mingguraya.com</p></blockquote>
<p>Demikian yang bisa saya sampaikan kepada kawan-kawan semua. Terimakasih karena telah mengunjugi blog sederhana saya ini. Semoga anda selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/telah-terbit-buku-melawan-dengan-budaya.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Urang Banjarbaru, Martapura dan Pahuluan dalam Nanang Klelepon</title>
		<link>http://ogifajar.com/urang-banjarbaru-martapura-dan-pahuluan-dalam-nanang-klelepon.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/urang-banjarbaru-martapura-dan-pahuluan-dalam-nanang-klelepon.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Dec 2010 19:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Nanang Klelepon]]></category>
		<category><![CDATA[pahuluan]]></category>
		<category><![CDATA[urang banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[urang martapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Secara pribadi saya memandang; telah terjadi peleburan yang bersifat luar biasa secara sosial antara urang Banjarbaru dan urang Martapura. Dengan kata lain, telah lahir kelompok lapisan yang disebut sebagai masyarakat baru, khususnya dalam hal budaya. Waktu dulu saya kecil, sekitar tahun 70an, terlihat cukup jelas style atau gaya urang Banjarbaru dan Martapura yang berbeda. Urang Banjarbaru dengan trade mark Pegawai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/12/nanangklelepon.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-104" title="nanang klelepon" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/12/nanangklelepon.jpg" alt="nanang klelepon" width="300" height="209" /></a>Secara pribadi saya memandang; telah terjadi peleburan yang bersifat luar biasa secara sosial antara <em>urang</em> Banjarbaru dan <em>urang</em> Martapura. Dengan kata lain, telah lahir kelompok lapisan yang disebut sebagai masyarakat baru, khususnya dalam hal budaya.<span id="more-101"></span></p>
<p>Waktu dulu saya kecil, sekitar tahun 70an, terlihat cukup jelas <em>style</em> atau gaya <em>urang</em> Banjarbaru dan Martapura yang berbeda. <em>Urang</em> Banjarbaru dengan <em>trade mark </em> Pegawai Negeri, Tentara, Polisi, pegawai PLN, Telkom, Pos Giro atau Bank dan mahasiswa. Sementara <em>urang</em> Martapura dikenal sebagai pedagang sekaligus komunitas Islam tradisional yang dalam bahasa sosiologi dikenal sebagai kaum santri.</p>
<p>Pada saat ini agak sulit bagi kita untuk mengklasifikasikan perbedaan antara dua kelompok masyarakat tersebut. Hal ini terjadi karena derasnya proses pembauran sosial <em>urang</em> Banjarbaru dan Martapura disertai pengaruh tambahan dari pendatang baru. Melalui fakta empirik dapat dilihat <em>urang</em> Martapura semata-mata tidak lagi sebagai pedagang dalam lingkungan Islam tradisional, demikian pula yang terjadi pada <em>urang</em> Banjarbaru. Meski demikian, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah <em>style</em> atau gaya <em>urang</em> Pahuluan telah banyak merasuk dalam keseharian <em>urang</em> Banjarbaru dan <em>urang</em> Martapura.</p>
<p>Sebuah gaya yang kemudian menjadi budaya, lantas saling bercampur baur inilah yang menjadi patron dari cerita Nanang Klelepon. Ide dan penggarapan Nanang Klelepon memang dibidani oleh generasi baru dari komunitas <em>urang </em>Banjarbaru dan <em>urang</em> Martapura. Seperti Mahfuz Abdullah, <em>urang</em> Kandangan <em>nang lawas bagana</em> di Banjarbaru, Ramli Arisno <em>urang</em> Jawa <em>nang lawas badiam</em> di <em>banua</em> Banjar dan Deni Setiawan <em>urang</em> Martapura yang sempat mengecap pendidikan sekolah Islam dan memiliki <em>style</em> metropolis.</p>
<p>Nanang Klelepon ditilik dari sisi bahasa tentu akan dianalogikan sebagai <em>kananakan</em> Martapura karena wadai klelepon sampai saat ini bagi masyarakat Kalimantan Selatan identik dengan Martapura. Namun jika dilihat dari tutur atau akar dari gaya bahasa Nanang Klelepon, sering kali lebih mirip dengan <em>style urang</em> Pahuluan. pada kesempatan lain Nanang Klelepon dengan <em>style</em> sebagai <em>urang </em>Jawa perantauan. Sesuatu yang fenomenalogis, sepanjang yang saya baca, sangat sedikit seri Nanang Klelepon yang memiliki Joke atau bertutur dengan akar budaya <em>urang </em>Martapura tradisional. Seperti cara guyon, gaya, bahasa sampai penyebutan kampung khas Martapura seperti; kampung Melayu, Keraton, Breman atau kampung Jawa.</p>
<p>Nanang Klelepon sesungguhnya adalah bayang-bayang dari masyarakat  yang terus tumbuh dan berubah, baik dari sisi gaya hidup atau budaya, sehingga penamaan Klelepon pada Nanang, Puracit pada Rudy, sesungguhnya adalah realitas dari kekinian. Itulah yang bisa saya tangkap atau ruh dari cerita Nanang Klelepon yang kemudian terbit di harian Radar Banjarmasin. Cerita Nanang Klelepon juga mengisyaratkan meski klelepon identik dengan Martapura namun yang berdagang dan tempat berdagang pun tidak lagi selalu identik dengan Martapura. Hal ini terjadi pula dengan ketupat kandangan atau rendang padang. Tidak harus <em>urang</em> Kandangan atau <em>urang</em> Padang. Bagi saya, itulah yang termaknai.</p>
<p>Selama bergaul, saya memiliki beberapa pengalaman menarik. Ada seorang teman, dia bersuku Batak dan bermarga Siregar. Pekerjaannya adalah abdi negara, polisi. Dalam pikiran saya (mungkin anda juga), seorang polisi, Batak pula, umumnya <em>sangar</em>. Kalau bicara, terkesan membentak. Tapi kenyataannya tidak demikian. Teman saya itu, tutur katanya lembut mirip orang Sunda. Ada lagi seorang teman, Hadi Purwanto namanya. Keturunan orang Jawa. Baca sekali namanya. Sangat Jawa, bukan? Wajah Hadi Purwanto pun memiliki ciri-ciri urang Jawa. Karena ia lahir dan besar di Kandangan, sementara ayahnya berprofesi juga sebagai abdi negara, tentara. Beliau bertugas di Kandangan. Hadi Purwanto yang saya kenal itu akhirnya memiliki temperamen dan tipikal khas <em>urang</em> Kandangan.</p>
<p>Catatan di atas telah menggambarkan dalam skala kecil yang merekam  terjadinya proses asimilasi, duplikasi sekaligus globalisasi dari kehidupan di sekitar kita. Apa yang dibuat oleh orang-orang muda pencetus dan penulis Nanang Klelepon, menurut pandangan saya, salah satunya ingin memotret kenyataan pergeseran sekaligus pembauran antar sebuah budaya. Sebut saja Banjar hari ini. Martapura hari ini. Banjarbaru hari ini, atau Kalsel hari ini.</p>
<p>Generasi baru dengan gaya hidup yang tak lagi kental dengan budaya asal, karena mengalami pergeseran  dan asimilasi dengan gaya hidup dan budaya lain, merupakan tipikal khas <em>urang</em> Banjarbaru yang berada di sebuah kota terbuka.  Haji Amak sebagai salah satu tokoh yang sering di tulis dalam cerita pendek Nanang Klelepon merupakan tipikal orang muda Banjarbaru yang telah naik haji namun tidak menggambarkan  sosok “pak haji” sebagaimana dalam sketsa imajiner orang Islam.</p>
<p>Haji Amak yang usianya tidak terlalu muda namun juga belum dapat dikatakan tua. Artinya masih sepantaran saja dengan Nanang Klelepon Cs. Cara berpakaian Haji Amak biasa saja. Prilakunya pun relatif masih suka bagayaan. Ciri fisik Haji Amak tentu saja <em>lamak ganal</em>, agak tambun. Haji Amak digambarkan suka mentraktir, yah termasuk  bos dalam skala kecil-kecilan. Pada beberapa seri, Haji Amak dijadikan papantul atas tindakan dan keputusannya terhadap informasi yang mehalabiu dari Nanang Klelepon. Akhirnya kelucuan timbul dari Haji Amak justru karena dirinya tertipu alias tabunguli baik ulah Nanang Klelepon atau tokoh lainnya. [ ]</p>
<p>Catatan:</p>
<p>Urang = Orang<br />
<em> </em> nang lawas bagana = Yang lama tinggal/menetap/diam<br />
kananakan: Anak-anak, merujuk pada sebutan kata ganti &#8216;orang&#8217;.<br />
Pahuluan: Sebutan untuk mereka yang berdiam di daerah Hulu Sungai (Sebuah tempat di Kalsel).<br />
Lamak ganal: Gemuk berbadan besar<br />
Sangar: Menakutkan<br />
Klelepon: Salah satu jenis jajanan khas Banjar, Kalsel yang banyak dijumpai di Martapura.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/urang-banjarbaru-martapura-dan-pahuluan-dalam-nanang-klelepon.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RBP untuk Mentawai (3)</title>
		<link>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-3.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-3.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Nov 2010 04:52:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Pagai Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[RBP untuk Mentawai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Jalan Darat yang Membelah Pagai Selatan. Setelah bertemu para pengungsi dan kembali ke Sikakap untuk beristirahat &#8211; Baca tulisan sebelumnya RBP untuk Mentawai (1) &#8211; RBP untuk Mentawai (2) &#8211; kami kembali mendapat info bahwa Wagub Sumatera Barat yang sangat aktif menangani bencana Tsunami di Mentawai ternyata akan melihat secara langsung jalan darat yang melintasi pulau Pagai Selatan. Menggunakan helikopter, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jalan Darat yang Membelah Pagai Selatan.<br />
</strong></p>
<p>Setelah bertemu para pengungsi dan kembali ke Sikakap untuk beristirahat &#8211; Baca tulisan sebelumnya <a title="Catatan RBP untuk Mentawai Bagian 1" href="http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-1.php" target="_blank"><strong>RBP untuk Mentawai (1)</strong></a> &#8211; <strong><a title="Catatan RBP untuk Mentawai Bagian 2" href="http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-2.php" target="_blank">RBP untuk Mentawai (2)</a></strong> &#8211; kami kembali mendapat info bahwa Wagub Sumatera Barat yang sangat aktif menangani bencana Tsunami di Mentawai ternyata akan melihat secara langsung jalan darat yang melintasi pulau Pagai Selatan. Menggunakan helikopter, Wagub tiba di Padang untuk keperluan melantik Plt. Sekda Mentawai dan juga akan melihat kemungkinan lintas darat sebagai jalur distribusi bantuan.<span id="more-94"></span></p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBPuntukMentawai3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-96" title="RBPuntukMentawai3" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBPuntukMentawai3-300x201.jpg" alt="RBPuntukMentawai3" width="300" height="201" /></a>Sekitar jam 10 pagi, kami menyeberangi selat dari Pagai Utara ke Pagai Selatan. Kemudian bersama kru dari TV One, Metro TV bersama Danrem, bupati Mentawai, Dandim Mentawai, Aparatur Departemen PU, aparat PU Kab. Mentawai, dan beberapa pejabat teras di Mentawai akan mendampingi Wagub melihat lintas darat tersebut. Ternyata, yang dimaksud lintas darat adalah eks HPH dari kilo 1 sampai kilo 40 di pulau Pagai Selatan. Konon panjang jalan yang sudah dibuat oleh pemilik HPH untuk jalur pengangkutan kayu adalah 60 Km. Namun pada kesempatan ini kami hanya akan menjalani dari kilo 1 sampai kilo 37. Karena banyaknya rombongan yang ikut serta, sementara mobil yang disediakan oleh PT. Minas hanya sebuah mobil double cabin Mitsubishi jelas tidaklah cukup mengangkut semua rombongan.</p>
<p>Kemudian ketua DPRD Mentawai menelpon seseorang agar diberi pinjaman sebuah dump truck. Beberapa waktu berselang, datanglah sebuah dump truck untuk membawa rombongan yang tersisa. Dapat digambarkan yang naik Mitsubishi double cabin adalah Wagub Sumatara Barat, Bupati, Danrem, Kepala Dinas PU Prov. Sumatera Barat serta Ketua DPRD Kab. Mnetawai. Kemudian di atas bak terbuka, ditumpangi 2 orang kru TV One, 1 orang kru Metro TV, Sekpri Wagub, serta 2 orang anggota satpol PP. Sedangkan yang diangkut dump truck adalah Dandim Mentawai, pejabat dari departemen PU, pegawai dinas PU Kab. Mentawai, anggota Satpol PP kab. Mentawai.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBPuntukMentawai3a.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-97" title="RBPuntukMentawai3a" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBPuntukMentawai3a-300x201.jpg" alt="RBPuntukMentawai3a" width="300" height="201" /></a>Pada saat rombongan bergerak, awalnya jalan yang ditempuh sangatlah curam mendaki. Ada hal luar biasa yang saya lihat, ternyata di kepulauan Pagai Selatan, terdapat cukup banyak alat berat. Seperti traktor, loader dan excavator. Bahkan, di pulau Pagai Selatan terdapat workshop atau bengkel untuk perbaikan alat-alat berat tersebut.  Kami berangkat dari kilo 1, atau lajim disebut orang Pagai Selatan sebagai daerah Lokpon.</p>
<p>Kemudian di tengah jalan kami disambangi oleh penduduk asli mentawai. Ternyata mereka bertujuan ingin menumpang ke dusun lain. Penumpang yang terbanyak kami dapati dari kilo 2.</p>
<p>Dalam menyusuri jalan tanah yang memang sudah lama tidak dipakai atau diaktkikfikan, kadangkala kami harus merunduk karena banyaknya semak yang berasal dari pohon di samping jalan.  Di perjalanan kami bertemu tiga jembatan yang baru saja diperbaiki, sebelumnya terputus. Entah karena Tsunami atau faktor lain. Jembatan yang dibuat relatif bersifat darurat karena dari batangan kayu besar yang ditumpuk sehingga dapat menjadi jembatan. Membuat jembatan darurat seperti ini tidaklah sulit di mentawai selatan karaena tersedianya alat berat yang seperti saya sebutkan tadi.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBPuntukMentawai3b.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-98" title="RBPuntukMentawai3b" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBPuntukMentawai3b-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a>Rupanya di pulau Pagai Selatan terdapat jalan dari kilo 1 sampai kilo 60, hanya saja jalan tersebut sudah lama tidak dipergunakan karena penduduknya lebih memilih jalur angkutan laut daripada angkutan darat. Hal ini terkesan lucu bagi kita yang biasa hidup di darat. Namun ketika bencana datang mulailah orang terpikir bagaimana agar pengiriman bantuan bisa melalui jalur darat mengingat sulitnya dan tidak efisiennya mengirimnkan bantuan melalui jalur laut dan udara.  Sehingga mulailah disusun rencana untuk bisa kembali mengaktifkan jalur darat di Pagai Selatan. Jembatan yang rusak menurut catatan yang ada, sekitar 3 buah. Kami sempat berhenti di kilo 14, dan sebelum di kilo 14 terdapat pemukiman ex korban gempa 2007 yang lalu. Kemudian akhirnya kami tiba di Km 37. Ternyata di Km 37 sudah ada SD, SMP, gereja, Masjid dan pemukiman ex korban gempa tahun 2007 lalu. Di km 37 inilah nantinya akan dijadikan sentral pemukiman bagi korban Tsunami 2010 ini.</p>
<p>Mengingat program pemerintah pusat dan pemerintah kab. Mentawai akan merelokasi penduduk ke perbukitan tidak lagi ditepi pantai. Selain relokasi, saya berpikir yang patut diperhitungkan adalah bagaimana agar jalan HPH agar bisa lebih layak dilalui oleh kendaraan. Misalnya jembatan harus memang bersesuaian dengan keselamatan pengguna jalan. Serta perlu dimasyarakatkan jalur perdagangan melalui jalan darat. Sebab dengan metode yang sampai saat ini berlaku secara umum, jual beli yang terjadi masih bersifat sistem barter. Antara kopra yang ditukarkan oleh penduduk asli mentawai dengan minyak atau keperluan lainnya kepada pedagang yang berasal daria Padang, Sumatera Barat. Untuk itu sangatlah tepat kalau RBP nantinya mendorong percepatan peralihan pemukiman dengan membantu unit sepeda motor untuk masing-masing dusun. Sebab menurut informasi sederhana yang dapat dikumpulkan ternyata sangat jarang orang asli penduduk Mentawai yang bisa mengendarai sepeda motor, mengingat jarangnya sepeda motor di daerah tersebut.</p>
<p>Semoga jika jalan di Pagai Jalan telah memadai, kemudian RBP memberikan bantuan sepeda motor ke setiap dusun, perekonomian di Pagai selatan bisa bergerak, sehingga masyarakat lainnya pun tergerak atau bisa membeli sepeda motor masing-masing. (bersambung&#8230;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-3.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RBP untuk Mentawai (2)</title>
		<link>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-2.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-2.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 01:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[RBP untuk Mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[Tsunami Mentawai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan Melihat Pengungsian Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul RBP untuk Mentawai. Perlu dijelaskan, Kab. Mentawai terdiri dari 4 pulau besar. Pertama, pulau Pagai Selatan. Kedua, pagai utara. Ketiga, pulau Sipora, Keempat pulau Siberut. Keempat pulau ini berada di sisi barat sumatera, yang berada di laut lepas samudera Hindia. Sehingga pulau-pulau tersebut pada dasarnya berbatasan langsung dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBPuntukMentawai.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-84" title="RBP untuk Mentawai" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBPuntukMentawai-300x223.jpg" alt="RBP untuk Mentawai" width="300" height="223" /></a>Perjalanan Melihat Pengungsian </strong></p>
<p>Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul <a title="RBP untuk Mentawai (1)" href="http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-1.php" target="_blank"><strong>RBP untuk Mentawai</strong></a>. Perlu dijelaskan, Kab. Mentawai terdiri dari 4 pulau besar. Pertama, pulau Pagai Selatan. Kedua, pagai utara. Ketiga, pulau Sipora, Keempat pulau Siberut.<span id="more-83"></span></p>
<p>Keempat pulau ini berada di sisi barat sumatera, yang berada di laut lepas samudera Hindia. Sehingga pulau-pulau tersebut pada dasarnya berbatasan langsung dengan Austalia dsan India. Jadi pulau-pulau tadi berada di tepi Samudera Hindia. Kemudian yang terkena Tsunami adalah Sisi Barat kepulauan Pagai Selatan, Sisi Barat Kepulauan Pagai Utara, dan sisi Barat kepulauan Sipora. Dimana amukan Tsunami berpencar-pencar sehingga antar 1 titik dengan titik lainnya hanya bisa ditempuh dengan jalur laut serta udara saja.</p>
<p>Belum sempat merebahkan diri untuk beristirahat di wisma Lestari, kami mendapat informasi terbaru bahwa akan ada kapal yang berangkat ke Pagai Selatan bersama Bupati Mentawai untuk melihat langsung kondisi para pengungsi di sana. Mendengar informasi itu langasung saya menyatakan minat ingin mendampingi bupati Mentawai ke pengungsian. Syukur Alhamdulillah keinginan saya mendapat sambutan baik dari protokol Pemkab. Mentawai.</p>
<p>Sampai di pelabuhan,ternyata Bupati Mentawai telah berangkat menggunakan kapal motor 007 yang juga milik Pemkab. Mentawai. Mungkin ketua DPRD telah menyampaikan kepada Bupati rencana kami untuk datang ke Mentawai. Sehingga beliau menyisakan satu kapal lagi untuk kami menyusul ke pengungsian.</p>
<p>Maka berlayarlah kami dengan kapal Pemkab. Mentawai yang bernama Sikirei. Kapal ini relatif cukup besar  karena bisa memuat hingga 20 orang penumpang.  Setelah mengarungi selat <span style="text-decoration: underline;">+</span> 2 jam perjalanan, tibalah kami di satu daerah yang berdekatan dengan sebuah Tanjung. Orang Mentawai sering menyebut daerah itu dengan sebutan Bulasat. Untuk sampai ke tepi pantai kami harus menggunakan sampan alias perahu tidak bermesin. Mengingat disitu tidak ada dermaga untuk menambatkan kapal.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-untuk-Mentawai2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-85" title="RBP-untuk-Mentawai2" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-untuk-Mentawai2-300x252.jpg" alt="RBP-untuk-Mentawai2" width="300" height="252" /></a>Setelah tiba di darat, sungguh saya merasakan keadaan yang mencekam. Rumah-rumah dikosongkan atau tidak berpenghuni. Tidak ada kegiatan penghidupan di lokasi tersebut. Berdiri sebuah gereja yang dalam proses pembangunan dan proses itu terhenti atau terbengkalai. Pada beberapa titik terlihat bangunan yang porak poranda, saya menduga ini akibat hantaman Tsunami beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Kemudian kami mendapat info bahwa bapak Bupati saat ini bersama pengungsi di atas gunung (lokasi pengungsian). Maka kami pun bergegas menuju ke lokasi yang dimaksud.</p>
<p>Setelah melewati jalan setapak yang telah dibeton atau lajim disebut sebagai pendistrin lebih kurang 2 km kemudian disambung dengan melewati jalan setapak yang bersemak lebih kurang 1 km, akhirnya kami harus mendaki gunung dengan kecuraman <span style="text-decoration: underline;">+ </span>60 <sup>0. </sup></p>
<p>Mula-mula saya agak ragu untuk mendaki tanjakan itu. Tetapi keraguan itu kemudian sirna karena semangat yang kuat ingin melihat dan berdialog dengan para pengungsi langsung. Akhirnya dimantapkan langkah, saya mulai mendaki tanjakan tersebut.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-untuk-Mentawai-Jalan-Me1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-87" title="RBP-untuk-Mentawai" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-untuk-Mentawai-Jalan-Me1-300x201.jpg" alt="RBP-untuk-Mentawai-Jalan-Menanjak" width="300" height="201" /></a>Memang terasa sangat berat terlebih bobot tubuh saya sekarang lebih 100 Kg. Dan saya hanyalah mantan atlet sehingga kondisi saya tidak sekuat 10 tahun yang lalu. Syukur Alhamdulillah, akhirnya saya sampai juga di puncak bukit dengan napas yang tersengal-sengal. Sempat saya khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres dengan jantung atau paru-paru saya. Namun setelah saya coba berjalan dan meniti pada satu batang kayu, ternyata keseimbangan saya masih sangatlah baik. Namun napas tetap memburu sehingga saya agak bingung juga dengan keadaan ini. Namun ketika sampai pada gubuk terbuka, dan di sana banyak orang berkumpul kemudian pemandu saya mengatakan, “Itu Bapak Bupati, yang cuma memakai kaos singlet,” tunjuk si pemandu.</p>
<p>Perjalanan kali ini sungguh berat. Tidak saja menanjak, tapi juga curam dan licin karena jalan yang dilalui bersifat darurat. Sehingga benar-benar semacam uji ketangkasan. Bagi orang luar Mentawai (bukan penduduk asli Mentawai), pastilah tanjakan tersebut memberatkan. Dan saya juga melihat pak Bupati masih tersengal-sengal ketika saya tiba di sana.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-untuk-Mentawai-bersama-.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-88" title="RBP-untuk-Mentawai-bersama-bupati" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-untuk-Mentawai-bersama--300x244.jpg" alt="RBP-untuk-Mentawai-bersama-bupati" width="300" height="244" /></a>Kemudian Bupati mempersilakan saya duduk di samping beliau dan memperkenalkan diri saya dengan bahasa Mentawai kepada penduduk yang hadir dalam pertemuan tersebut. Kesan yang dapat saya tangkap, Bupati Mentawai adalah seseorang yang sangat sederhana dan mau mendengarkan suara masyarakatnya. Ruang pertemuan hanyalah sebuah gubuk terbuka namun beliau dengan penuh antusias memperhatikan dengan seksama perkataan warganya. Sebuah pembelajaran yang luar biasa artinya bagi saya sebagai seorang pemimpin yang baru menjabat 3 bulan sebagai wakil walikota.</p>
<p>Beliau akan mengakhiri masa jabatan pada awal 2011 ini setelah 2 periode memimpin Mentawai. Dalam pertemuan tersebut ternyata bupati sedang mensosialisasikan perlunya masyarakat di kepulauan mentawai bermukim di atas bukit atau menjauhi pantai demi keselamatan mereka sendiri. Bupati juga menyampaikan bahwa berdasarkan prakiraan berbagai ilmu tentang geologi, Mentawai adalah daerah yang rawan gempa dan Tsunami.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-Mentawai.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-89" title="RBP-Mentawai" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-Mentawai-300x201.jpg" alt="RBP-Mentawai" width="300" height="201" /></a>Bagi masyarakat Mentawai, hal itu pun sebenarnya juga telah mereka sadari sejak lama. Sehingga ada semacam kearifan lokal yang mengajarkan kepada masyarakat Mentawai untuk tidak bermukim di pantai. Kearifan lokal ini pun selalu disampakan secara turun-temurun secara lisan. Kenyataan ini bisa dilihat dari profesi penduduk asli Mentawai itu sendiri. Mereka cenderung memilih sebagai petani kopra dan bukan sebagai nelayan. Memang agak aneh, orang pantai namun tidak bekerja sebagai nelayan. Mungkin hal ini dikarenakan ganasnya ombak serta kemungkinan Tsunami yang selalu mengancam ditambah kearifan lokal yang telah mereka pahami.</p>
<p>Oleh sebab itu, ketika bupati menyampaikan keinginan pemerintah untuk merelokasi pemukiman berpindah ke atas bukit tidak terlalu banyak pertentantangan yang dihadapi. Masyarakat Mentawai pun memiliki kesadaran akan hal itu. Jika mereka masih sering ke pantai itu dikarenakan persoalan ekonomi semata. Di pantailah mereka bisa menukarkan (barter) hasil kopra yang diolah masyarakat menjadi minyak atsiri kepada para pedagang yang merapat di pantai. Untuk memenuhi hal itu, tidak ada alternatif lain, selain melalui jalur laut. Sementara, pemerintah lamban menyiapkan dan memperbaiki jalur angkutan di darat.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-Mentawai2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-90" title="RBP-Mentawai2" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-Mentawai2-300x201.jpg" alt="RBP-Mentawai2" width="300" height="201" /></a>Setelah bertemu sebagian masyarakat dusun, Bupati ingin bertemu lagi dengan seluruh kepala dusun yang ada di desa itu. Ternyata desa itu memiliki 6 dusun. Dan kepala-kepala dusun sudah siap untuk bertemu serta berdialog dengan bupati. Untuk mengadakan pertemuan tersebut dicarilah tempat yang agak luas yang berada di perkampungan asal. Maka bupati beserta beberapa pejabat Pemkab. Mentawai kembali menuruni bukit untuk bertemu para pemimpin dusun. Sebab di bukit itu hanya dihuni oleh pengungsi dari dua dusun saja.</p>
<p>Akhirnya terkumpulah 6 orang kepala dusun yang diajak berembuk supaya bersepakat merelokasi pemukiman di kilo dua atau kilo 14 dan kilo 37. Karena di titik tersebut telah ada jalan ex HPH milik PT. Minas.</p>
<p>Singkat cerita, proses sosialisasi berjalan lancar dan setiap kepala dusun bersepakat untuk merelokasi pemukiman ke atas bukit yang berdekatan dengan jalan dari kilometer 1 sampai kilometer 40. Sementara dusun 1 sampai dusun 6 di daerah desa Monai Bulasat akan ditempatkan di sekitar Kilo 2. Setelah sosialisasi dilaksanakan kami kembali menuju pulau Pagai Utara atau pelabuhan Sikakap.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-Mentawai3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-91" title="RBP-Mentawai3" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/RBP-Mentawai3-300x201.jpg" alt="RBP-Mentawai3" width="300" height="201" /></a>Sekitar 30 menit menuju perjalanan pulang,  kami dihadang oleh hujan dan badai yang cukup besar. Namun karena kami naik kapal yang relatif besar, maka goncangan yang dirasakan tidaklah terlalu hebat. Dalam perjalanan terdapat long boat milik Pemkab. Mentawai dengan lincah berliuk di antara ombak-ombak yang besar. Berdasarkan informasi, operator long boat itu memang tergolong operator pilihan yang biasa bermain di pantai barat Sumatera. Dan memang orang-orang seperti mereka sangat diperlukan karena keterampilan operator adalah satu hal yang sangat penting bagi keselamatan penumpang. Setelah hari gelap, sekitar jam 8 malam, kami tiba di sekitar daerah Sikakap. Kapal mengantarkan Bupati ke kediaman pribadi beliau di Nemnem, kampung halaman Bupati di Pagai Utara. Setelah dari Nemnem barulah kami merapat di pelabuhan sikakap kembali (Bersambung&#8230;)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-2.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RBP untuk Mentawai (1)</title>
		<link>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-1.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-1.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 04:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[bencana mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[korban mentawai]]></category>
		<category><![CDATA[Radar Banjar Peduli]]></category>
		<category><![CDATA[RBP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Jum’at, 5 Nopember 2010, Radar Banjar Peduli (RBP) memberangkatkan relawan ke Mentawai, Sumatera Barat. Keberangkatan ini bertujuan untuk melihat langsung kerusakan alam di Mentawai akibat Tsunami, serta melakukan identifikasi jenis bantuan yang paling sesuai dengan situasi dan keadaan di sana. Tim keberangkatan RBP kali ini terdiri atas tiga orang. Yakni Yohandromeda, Randu Alamsyah dan saya sendiri. Kami berangkat melalui bandara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/mentawai.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-77" title="mentawai" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/mentawai-300x201.jpg" alt="mentawai" width="300" height="201" /></a>Jum’at, 5 Nopember 2010, Radar Banjar Peduli (RBP) memberangkatkan relawan ke Mentawai, Sumatera Barat. Keberangkatan ini bertujuan untuk melihat langsung kerusakan alam di Mentawai akibat Tsunami, serta melakukan identifikasi jenis bantuan yang paling sesuai dengan situasi dan keadaan di sana.<span id="more-75"></span></p>
<p>Tim keberangkatan RBP kali ini terdiri atas tiga orang. Yakni Yohandromeda, Randu Alamsyah dan saya sendiri. Kami berangkat melalui bandara Syamsudin Noor kemudian transit di Jakarta dan tiba sekitar pukul 3 sore di bandara Minangkabau, Padang.</p>
<p>Di sana kami langsung menemui Sukri, kebetulan adalah Pimred Padang Express sekaligus kontak RBP di Sumatera Barat. Sukri mengatakan bahwa sore itu ada 14 pasien korban Tsunami dari Sikakap Kab. Mentawai  telah tiba menuju RS. Dr. Abdul Jamil, Padang.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/membesukkorbanmentawai.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-76" title="membesukkorban mentawai" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/membesukkorbanmentawai-300x201.jpg" alt="membesukkorban mentawai" width="300" height="201" /></a>Informasi selanjutnya ditambahkan oleh ketua DPRD Kab. Mentawai yang mendampingi korban, “Pasien diberangkatkan dengan helikopter,” ujarnya sambil menjelaskan alasan utama korban dikirim ke Padang adalah karena keterbatasan dalam merawat pasien selama di  puskesmas Sikakap, Mentawai.</p>
<p>Setelah menjenguk korban, kami langsung bergegas agar dapat ke Mentawai secepatnya. Berdasarkan informasi di lapangan ternyata kapal bernama Hiu Macan akan bertolak dari pelabuhan TPI Bungus, Padang, jam 12 malam. Kapal Hiu Macan adalah milik Departemen Perikanan dan Kelautan. Kapal Hiu Macan merupakan kapal tercepat yang beroperasi di perairan Indonesia. Kapal ini bisa melaju dengan kecepatan 30 Knot/jam.</p>
<p>Sekitar jam 10 malam kami berangkat ke pelabuhan TPI Bungus padang. Di sana kami tidak hanya bertiga, tapi ada 9 sukarelawan asal Jepang dan beberapa orang pakar Tsunami dari berbagai mancanegara.</p>
<p>Berdasarkan perkiraan, antara jarak Padang – Sikakap perjalanan akan dapat ditempuh sekitar 3 &#8211; 4 jam menggunakan kapal Hiu Macan. Tapi berhubung saat itu kapal Hiu Macan juga harus membawa kapal bantuan dari menteri Perikanan dan Kelautan untuk Pemkab.Mentawai, kapal Hiu Macan tak dapat melaju dengan kecepatan maksimal. Itu artinya waktu dalam perjalanan akan menjadi lebih lama hingga 5-6 jam.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Merasakan Amuk Gelombang</strong></p>
<p>Kami berangkat dari dermaga TPI Bungus Padang sekitar jam 12 malam. Jika sesuai jadwal kami akan tiba di Sikakap jam 6 pagi. Perlahan kami segera menaiki kapal Hiu Macan dengan perasaan tidak sabar segera tiba di Sikakap. Alangkah terkejutnya &#8211; sekitar pukul 2 dini hari &#8211; kapal yang kami tumpangi dihantam ombak besar akibat badai. Awalnya hanya cemas, namun hantaman demi hantaman ombak membuat beberapa penumpang panik. Mereka berteriak agar pelampung segera dibagikan.</p>
<p>Rasa cemas itu juga saya alami. Bagaimana tidak, dalam situasi tersebut untuk berdiri tegap saja sulit. Sebisanya kami mempertahankan diri dengan memegang benda-benda seperti meja, kursi dan tiang.</p>
<p>Dalam keadaan panik, sesuatu yang lucu pun terjadi. Ketika Yohan diberi satu pelampung, ternyata pelampung itu tidak muat masuk ke badan Yohan. Lalu Yohan kebingungan namun saya tidak ingat persis kejadian selanjutnya karena kami sibuk memikirkan diri kami sendiri.</p>
<p>Amuk gelombang tak juga kunjung reda. Beberapa penumpang terlihat ada yang mulai muntah. Saya tetap bertahan dengan duduk di kursi dan meja yang kaki-kakinya tertanam di lantai kapal. Tangan saya kemudian mencengkeram kuat tiang yang menjulur di tengah meja tersebut. Sempat saya perhatikan sekeliling, rupanya hampir semua penumpang kecuali awak kapal tidak ada lagi yang sanggup berdiri atau beraktifitas. Tanpa sadar, rasa kantuk pun mengalahkan rasa mual. Akhirnya saya tertidur dalam keadaan duduk dan tangan yang masih mencengkeram tiang.</p>
<p><strong>Tiba di Sikakap, Pagai Utara</strong></p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/alammentawai.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-78" title="alam mentawai" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/alammentawai-300x201.jpg" alt="alam mentawai" width="300" height="201" /></a>Ketika saya terbangun, tampaknya masa-masa sulit tadi malam telah berakhir. Di luar matahari juga telah terbit. Rasa cemas tiba-tiba tergantikan dengan suasana hati yang membiru. Air laut yang biru dan pulau-pulau pun terlihat sangat indah. Saya dan teman-teman kagum dengan eloknya pemandangan itu. Saat melongok ke samping dan belakang kapal, beberapa sampan penduduk mengiringi kapal kami dengan membawa buah-buahan untuk diperjualbelikan.</p>
<p>Tak lama kemudian kami tiba di dermaga Sikakap Kec. Pagai Utara. Di sana kami juga melihat berbagai macam kapal milik TNI dan Polri. Ada KRI Teluk Cirebon, KRI Pasopati, ada KRI Teluk Ambon, serta kapal-kapal lainnya.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/sampan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-79" title="sampan" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/sampan-300x201.jpg" alt="sampan" width="300" height="201" /></a>Jika ada yang datang maka ada pula yang pergi untuk pulang.  Di dermaga itu kami saksikan banyak relawan yang bersiap pulang. Tapi kedatangan kapal-kapal tak sebanding jumlahnya dengan kapal yang akan membawa mereka pulang lewat Padang. Akhirnya para relawan itu harus bersabar dan setia untuk menunggu di dermaga.</p>
<p>Setelah kapal yang kami tumpangi benar-benar merapat, kami segera mencari warung serta tempat penginapan sebelum melanjutkan tugas sebagai relawan. Ketika kami sedang sarapan dengan lauk yang sederhana, seorang wanita bule asal Jerman yang juga relawan menghampiri kami. Saya masih ingat, wanita bule itu juga berangkat bersama kami menggunakan kapal Hiu Macan. Setelah <em>say hello,</em> wanita Jerman itu kemudian bertanya kepada salah seorang teman kami.</p>
<p>“Sudah sembuh?” tanya si wanita Jerman. Kami segera tertawa karena teman saya itu tidak mengaku kalauu malam tadi ia muntah-muntah. Kemudian si Jerman itu memberi obat seraya berkata “Minum obat ini lagi?” Ucapan wanita Jerman itu seakan membuka kedok teman saya tadi.</p>
<p>Ketika kami terus menertawakan, wanita Jerman itu berkata, “Kenapa tertawa? Kalau seseorang mabuk laut karena tidak biasa di laut itu biasa dan tidak perlu ditertawakan,” katanya.Wanita Jerman itu kemudian memberikan advice. “Kalau mau berlayar maka 1 jam sebelum berlayar minum antimo dan dalam perjalanan minum obat sakit mag. Mendengar ucapan wanita Jerman itu semakin nyaringlah kami tertawa dengan nasehat-nasehat dia.</p>
<p>Usai sarapan, kami kemudian berjalan sekitar 300 Meter. Dari berbagai informasi, kami mengetahui bahwa di Sikakap terdapat 2 wisma penginapan. Pertama, wisma Bagindo. Kedua, wisma Lestari. Kami menuju wisma Bagindo dan menanyakan apakah masih tersisa kamar. Ternyata tidak ada lagi kamar kosong yang tersedia di sana. Demikian pun yang terjadi di wisma Lestari. Semua tempat sudah penuh. Beruntung di Wisma lestari kami bertemu Kapten Hari Udin, Kepala Teritorial Kodim Mentawai. Dengan pertolongan beliau akhirnya kami bisa mendapat 1 kamar yang sangat sederhana…(bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/rbp-untuk-mentawai-1.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendidikan dan Ruang Perkotaan</title>
		<link>http://ogifajar.com/pendidikan-dan-ruang-perkotaan.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/pendidikan-dan-ruang-perkotaan.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 03:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[kota banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[ruang kota]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa SD (Inpres) ditutup atau digabungkan karena kekurangan murid! Demikian antara lain fenomena yang terjadi pada tahun  90’an hingga tahunan 2000’an. Lebih dari itu terdapat pula SLTP dan SLTA negeri juga mulai kekurangan murid. Berbagai alasan, penjelasan atau analisa pun beragam untuk menjelaskan fakta di atas. Salah satu alasan yang berbau promosi seperti “KB kita berhasil sehingga anak usia sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/petasekolah.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-72" title="peta sekolah banjarbaru" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/petasekolah-300x240.jpg" alt=" peta sekolah banjarbaru" width="300" height="240" /></a>Beberapa SD (Inpres) ditutup atau digabungkan karena kekurangan murid! Demikian antara lain fenomena yang terjadi pada tahun  90’an hingga tahunan 2000’an. Lebih dari itu terdapat pula SLTP dan SLTA negeri juga mulai kekurangan murid. Berbagai alasan, penjelasan atau analisa pun beragam untuk menjelaskan fakta di atas. Salah satu alasan yang berbau promosi seperti “KB kita berhasil sehingga anak usia sekolah dasar dan menengah menjadi jauh berkurang” (wah hebat benar ya?). Namun pada situasi lain, orang tua rebutan bangku sekolah untuk anaknya ketika tahun ajaran baru. Dalam situasi seperti ini sesungguhnya saya tidak merasa ahli untuk berkomentar, yang ingin saya ungkapkan adalah fakta, yang terjadi dimana saya lahir dan dibesarkan di kota Banjarbaru. <span id="more-71"></span></p>
<p>Ketika mulai mengenal pendidikan, saya mengetahui di tiap sudut Banjarbaru terdapat Sekolah Dasar. Kala itu Banjarbaru sebagai kawasan pemukiman terbagi ke dalam dua katagori. Pertama Kawasan pemukiman (baru), yang dibangun mulai tahun 50’an, kemudian kawasan pemukiman lama. Kawasan pemukiman baru ini terbagi menjadi empat bagian utama dan satu suplemen. Bagian utama disebut Banjarbaru I, II, III dan IV. Sedangkan kawasan pemukiman baru (suplemen) antara lain Komplek Projakal (Proyek jalan Kalimantan – Kerja Sama Rusia dan Indonesia-), Komplek PLN (sampai sekarang), Komplek Aneka Tambang, Komplek Proyek Besi Baja, dan Komplek Asrama, TNI Polri yang tersebar. Adapun kawasan pemukiman lama  adalah daerah yang kita kenal seperi Simpang Empat Banjarbaru, Cempaka, Guntung Payung dan Landasan Ulin.</p>
<p>Di masa itu ,dengan visi yang luar biasa para pembuat tapak (site plane), telah menempatkan fasilitas umum dan cadangan lahan untuk utilitas kota lainnya pada posisi yang tepat dan berjangkauan jauh kedepan. Sebagai contoh, Sekolah Dasar ditempatkan pada tiap titik pemukiman. Selanjutnya titik-titik pemukiman diletakkan pada posisi yang “berjarak cukup” dengan jalur transportasi  ekonomi. Strategi ini membuat kawasan pemukiman Banjarbaru menjadi relatif terjaga, artinya tidak cepat berubah menjadi kawasan “ekonomi atau bisnis”. Sehingga sekolah-sekolah tetap mendapat pasokan murid.</p>
<p>Kemudian karena SLTP dan SMU kala itu hanya dibangun satu buah, maka peletakkannya berada di pertengahan antara Wilayah Barat  Banjarbaru (Gutung payung-Landasan Ulin) dan Wilayah Timur Banjarbaru (Simpang Empat-Cempaka mungkin juga wilayah Martapura). Proses perencanaan yang matang ini, membuat sekolah-sekolah didirikan hingga saat ini tetap pada titik equbelirium (memperoleh keseimbangan sosial). Jika kemudian pada beberapa waktu lalu terdapat Sekolah Dasar yang kekurangan murid dapat dipastikan sekolah tersebut adalah produk (inpres) yang perencanaan tata letaknya memang acak-acakan.</p>
<p>Apa yang telah dilakukan para pendahulu merupakan sebuah “cindera mata” yang berharga. Walaupun pada saat ini proses ideal pada masa lalu sukar diperoleh, mengingat beberapa perubahan yang membuat sangat banyak “variabel” yang harus dikendalikan, namun paling tidak harus tetap ada orang yang bersuara : Dalam merancang Kota, jangan hanya berpikir dimana letak pabrik, ruko dan sebagainya. Para designer kota  harus dapat berpikir dengan seksama, dimana sebaiknya sekolah diletakkan. Pemikiran ini harus terus mengemuka, jika Banjarbaru tetap menjadikan dirinya sebagai kota yang memiliki sarana pendidikan memadai  sebagai kota Pendidikan.</p>
<p>Peletakkan utilitas kota yang berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan dari sisi perencanaan (yang saya ketahui biasanya hanya dibicarakan sepintas saja). Para perencana lebih doyan ngomong prospek ekonomi. Artinya mereka getol mendiskusikan peletakkan sarana dan prasarana ekonomi, atau perencanaan dalam konteks pelestarian lingkungan. Mengapa demikian? Karena kalau orang berbicara tentang rencana kawasan industri, pengembangan ekonomi, maka yang bersangkutan telah teridentifikasi sebagai pembaharu, atau orang yang dapat menjanjikan perubahan ekonomi. Kita terpukau dan merasa bersimpati, karena kita telah menjadi masyarakat konsumerisme dan materialistik. Jika kemudian orang berteriak-teriak tentang perlunya kawasan penyangga untuk kelestarian lingkungan hidup, maka orang tersebut akan menjadi populer sebagai pahlawan lingkungan. Kepopuleran ini akan membawa dia diberitakan media masa bahkan mungkin mendapat perhatian luas dari negara donor.</p>
<p>Para pencita ekonomi adalah penting, para pencinta lingkungan juga penting, namun yang sekarang merepotkan,  kita sedang mencari-cari orang yang mau mencintai pendidikan, orang yang mau berpikir dengan serius, bahwa pendidikan itu penting.  Jika terdapat ribuan guru yang berjuang untuk pendidikan, itu adalah fakta. Kemudian terdapat sekian banyak  orang yang mendermakan uangnya bagi pendidikan, ini  juga adalah fakta. Akan tetapi, ketika kita mencoba membangun pendidikan melalui konstruksi yang komprehensif (menyeluruh) institusi pemerintah atau masyarakat kita cenderung tidak siap untuk itu.</p>
<p>Menurut saya ketika pendidikan akan diperbaiki atau dibangun, disamping penataan manajemen pendidikan yang bersifat ke dalam, harus pula didukung penuh oleh perencanaan–perencanaan disektor lainnya. Seperti mensinkronisasi letakan rencana kawasan pendidikan dengan rencana lainnya dalam penataan ruang. Perencanaan ini tentunya harus dengan jelas dan terperinci serta argumentatif mengapa satu kawasan diletakkan pada titik A bukan pada titik B. Artinya dimana kawasan pendidikan diletakkan, harus didasari oleh argumen seperti, kecukupan murid, transportasi serta berjauhan dengan kawasan yang tidak bersahabat dengan pendidikan.</p>
<p>Ketika Banjarbaru akan direncanakan berkembang ke arah Selatan, sebelum “terlanjur” selain ploting kawasan permukiman, perdagangan dan jasa, berpikirlah serius dimana kawasan pendidikan yang idealnya akan dibangun, dan  berhitunglah dengan segala implikasinya? Apa yang saya ungkapkan ini adalah riak kecil di  tengah gelombang samudra. Mudah-mudahan bisa dilihat dan didengar oleh para pakar pendidikan yang mulia serta dan para petinggi yang terhormat. Amien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/pendidikan-dan-ruang-perkotaan.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Imitasi Sosial di Banjarbaru?</title>
		<link>http://ogifajar.com/imitasi-sosial-di-banjarbaru.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/imitasi-sosial-di-banjarbaru.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Nov 2010 03:27:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan di banjarbaru]]></category>
		<category><![CDATA[sosial masyarakat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Untuk Apa Pendidikan? Apa sih tujuan pendidikan? Demikian tanya seorang profesor disuatu perkulihan. Diskusi dan perdebatan kemudian terjadi namun hingga perkuliahan berakhir pun tidak menghasilkan kesimpulan pasti. Dari sekian banyak pendapat, ada satu ungkapan yang hampir diamini semua orang: Pendidikan bertujuan untuk menjadikan anak didik sebagai “manusia” (humanisme). Mengapa demikian? Karena pendidikan akan sia-sia jika seseorang, kemudian menjadi “tidak berprikemanusiaan”, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Untuk Apa Pendidikan?</strong></p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/pendidikan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-68" title="pendidikan" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/pendidikan-300x220.jpg" alt="pendidikan" width="300" height="220" /></a>Apa sih tujuan pendidikan? Demikian tanya seorang profesor disuatu perkulihan. Diskusi dan perdebatan kemudian terjadi namun hingga perkuliahan berakhir pun tidak menghasilkan kesimpulan pasti. Dari sekian banyak pendapat, ada satu ungkapan yang hampir diamini semua orang: <strong>Pendidikan bertujuan untuk menjadikan anak didik sebagai “manusia” (humanisme).</strong> Mengapa demikian? Karena pendidikan akan sia-sia jika seseorang, kemudian menjadi “tidak berprikemanusiaan”, “egois”  atau “menipu orang lain” . <span id="more-67"></span></p>
<p>Adakah sekolah yang mengajar orang menjadi penipu atau pembohong? Secara eksplisit hal ini mungkin tidak pernah terjadi. Namun harus dipahami, pendidikan sebagai proses belajar, tidak hanya kegiatan mendengar dan mencatat pelajaran di sekolah atau bangku kuliah. Bandura seorang pemikir yang mengusung teori pembelajaran  sosial,  seperti halnya Alfred. Y. Raimer, Ivan Ilich atau Paolo Piere pada intinya mereka berpendapat : “Pendidikan bukan hanya soal duduk dan belajar di sekolah!”</p>
<p>Melalui proses sosial, masyarakat dan pemerintah mungkin saja mendidik seseorang atau warganya menjadi intelektual, kiai   atau  begundal   bahkan provokator. Pada titik ini masyarakat tinggal memilih ingin dijadikan apa generasi mendatang. Jika proses sosial di “manage” dengan positif maka akan lahir generasi yang brilian Sebaliknya, tebak saja sendiri apa hasilnya?</p>
<p><strong>Pendidikan dan Proses Imitasi</strong></p>
<p>Pendidikan sebagai upaya menjadikan generasi datang sebagai “manusia” tentunya tidak selesai jika hanya diperbincangkan lewat strategi persekolahan belaka. Walau harus diakui sekolah adalah pilar utama untuk menopang proses pendidikan. Analisis terhadap beberapa fenomena yang berkembang pada generasi muda kita, sesungguhnya sangat refresentatif jika didekati dengan term “ proses pembelajaran sosial” seperti yang dianut oleh Bandura atau Ivan ilich dan kawan-kawan. Sebagai contoh : Polisi mungkin saja benar,  mengusulkan agar dipasang pita getar (Polisi Tidur) di seputar lapangan Murdjani.  Upaya ini diharapkan akan menjadi resep “Ces-Pleng” agar mereka yang doyan ngebut menghentikan aktivitasnya.</p>
<p>Sebagai tindakan yang bersifat “refresif “, menghalau para “racer jalanan” atau melakukan “shock therapy” dengan senjata tilang dan razia,  adalah sesuatu kewajiban dan  sah bagi penegak hukum. Namun pada level analisis kebijakan, pola pikir ini tidak boleh berhenti pada titik tersebut. Harus ada orang atau institusi yang berpikir: “Mengapa demikian banyak remaja yang kebut-kebutan (di Lap. Murdjani misalnya). Salah satu referensi yang pernah saya baca danpfahami, pada diri remaja atau siapa saja terdapat sifat ingin meniru  idola atau panutannya (proses imitasi).</p>
<p><strong>Siapa yang di Imitasi</strong></p>
<p>Jika di simak pada hampir semua media memberitakan perkembangan balap mobil F1 (Formula 1),  Grand Prix Super Bike atau Gran Prix 500. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan berita hangat dan laris dijual. Perhatikan saja terdapat banyak terbitan atau kolom yang khusus “ngomongin” sepeda motor/mobil dan segala tetek bengeknya. Banyaknya kolom itu dibaca (dibeli) para muda kita (ABG) adalah fakta yang menunjukan berita tersebut memang digemari. Secara sosiologis setelah  menggemari, kemudian lahirlah proses “imitasi”.</p>
<p>Secara ringkas proses ini diartikan sebagai keinginan  meniru  apa yang dilakukan oleh seorang idola. Jika para pembalap yang diidolakan, maka kebut-kebutan di jalan raya boleh jadi adalah bagian dari proses tersebut. Pada bagian lain  “Hot News”  perkembangan kompetisi Sepak Bola seperti Liga serie A Italia,  Inggris atau Spayol adalah berita dengan klasifikasi yang sangat digemari. Berita Liga basket Amerika (NBA)  adalah kompetisi yang juga diminati ribuan penggermar yang lazim disebut NBA Mania. Semua “Hot News” tersebut pada prinsipnya akan melahirkan upaya imitasi dari para penggemar.</p>
<p>Jika para menggemar berita F1, GP Super Baike atau GP 500, kemudian mengimitasikan diri dengan cara kebut-kebutan di jalan, dari telisik interaksi humanisme hal tersebut adalah sebuah “kewajaran”. Persoalannya kemudian menjadi runyam, ketika proses peniruan tersebut dianggap mengganggu keselamatan jiwa orang lain. Kerunyaman menjadi semakin “amburadul”  ketika pengemar sepak bola tidak dapat mengimitasi diri menjadi Zidane atau Batistuta (misalnya), karena terbatasnya sarana olahraga. Demikian juga para NBA mania yang proses imitasinya terhalang karena tidak tersedianya fasilitas yang cukup.</p>
<p>Miskin dan kurangnya failitas bagi para muda yang ingin mengimitasi idolanya,  pada akhirnya membuat kebuntuan penyaluran proses tersebut Jadilah para Sepak Bola mania, basket mania dan mania lainya, berbondong-bondong turut menonton proses imitasi dari mereka yang doyan “balap”.  Para “Racer Jalanan” sangat gampang melakukan proses imitasi, karena  jalan raya ada dimana-mana, mereka punya sepeda motor kemudian Polantas kita belum kelihatan wibawanya.  Disisi yang berseberangan para pembalap yang ditonton menjadi semakin bersemangat  karena “stimulus yang tumbuh” lewat para mania lain yang menjadi suporter mereka, sehingga kadang terlihat jadi semakin nekat.</p>
<p><strong>Lalu Bagaimana?</strong></p>
<p>Bercermin dari ini, orang tua,  memerhati kaum muda, pengambil kebijakan atau aparat penegak hukum, sangat arif jika berdiskusi, kemudian memperbincangkan jalan keluar yang sifatnya terstrukur. Artinya mereka yang merasa tua dan berkuasa jangan hanya marah melulu kemudian menuding dengan alasan basi seperti; kenakalan remaja, membahayakan jiwa orang lain, rembesan budaya asing, ajang narkoba dan banyak lagi stigma klise sejenis itu. Pikirkan perencanaan, pengembangan dan pemeliharaan ruang publik. Bina secara proporsional dengan serius ikon-ikon yang digemari para muda, seperi sepak bola, Bala basket, panjat dinding, Volly ball  skater group (Skate Board), Scooter Club atau kegiatan-kegiatan seni, seperti Band remaja, Dance group,  Cheer Leader dan kegiatan lainya yang sedang ngetren. Banyak sekali peluang untuk merangkul para remaja atau kawula muda. Rangkulan ini akan membuat “proses imitasi” mereka akan beragam  dan terarah  sehingga tidak lagi menumpuk di satu tempat yang kemudian dirasa merepotkan  banyak orang. Suka atau tidak ABG saat ini adalah penentu bangsa kita pada masa datang. Perlakukanlah mereka dengan wajar, penuh empati dan  kasih sayang.</p>
<p>Satu hal lain yang juga harus diingat, apa yang pernah dilalui generasi terdahulu, proses dan situasinya tidaklah sama dengan  proses  dan kejadian yang saat ini  berlangsung. Generasi yang tumbuh pada era 80’an sunguh berbeda dengan mereka yang tumbuh pada era 90’an, demikian seterusnya. Aksioma ini harus dipahami agar tidak ada monopoli pemikiran tentang  pakem proses pembinaan para muda kita. Ngomongin ABG  beserta pernak-perniknya dengan serius menurut saya pada saat ini sangat bernilai strategis, karena apakah kita mau jadi bangsa comberan atau bukan, sangat ditentukan dari rangkaiaan proses ini.</p>
<p>Seorang teman pernah mengeluh, kok politisi,  birokrat atau para aktifis,  sukanya cuma ngomong soal-soal politik tingkat tinggi, dengan intensitas dan kerapatan yang luar biasa, semisal setelah soal Tomy dan tetek bengeknya, muncul Rahardi Ramlan Cs, Kemudian Akbar Tanjung, lalu Asramagate kemudian apa lagi ya? Pun di tataran local, berita Alur Barito dengan berbagai varian adalah “berita penting” yang terus memonopoli halaman media kita.</p>
<p>Jika hanya soal politik yang kita omongin, dimana ABG kita berada?. Kalapun ada yang ngomongin ABG biasnya hanya seputar mode,  kegiatan ekskul yang sifatnya sporadik, bukan pemikiran terstruktur tentang mau diapain para muda kita ini. Terkesan ngomongin segala macam problem atau aspirasi para muda (ABG) kita tidak memiliki nilai jual politik, apa lagi mendongkrak popularitas untuk sampai pada posisi sebagai tokoh, pengamat atau politikus yang disegani (padahal disegani itu penting ya?) Lebih dari itu, ngrurusin ABG sering dikomentarin miring, seperti kata seorang teman baik, “Wah pantas awet muda, urusannya ABG melulu sih,” dengan tatapan mata genit  penuh  kecurigaan. Kalau sudah begini mau apa lagi? Dengan segala kekonyolannya teman lain nyeletuk, “Salah-salah rumah tanggamu jadi taruhan!” Nah lho, kalau  seperti ini masalahnya, siapa yang tidak keder!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/imitasi-sosial-di-banjarbaru.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kreatifitas?</title>
		<link>http://ogifajar.com/kreatifitas.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/kreatifitas.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 16:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Kreatifitas adalah satu hal yang mudah diucapkan namun relatif sulit untuk dibentuk atau dibangun. Apalagi slogan “Dengan Kesenian Kita Tingkatkan Kreatifitas Remaja” misalnya, adalah slogan yang benar-benar memerlukan kesungguhan untuk mewujudkannya. Kesungguhan yang dimaksud adalah keseriusan dalam pemikiran daya dan upaya, karena kalimat romantis atau heroik saja, belum cukup untuk mewujudkan cita-cita itu. Membangun kreatifitas masyarakat melalui kesenian, tak cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/kreatifitas.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-65" title="kreatifitas" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/kreatifitas-300x240.jpg" alt="kreatifitas" width="300" height="240" /></a>Kreatifitas adalah satu hal yang mudah diucapkan namun relatif sulit untuk dibentuk atau dibangun. Apalagi slogan “Dengan Kesenian Kita Tingkatkan Kreatifitas Remaja” misalnya, adalah slogan yang benar-benar memerlukan kesungguhan untuk mewujudkannya. Kesungguhan yang dimaksud adalah keseriusan dalam pemikiran daya dan upaya, karena kalimat romantis atau heroik saja, belum cukup untuk mewujudkan cita-cita itu.<span id="more-64"></span></p>
<p>Membangun kreatifitas masyarakat melalui kesenian, tak cukup dengan talenta saja. Diperlukan mekanisme manajerial untuk sampai pada titik pencapaian. Secara praktis kita lihat Jepang saat ini. Mereka telah mampu mengeser kedudukan Hollywood (Amerika dan Eropa) untuk  Film Kartun, Animasi, Komik dan Buku Bacaan. Setelah sekian lama, Buku Bacaan, Komik serta Film Kartun dan Animasi Amerika dan Eropa merajai pasaran dunia.</p>
<p>Pada tahun 80’an, hampir seluruh anak-anak dan remaja di dunia tentu mengenal sosok Tintin detektif cerdik dengan anjing kecilnya yang lucu. Mereka tentunya juga mengenal sosok Micky Mouse yang lucu dan menggelikan itu. Dimulai dengan Film Animasi The Lion King, kemudian dilanjutkan Petualangan Mulan yang gagah berani, nilai-nilai Asia pun akhirnya mulai merambah Hollywood. Untuk diketahui, ternyata The Lion King adalah cerita khayalan dari kartunis Jepang yang kemudian dikembangkan oleh industri film Hollywood.</p>
<p>Sebelum masa tahun 80’an artinya pada era 70’an, anak-anak dan remaja di dunia mengenal sosok Tarzan atau si Kaki Besar Geronimo dari suku Apache dalam cerita fiksi karya Karl May. Di Indonesia pada tahun 70’an anak-anak dan remaja mengenal super hero versi Indonesia seperti; Godam si tangan kuat dan bisa terbang, Aquanus si manusia air, Gundala si Putra Petir dan lainnya.</p>
<p>Sekarang ini tak banyak lagi anak-anak atau remaja yang menyimak Micky Mouse apalagi cerita Godam, Gundala dan sejenisnya. Minat mereka bergeser pada komik, Film Kartun dan Animasi yang produksinya telah dikuasai oleh Jepang. Hanya beberapa komik atau bacaan barat yang diminati oleh remaja dan anak Indonesia seperti Harry Potter dan Lord Of The Ring. Hal ini bisa menandakan bahwa telah terjadi arus perubahan berpikir dari Barat ke Asia (Jepang).</p>
<p>Komik, Buku Bacaan, Film Kartun atau Animasi memang salah satu bentuk dari produk berkesenian, hal ini tentunya tak terbantahkan. Namun efek lain yang juga harus dicermati pada era informasi seperti sekarang ini, negara yang menguasai arus informasi pada sektor Komik, Buku Bacaan, Film Kartun dan Animasi tentu memiliki sisi keunggulan tersendiri dalam persaingan lainnya.</p>
<p>Apakah keberhasilan Jepang merebut kiblat itu hanya berdasar talenta atau bakat dari Komikus, Kartunis atau Animator saja? Lalu apakah pencapaian itu dapat diraih dalam waktu yang  singkat? Jika kita amati apa yang telah diraih oleh Jepang tentunya melalui usaha yang serius dan sungguh-sungguh dalam waktu relatif panjang.</p>
<p>Pada tahun 80’an dalam sebuah kolom laporan perjalanan seorang Kartunis Indonesia, para Kartunis heran ketika diundang ke Jepang. Mereka di undang dalam suatu acara berkaitan dengan profesi mereka sebagai Kartunis.</p>
<p>Apa yang mereka lihat? Ternyata masyarakat Jepang mengelu-elukan Kartunis yang hadir dalam acara itu. Artinya ketika itu masyarakat Jepang telah sampai pada titik dimana profesi sebagai Kartunis demikian mereka hormati.</p>
<p>Kemudian jika kita perhatikan lebih jauh, ada tradisi berteater dalam kehidupan masyarakat Jepang, dan tradisi ini terus dijaga oleh mereka. Misalkan setiap tahun diadakan festival teater untuk anak-anak dan remaja, kemudian mereka menyiapkan segala keperluan penampilan dengan menjahit baju serta perlengkapan sendiri. Dengan cara ini tentu akan menumbuhkan penghayatan mereka pada kehidupan berkesenian.</p>
<p>Memang terlalu jauh jika kita membandingkan Indonesia dengan Jepang, namun setidaknya hal baik yang mungkin dapat kita lakukan, lakukan segera! Kehidupan berteater di Jepang dapat terus dibangun karena mereka memadukan unsur manajerial dalam pembinaan berkeseniaan. Misalkan, ketika festival teater dilangsungkan, televisi meliput acara itu dari persiapan hingga penampilan group teater.</p>
<p>Dengan cara demikian kreatifitas mereka dapat terus tumbuh dengan berantai melalui pemberitaan. Darimana biaya operasional peliputan itu? Jawabnya adalah iklan. Mengapa para pemasang iklan mau membayar? Karena acara itu banyak ditonton orang. Kenapa acara itu ditonton banyak orang? karena menarik. Mengapa menarik….dst.</p>
<p>Adalah pertanyaan sebab akibat yang bersifat sangat panjang untuk di uraikan dalam tulisan ini. Jika kita perhatikan intinya adalah dibutuhkan spirit untuk terus berbuat baik bagi kejayaan budaya bangsa mereka (Jepang).</p>
<p>Dapat kita lihat salah satu semaraknya kehidupan berteater masyarakat Jepang pada Global TV dalam acara “Masquered”. Sungguh muncul beragam ide-ide yang tak terduga pada acara festival teater itu dan hal ini terus tumbuh dan berkembang.</p>
<p>Sesungguhnya kreatifitas, berkesenian atau apa saja adalah saling berkaitan antara satu aspek dengan aspek lainnya. Sebagaimana teori sistem; Bahwa kehidupan kita saat ini adalah bagian dari kehidupan yang lebih besar dan masing-masing berperan sesuai dengan fungsinya, lalu sistem itu melahirkan kesetimbangan. Jadi mungkin saja dari sisi teori system, kita hanya sebagai pembeli atau konsumen dari para pembuat (Jepang, Eropah dan Amerika). Sekiranya tidak ada gejolak maka sistem ini akan tetap berjalan dalam posisi setimbang. MENYEDIHKAN MEMANG!!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/kreatifitas.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nara Kota yang Romantis dan Cantik&#8230;</title>
		<link>http://ogifajar.com/nara-kota-yang-romantis-dan-cantik.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/nara-kota-yang-romantis-dan-cantik.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 04:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Jindigkisa]]></category>
		<category><![CDATA[nara kota cantik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Beruntung sekali kami diajak Miyuki ’ibu kost’ kami yang baik untuk melihat Nara kota legendaris dalam sejarah perjalanan budaya Jepang. Nara adalah kota yang berdekatan dengan Osaka dan Kyoto, dari Osaka dengan menggunakan kereta api, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam  perjalanan. Nara memang kota wisata, sepintas jika kita berada di Nara, profil kotanya sangat mirip dengan Bogor dan kebun rayanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/rusa.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-59" title="rusa" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/rusa-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Beruntung sekali kami diajak Miyuki ’ibu kost’ kami yang baik untuk melihat Nara kota legendaris dalam sejarah perjalanan budaya Jepang. Nara adalah kota yang berdekatan dengan Osaka dan Kyoto, dari Osaka dengan menggunakan kereta api, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam  perjalanan. Nara memang kota wisata, sepintas jika kita berada di Nara, profil kotanya sangat mirip dengan Bogor dan kebun rayanya yang tersohor itu.<span id="more-58"></span></p>
<p>Ketika memasuki kota Nara, kami disambut oleh penarik Jindigkisa yang ramah,  jika di Hongkong atau China lazim disebut dengan istilah ricksaw yang artinya gerobak tarik berbentuk becak. Mereka memakai seragam lengkap bersepatu. Ada yang lucu ketika bertemu para penarik becak ini, berkebetulan sehari sebelum ke kota Nara, kami diajak rekreasi ke kota Kyoto oleh pantia kejuaraan dunia karate kyokushinkai.</p>
<p>Nah ketika rekreasi itu salah seorang  teman kami telah membeli sepatu yang dia persepsikan sebagai sepatu ninja. Ketika ditanya kenapa membeli sepatu itu ia pun menjawab, “Ini kelihatannya bagus untuk latihan sensei, sepatu inikan sering dipakai oleh para ninja di film-film” jawabnya. Ternyata sepatu yang identik sebagai sepatu ninja justru dipakai sebagai seragam bagi penarik jidigkisa. Lalu bertaburlah seloroh “Disangka sepatu nang ditukar sepatu ninja sekalinya sepatu gasan membecak…ha…ha&#8230;” Sungguh ramai seloroh tentang sepatu ‘model ninja’ yang telah dibeli oleh salah seorang rekan kami itu.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/Jindigkisa.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-60" title="Jindigkisa" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/Jindigkisa-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Ada hal yang menarik ketika kami melihat dua pasang turis minta ditarik dengan Jindigkisa, Ternyata penariknya telah menyiapkan dua kain merah seukuran handuk untuk menutupi kaki, terutama turis wanita yang menggunakan rok atau celana pendek. Demikian santun budaya yang telah diajarkan nenek moyang  bangsa Jepang, di tanah Jepang yang penduduknya bukan beragama Islam, konsep tetang batasan aurat ternyata dipahami juga.</p>
<p>Kota Nara memiliki banyak pepohonan, hewan rusa atau kijang tutul yang bebas berkeliaran sehingga menambah romantisnya kota itu. Namun sungguh sayang keromantisan ini terganggu oleh suara burung gagak yang juga banyak beterbangan di sela-sela pohon-pohon rindang di kota Nara. Perasaan seram dan berkesan angker terhadap burung gagak bisa jadi hanya menjadi milik kita masyarakat Indonesia. Entahlah bagi masyarakat Jepang. Kenapa banyak burung gagak? Saya tidak sempat menanyakan walaupun saya ingin sekali mengetahuinya.</p>
<p>Patung Sang Budha raksasa adalah salah satu obyek wisata yang menjadi salah satu titik tujuan orang datang ke kota Nara. Sang Budha di Kota Nara ini dalam posisi duduk bersila, agak berbeda dengan patung Sang Budha yang di Thailand, dimana patungnya dalam posisi tidur. Kuil dimana  patung Sang Budha berada terdiri dari dua lapis gerbang yang sangat tinggi dan besar, dengan tiang yang terbuat dari batang pohon dua kali pelukan orang dewasa, entahlah apakah diameter pohon sebesar itu masih ada di tanah Kalimantan. Sungguh sedih saya jika mengingat hal ini.</p>
<p>Patung  Sang Budha yang ada di kuil itu jumlahnya ada tiga, dengan posisi sebagaimana titik pada segi tiga atau tombak. Ukuran paling besar berada di depan dan diapit oleh dua lainnya yang lebih kecil. Melalui perbincangan dengan Miyuki dan beberapa orang Jepang, ternyata terdapat hubungan yang erat antara agama Shinto dengan Budha. Sehingga banyak para pelajar dan pengunjung lain yang beragama Shinto turut bersembahyang sebagai mana umat Budha lainnya.</p>
<p>Lelah  juga kaki ketika mengitari kuil itu, menandakan demikian besarnya kuil tersebut. Di luar kuil itulah banyak rusa berkeliaran dengan bebasnya. Bahkan menurut saya agak lucu, di toko-toko sekitar kuil juga ada yang menjual makanan untuk rusa atau kijang. Mungkin karena takut atau karena tidak terbiasa, para rusa atau kijang itu tidak mau mendekati ke makanan atau kue. Tetapi jika kita membeli kue itu, beramai-ramailah para kijang atau rusa mendekat sekaligus menyerbu, bahkan bisa-bisa sampai rusa atau kijang itu salah gigit, menggigit tangan kita.</p>
<p>Kue untuk makanan kijang atau rusa bentuknya bundar dan pipih dijual sekitar 50 yen / bungkus. Selain makanan rusa dan kijang pada toko-toko itu juga dipasarkan beraneka ragam makanan, Ketika pengunjung membeli makanan selain makanan untuk rusa, uniknya para rusa itu tidak mau mendekat. Secara berseloroh salah seorang dari kami menyatakan ‘rupa-rupanya kijang-kijang di sini sudah di tatar atau sudah S2 berataan….he…he…”.</p>
<p>Sebenarnya ingin iseng-iseng mencicipi bagaimana rasanya kue untuk rusa dan kijang itu, Namun sebagai mana ungkapan dalam bahasa Banjar “unjat-mara, unjat mara” alias ragu-ragu, takut kalo menjelma jadi kijang atau rusa benaran…he…he….</p>
<p>Ternyata dari pusat rekreasi di kota Nara telah tersedia bis kota untuk mencapai stasiun guna kembali ke Osaka. Di atas kereta menuju Osaka ramai kami berbincang serta berseloroh tentang hal-hal yang menurut kami lucu. Entah itu tentang sepatu ninja, makanan rusa dan lainnya. Kami terus bercanda dan akhirnya mendapat teguran dari pihak gerbong (dengan bahasa tarsan tentunya…he..he..). Usut punya usut ternyata naik kereta di jepang tidak diperkenankan berbicara atau berseloroh yang menimbulkan keributan atau kegaduhan.</p>
<p>“Ribut dan bercanda saja tidak diperkenankan apalagi ngamen,” sela salah seorang teman yang membuat suasana kembali menjadi nyaris meriah, namun kemeriahan itu terpaksa ditahan-tahan alias tidak berani tertawa lepas lagi.</p>
<p><strong>Antara Nara, Bogor dan Malang</strong></p>
<p>Dari perjalanan ke kota Nara, ada beberapa pelajaran yang bisa saya peroleh. sesungguhnya banyak tempat di Indonesia yang setara dengan kota Nara. Misalnya kota Bogor atau Malang. Keungulan Nara hanyalah pada kebersihan kotanya. Artinya setiap pengunjung berusaha tidak membuang sampah dan merokok sembarangan. Kemudian persediaan toilet yg bersih dan nyaman banyak tersedia pada setiap sudut tempat rekreasi di Kota Nara. Yang terakhir masyarakatnya atau para penyedia jasa bersikap sopan dan jujur. Artinya sikap “mengenai” dalam istilah Banjar atau ilmu “Aji Mumpung” benar-benar dijauhkan oleh para pekerja  jasa pariwisata di Jepang.</p>
<p>Jika ketiga hal itu dapat dilakukan maka saya berkeyakinan Bogor dan Malang setara dengan Kota Nara.</p>
<p>Pertanyaannya, bisakah kita? Jawabnya ada dihati dan diniat kita masing-masing.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/nara-kota-yang-romantis-dan-cantik.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jepang Melawan dengan Budaya</title>
		<link>http://ogifajar.com/jepang-melawan-dengan-budaya.php</link>
		<comments>http://ogifajar.com/jepang-melawan-dengan-budaya.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 03:24:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ogi Fajar Nuzuli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya jepang]]></category>
		<category><![CDATA[pangkalan militer AS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Selain kebersihan kotanya, ada hal menarik lagi untuk ditulis tentang perilaku dan sikap masyarakat Okinawa. Sepanjang pengamatan, sikap dan pola pikir orang-orang di Okinawa cenderung sederhana dan apa adanya. Tapi di balik kesederhanaan mereka terdapat satu sikap masyarakat Okinawa yang kukuh menggenggam adat dan budaya. Refleksi adat dan budaya ini akhirnya mereka gunakan untuk melawan pengaruh peradaban barat. Di kepulauan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/okinawa1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-55" title="okinawa1" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/okinawa1-300x225.jpg" alt="okinawa1" width="300" height="225" /></a>Selain kebersihan kotanya, ada hal menarik lagi untuk ditulis tentang perilaku dan sikap masyarakat Okinawa. Sepanjang pengamatan, sikap dan pola pikir orang-orang di Okinawa cenderung sederhana dan apa adanya. Tapi di balik kesederhanaan mereka terdapat satu sikap masyarakat Okinawa yang kukuh menggenggam adat dan budaya. Refleksi adat dan budaya ini akhirnya mereka gunakan untuk melawan pengaruh peradaban barat.</p>
<p>Di kepulauan Okinawa terdapat pangkalan militer Amerika Serikat. Pangkalan itu berdiri sejak Perang Dunia II berakhir. Pangkalan militer itu sendiri konon salah satu syarat yang diajukan sekutu atas kekalahan Jepang pada masa itu. Keberadaan Pangkalan Militer AS di Jepang telah lama menjadi sorotan, umumnya kaum muda Jepang. Artinya yang meributkan keberadaan pangkalan militer itu tidak hanya orang Okinawa saja.<span id="more-54"></span></p>
<p>Kaum muda Jepang berpandangan dengan adanya pangkalan militer AS berarti kewibawaan Kaisar mereka telah digerogoti. Dengan kata lain kedaulatan Jepang sebagai Negara merdeka patut untuk dipertanyakan.  Namun apalah daya suara dari kaum muda jika dibandingkan dengan kepentingan sang super power.</p>
<p>Jika pangkalan Amerika Serikat kedudukannya tidak dapat diganggu-gugat, dalam diam masyarakat Okinawa (Jepang) ternyata dapat melawan dengan sangat hebat. Mereka tidak melawan dengan spanduk, demo atau senjata, tetapi mereka melawan dengan budaya. Dengan perlawanan melalui budaya ini tentara Amerika yang bertugas di Okinawa sungguh tak merasa nyaman,  Di tengah keramah-tamahan masyarakat Okinawa (Jepang), tentara Amerika sungguh merasa kesepian. Begitulah ungkapan puitisnya.</p>
<p>Hal-hal miring (negatif) perilaku para tentara ini tentunya telah dikenal secara luas oleh masyarakat dunia. Namun karena kebutuhan stabilitas  kawasan (berdasar versi Amerika Serikat), pangkalan-pangkalan itu tetap ada. Persoalan benturan budaya adalah salah satu hal yang menyulitkan berbagai pihak, Sebagaimana pada ex-pangkalan Amerika, di Subic Philipina atau Saigon Vietnam.</p>
<p>Prilaku “nyeleneh” para tentara yang lazim disebut “GI” mungkin karena mereka suntuk di pangkalan dan jauh dari kampung halaman. Bermodalkan kekuatan ekonomi (uang), perlakuan khusus dari pemerintah lokal serta kekuasaan, mengakibatkan para “GI” berbuat sesukanya. Bahkan melanggar norma-norma yang dianggap tabu bagi masyarakat setempat. Contohnya seks bebas atau mabuk ditempat umum dan sebagainya.</p>
<p>Persoalan terjadinya perembesan perilaku buruk para tentara itu terhadap masyarakat lokal,telah diantisipasi dengan baik oleh pemerintah Jepang di Okinawa. Misalkan jika selama ini kita mengenal dan membenarkan jargon “bahwa bahasa internasional adalah bahasa Inggris” sehingga kita dan anak-anak kita harus mengerti dan sanggup berbicara dalam bahasa itu &#8211; jika perdagangan, budaya, pendidikan dan sebagainya ingin tampil di pentas dunia. Namun dengan melihat Okinawa (Jepang), pikiran saya menjadi terbuka, ternyata jargon itu tidak mutlak kebenarannya.</p>
<p><strong>Bahasa Inggris “terlarang” di Okinawa</strong></p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/okinawa2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-56" title="okinawa2" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2010/11/okinawa2-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a>Minimnya informasi dalam bahasa Inggris bisa ditemui pada booklet, brosur atau apa saja yang menginformasikan Okinawa secara tidak langsung. Tentu saja hal itu memukul jembatan komunikasi antara tentara Amerika dengan masyarakat lokal (Okinawa). Sedikit sekali orang Okinawa yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. situasi Seperti demikian tidak lahir begitu saja, akan tetapi merupakan hasil konsepsi teselubung perlawan masyarakat Okinawa (Jepang) terhadap Barat (Amerika) dari sisi Budaya.</p>
<p>Para pelajar dan mahasiswa di Jepang dari mengawali proses pendidikan telah ditanamkan dengan sangat kuat tentang kebanggaan terhadap budaya mereka, nilai-nilai heroisme, kecintaan terhadap Kaisar dan sebagainya. Melalui proses pendidikan inilah terbangun nasionalisme yang luar biasa kuatnya di  Jepang.</p>
<p>Pemahaman dan Nasionalisme mereka ternyata dapat meruntuhkan idiom bahwa bahasa Inggris adalah bahasa Internasional, bahasa terpenting di dunia. Dari Informasi yang saya dapat, ternyata bahasa Inggris bukanlah mata pelajaran wajib di Jepang. Dengan kata lain untuk memperhalus istilah di atas, sebut saja bahasa Inggris “terlarang” di Okinawa.</p>
<p>Jika Indonesia memprogramkan Visit Indonesia Years II pada tahun 2008, berharap banyak turis mancanegara berkunjung ke Indonesia, sebaliknya Okinawa justru terkesan menghindar dari kedatangan turis-turis asing semacam itu.</p>
<p>Ada satu kejadian unik  yang saya alami, karena pegal-pegal seharian di Budokan (semacam gedung serba guna) pada malam itu kami ingin massage atau pijat refleksi. Di tepi jalan utama Okinawa terdapat tempat untuk massage dan refleksi, masuklah kami ke dalamnya. Dengan sangat sopan seraya menunduk mereka menyambut kami sambil mengucapkan “arigato…bla…bla&#8230;bla”. Orang yan g menyambut kami segera menyodorkan selembar kertas dengan tulisan berbahasa Inggris yang bunyinya lebih kurang sebagai berikut, “Mohon maaf, karena keterbatasan dalam berbahasa Inggris dari pegawai kami, dengan sangat menyesal kami hanya melayani pelanggan yang dapat berbahasa Jepang (Orang Jepang)”. Nah looo&#8230;</p>
<p>Tulisan ini setidaknya ingin menggambarkan sesungguhnya situasi di Jepang. Kesimpulannya tidak ada kebenaran mutlak dari sebuah terminologi, misal turis asing penting untuk meningkatkan perekonomian atau bahasa Inggris amat penting jika kita ingin tampil di pentas dunia. Jepang dengan segala kemampuannya ternyata dapat menjungkirbalikkan semua terminologi ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/jepang-melawan-dengan-budaya.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

