<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Ogi Fajar Nuzuli</title>
	<atom:link href="http://ogifajar.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ogifajar.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 14:35:46 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Ancam-Mengancam Sebelum Mudik Lebaran</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/09/29/ancam-mengancam-sebelum-mudik-lebaran-2/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/09/29/ancam-mengancam-sebelum-mudik-lebaran-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 16:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Ar-rahman Ar-rahim.

Lebaran sebentar lagi, Ramadhan hampir berakhir, kantor-kantor telah diliburkan, banyak pegawai yang mudik. Kejadian ini terus berulang setiap akhir Ramadhan. Namun ada item yang terlewatkan khususnya bagi kaum pegawai, yaitu ; Tradisi ancam mengancam setiap musim mudik dimulai. Saya sebutkan sebuah tradisi karena setiap tahun hal ini selalu terjadi, setidaknya dalam beberapa tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bismillah Ar-rahman Ar-rahim.</p>
<p><a href="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2008/10/balaikota.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-40" title="balaikota" src="http://ogifajar.com/wp-content/uploads/2008/10/balaikota.jpg" alt="" width="150" height="113" /></a></p>
<p>Lebaran sebentar lagi, Ramadhan hampir berakhir, kantor-kantor telah diliburkan, banyak pegawai yang mudik. Kejadian ini terus berulang setiap akhir Ramadhan. Namun ada item yang terlewatkan khususnya bagi kaum pegawai, yaitu ; <em><strong>Tradisi ancam mengancam setiap musim mudik dimulai</strong></em>. Saya sebutkan sebuah tradisi karena setiap tahun hal ini selalu terjadi, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir ini. Lontaran ancaman bertubi-tubi, yang intinya meminta kepada para  pegawai (PNS) dilarang keras molor mudiknya. Tak tanggug-tanggung yang mengeluarkan ancaman mulai dari Bupati,Walikota, Sekda Kabupaten, Sekda Kota, Sekda Provinsi, Gubernur sampai tuan  Menteri yang terhormat.<span id="more-35"></span></p>
<p>Isi ancaman; mulai dinon aktifkan dari jabatan, dipecat dari jabatan hingga diberhentikan sebagai pegawai, entahlah pegawai apa maksudnya?. Namun berulang pula ancaman yang dilontarkan tak pernah terbuktikan kebenarannya. Sehingga ada lagi satu tradisi yang perlu dicatat setiap akhir Ramadhan yaitu; <em><strong>Tradisi omong besar dari para pejabat kita</strong></em>. Tradisi mudik yang molor sebenarnya dimulai jauh sebelum reformasi, karena  libur yang terlalu singkat pada waktu itu. Sepanjang ingatan saya pada masa-masa itu pegawai hanya diberi waktu berlibur empat hari saja. Pendeknya waktu libur, dan tradisi pulang kampung yang kental membuat molor masuk kerja karena alasan mudik lebaran adalah hal yang dianggap wajar pada masa-masa itu.</p>
<p>Tahun lalu tepatnya pada; 1428 H, ketika Ramadhan akan berakhir seluruh PNS, PTT dan Tenaga kontrak di kantor kami dikumpulkan dalam satu ruangan besar untuk diberi arahan oleh seseorang pejabat, yang intinya libur dimulai dari H-2 sampai dengan H+5, (H adalah Idul Fitri). Pengumuman ini tentunya disertai ancaman seperti yang saya utarakan di atas tadi. Ditengah tebaran ancaman tadi salah seorang pegawai bertanya “hari apa  sich pastinya Idul Fitri itu, Selasa, Rabu atau jangan-jangan hari Senin  sudah ada yang merayakan?”. Pertanyaan ini sungguh menohok, karena tahun lalu penetapan Idul Fitri yang beragam oleh beberapa komunitas umat Islam di Indonesia. Dengan kata lain pemerintah belum dapat menjembatani perbedaan pendapat antar komunitas itu.</p>
<p>Tahun ini, tidak adalagi pengarahan dari pejabat sebagaimana tahun lalu, setidaknya di kota tempat saya bekerja, tebaran ancaman hanya dapat didengar atau dibaca melalui media elektronik atau media masa saja. Sebagaimana tradisi, yang tak ketinggalan menebarkan ancaman adalah para petinggi di kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN). Ketika fenomena ini saya sampaikan dengan teman saya yang jurnalis, dia membenarkan model ancam-mengancam ini, “pegawai memang harus di gituin, perhatikan aja pegawai adalah makhluk yang dibayar gajinya tapi santainya minta ampun”. Nah lo mau ngomong apa lagi, ketika ketemu orang yang sudah berpikir negatif tentang orang kantoran kaya ane ini, kan repot&#8230;he&#8230;he&#8230;</p>
<p>Menurut saya menebar ancaman ini sungguh tidak logis, karena sangsi kepada pejabat struktural atau fungsional atau PNS telah ada aturan mainnya. Kepastian hukum atau aturan main ini mulai dari Undang-undang , Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri, Hingga Keputusan Walikota. Adanya ketentuan  hukum ini, tentunya tidak memungkinkan seorang Walikota, Gubernur, bahkan Menteri dapat main copot atau memecat seseorang dengan begitu saja. Bercermin dari seluruh ketentuan yang ada,  tentang kepastian hukum bahwasannya , yang membolos pada hari setelah lebaran sama saja dengan membolos pada hari biasa, jika dilihat dari  sisi bobot kesalahan. Terserah Menpan mau mengacam apa saja, sepanjang tidak ditetapkan dengan keputusan yang memiliki ketetapan hukum, misalnya dengan Peraturan Pemerintah atau Keputusan Menpan atau apa sajalah, kemudian harus pula diingat peraturan yang lebih rendah, tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi strata hukumnya, jika semua ini telah dilalui barulah dapat direalisasikan penerapannya misalkan memberhentikan PNS atau mencopot seseorang dari jabatanya.</p>
<p>Tebaran ancaman ini juga sungguh tidak memahami dimensi sosial yang ada, pada hari ini saja, kita semua membaca, mendengar serta melihat dihampir disemua media yang menyiarkan arus mudik, perjalanan dari  Jakarta ke Cirebon harus ditempuh selama 19 jam. Sementara harga tiket pesawat udara sudah menggila, jadi bagi pemudik dari Jakarta yang ingin ke Jatim atau bali melalui darat tentu bukan perkara yang enteng dan selalu menyenangkan tentunya. Belum kita bicara tentang angkutan laut, yang tidak mencukupi kapasitas untuk melayani seluruh menumpang mudik. Saya kemudian berpikir seandainya semuanya dapat dengan mudah dilalui, dan dalam suasana yang nyaman serta menyenangkan, mungkin sangat sedikit pegawai yang mudiknya molor.</p>
<p>Namun sebagai abdi negara tentunya sayapun menyadari bahwa disiplin haruslah ditegakan. Kinerja pegawai haruslah ditingkatkan, artinya yang salah harus menerima hukuman sesuai dengan kesalahannya disamping adanya penghargaan bagi yang berprestasi. Menurut saya untuk meningkatkan kinerja, perlu di tumbuhkan  semangat dan kesadaran dari seluruh pegawai di Indonesia ini, semangat  dan kerelaan untuk berdisiplin.</p>
<p>Perbaikan kinerja itu harus dilalui dengan perbaikan kedisiplinan tentu tidak banyak yang membantahnya. Namun penumbuhan kesadaran dan kerelaan haruslah dijauhkan dari model ancam-mengancam yang tak ada buktinya seperti sekarang ini, sadarilah bahwa pegawai adalah “orang dewasa” yang tak perlu diancam-ancam namun perlu diberikan kesadaran melalui contoh-contoh konkrit/nyata. Kalau memang pegawai tidak masuk kerja setelah lebaran, proseslah sesuai ketentuan yang berlaku, artinya jika ada penjatuhan sangsi haruslah berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Negara kita adalah negara hukum jadi penjatuhan sangsi tidak hanya dapat berdasarkan selera, keinginan atau emosi semata. Harus pula diingat salah satu agenda reformasi kita, adalah &#8220;tegaknya hukum&#8221; tidak dengan embel-embel, penegakan hukum (dengan melanggar hukum itu sendiri), berdasar alasan apapun</p>
<p>Akhir kata saya yang amat terbatas pengetahuan ini mengucapkan selamat Idul Fitri 1429 H.  Dan Mohon Maaf lahir serta Bathin&#8230;..</p>
<p>Wallhu’alam bisawab</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/09/29/ancam-mengancam-sebelum-mudik-lebaran-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta Yang Sangat Luas Dan Beragam, Hakekat Dari Sempitnya Dunia</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/06/12/32/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/06/12/32/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 13:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/06/12/32/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah  Ar-rahman  Ar-rahim
Dalam satu atau dua bulan terakhir ini, kantor tepat saya bekerja, beberapa kali menugaskan saya untuk datang ke Jakarta. Jika ke Jakarta agenda yang selalu saya anggap penting adalah bertemu dengan kawan-kawan lama, yang kebetulan berprofesi sebagai jurnalis. Walau ada perbedaan rentang usia yang agak jauh antara saya dengan kawan-kawan lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Bismillah  Ar-rahman  Ar-rahim</strong></em><br />
Dalam satu atau dua bulan terakhir ini, kantor tepat saya bekerja, beberapa kali menugaskan saya untuk datang ke Jakarta. Jika ke Jakarta agenda yang selalu saya anggap penting adalah bertemu dengan kawan-kawan lama, yang kebetulan berprofesi sebagai jurnalis. Walau ada perbedaan rentang usia yang agak jauh antara saya dengan kawan-kawan lama itu, namun sungguh hal ini bukanlah problem yang berarti bagi kami, dalam menjalin persahabatan.</p>
<p>Biasanya pertemuan dan perkawanan itu dihabiskan pada pojok-pojok yang menyediakan layanan Wifi atau Hotspot. Melalui kongkow-kongkow ini saya jadi memahami tabiat   terbaru,  dari beberapa kelompok masyarakat di Jakarta yang beragam dan sangat meriah itu. Ada sekelompok muda di Jakarta, yang sangat gemari  nongkrong di café yang ada menyediakan layanan Wifinya, sambil diiringi musing yang berdentam dengan kuat, yang nongkrong ditempat seperti ini sebagian besar adalah orang-orang asli Indonesia.</p>
<p>Sekali waktu di kawasan Menteng tempat kami nongkrong, pernah kami bertemu dengan pasangan yang  tidak biasanya. Seorang pemuda yang dari wajahnya mungkin berasal dari syiria, spanyol atau apalah saya juga tidak mengetahui persis. Sedangkan si wanita dari warna kulit dan wajahnya jelas dari ras Africa,  mereka berdua berjalan dengan sangat mesra . Tulisan ini bukan ingin menghidupkan diskriminasi warna kulit atau ras, namun hanya ingin menggambarkan bahwa dunia kita saat ini relative tanpa batas, dan tak ada yang  bersifat absolute jika menyangkut kecocokan dalam memilih pasangan.</p>
<p>Lain waktu kami nongkrong di kawasan Kuningan, pokoknya lokasi nongkrong kami  dekatlah dengan lokasi tertangkapnya Al-Amien Nasution (sang anggota DPR yang terhormat itu oleh KPK). Perlu juga diketahui di lokasi ini 90% yang nongkrong atau pengunjungnya adalah orang bule dari Amerika, Australia, Inggris dan lainnya, pokoknya tempat itu dipenuhi oleh para ekspatriat atau pekerja asing di Jakarta. Karena sebagian besar yang nongkrong para pekerja asing maka usianyapun relative sudah agak tua-tua, mungkin kamilah gerombolan yang termuda di lokasi ini. Bisa jadi kami juga yang salah mencari tempat nongkrong….ha…ha…</p>
<p>Dari informasi teman-teman jurnalis kami pernah juga nongkrong di kawasan Kemang Jakarta Selatan. Woow yang ngumpul disini sebagian  besar ABG di Jakarta, Mereka datang dengan aneka dandanan yang menyegarkan setidaknya  bagi saya yang masih terkatagori <em>lelaki normal</em>.  Sehingga jika malam Sabtu dan malam Minggu kawasan ini luar biasa ramainya. Jika coba saya amati pengujung yang datang, dan sebagian besar yang datang adalah ABG Indonesia asli. Yang menarik ternyata menu yang ditawarkanpun sangat beragam, dari Shisa rokok ala budaya arab, sampai dengan spagheti ala budaya Italia, dan yang paling penting harganya terjangkau, bagi kocek orang muda kita</p>
<p>Berkat jalinan komunikasi dan informasi kawan-kawan jurnalis ini, setelah mendengar kabar, kamipun mencoba nongkrong pada lokasi lain di kawasan Kemang juga. Woow pada titik ini kami serasa berada di Kuta Bali  karena benuh dengan bule, yang agak istimewa dari tempat ini yang nongkrog adalah  bule yang masih ABG. Laku dan tingkahnya yach…. has ABG lah. Sampai ada guyonan dari teman-teman jurnalis, “Aku takut kalo lokasi ini jadi sasaran Bom berikutnya…” (Mudah-mudaha aja nggak ya…..)</p>
<p>Dari rangkaian  &#8220;<em><strong>penongkrongan</strong></em> &#8221; ini, saya jadi semakin yakin bahwa komunikasi nir kabel via internet sudah semakin menyerbu kehidupan kita, artinya tempat-tempat nongkrong, terasa kurang sip jika tidak tersedia layan Wifi gratis. Berkat jalinan komunikasi inilah dunia menjadi tanpa batas. Batas yang ada hanyalah garis territorial belaka atau dalam pemahaman administrasi saja. Sementara untuk selera dan rasa, mohon maaf; &#8220;Pada saat ini&#8221; relative tidak ada batasnya kalau meminjam istilah urang Banjar &#8220;Sudah kada bakamus lagi&#8221;. Sehingga jika dilukiskan dengan kata-kata ada  kesannya agak berlawanan, Jakarta yang amat beragam dan luas sesungguh menggambarkan betapa sempitnya dunia ini…..</p>
<p><em><strong>Wallah hu alam bi sawab</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/06/12/32/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>DUNIA REMAJA DALAM KEKINIAN</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/04/30/dunia-remaja-dalam-kekinian/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/04/30/dunia-remaja-dalam-kekinian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 03:05:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/04/30/dunia-remaja-dalam-kekinian/</guid>
		<description><![CDATA[
Para Remaja Kita
Bismillah Ar-rahman Ar-rahim
Pada satu malam Minggu  di pertengahan Maret tahun 2008,  karena ada kerjaan yang mengharuskan saya ke Jakarta,  “iseng-iseng berhadiah” saya ditemani seorang rekan yang jurnalis, nongkrong  di satu titik kerumunan remaja atau orang muda kita. Saya yang telah berusia 41 tahun, sedangkan rekan saya  baru berusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/malam-mingguan2.jpg" height="240" width="320" /></p>
<p><em>Para Remaja Kita</em></p>
<p><em><strong>Bismillah Ar-rahman Ar-rahim</strong></em></p>
<p>Pada satu malam Minggu  di pertengahan Maret tahun 2008,  karena ada kerjaan yang mengharuskan saya ke Jakarta,  “iseng-iseng berhadiah” saya ditemani seorang rekan yang jurnalis, nongkrong  di satu titik kerumunan remaja atau orang muda kita. Saya yang telah berusia 41 tahun, sedangkan rekan saya  baru berusia 30 tahun, coba memahami, apa yang ada dibenak para muda kita. Jujur setidaknya saya dan mungkin rekan nongkrong saya itu, tidak dapat terlalu memahami reaksi mereka yang sangat “eksplosif “  setidaknya menurut ukuran saya.</p>
<p>Para muda kita  demikian mudah terlarut dalam kegembiraan, walaupun, “maaf” Band yang tampil bukan dari kelompok ternama atau terkenal dan lagu-lagu yang dinyanyikanpun tidak terlalu menarik, setidaknya menurut ukuran saya dan rekan  yang jurnalis itu. Para muda kita dengan giat bergoyang menyambut histeris penampilan Band, suatu hal yang membuat saya terkesima dengan “ke-eksplosipan” para muda kita ini.</p>
<p>Jika kita coba analisis telah terjadi perobahan yang signifikan dalam bersikap dan menanggapi keadaan bagi para muda kita. Setidaknya orang yang seperti saya dan rekan yang telah berumur 41 tahun dan 30 tahun, tidak terlalu dapat memahami sikap dan perilaku kaum muda kita, terlebih mereka yang sudah menjadi “Pensiunan”…he..he…</p>
<p>Mungkin ini adalah pertanda zaman, yang sampai pada satu titik, dimana  satu kelompok tidak dapat mendominasi kelompok lainnya. Dari fenomena ini berarti tidak adalagi kelompok dominan yang mendominasi atau kelompok inferior yang tersingkirkan dari tataran usia. Artinya perlu ada kesepakan sosial bersama secara tentang; syle, gaya, termasuk kepemimpinan, yang menjadi pilihan  dari banyak orang secara demokratis.</p>
<p>Mungkin ini jawaban secara filosofis, yang menjadikan beberapa orang ternama di tataran pemerintahan dan militer akhirnya menjadi pecundang dalam Pilkada beberapa waktu yang lalu. Suara kaum muda kita harus didengar, suara kaum perempuan kita harus didengar, suara ulama kita harus didengar, suara orang Cina harus didengar, suara supir bis, mekrolet, tukang ojek harus didengar dan beribu-ribu bahkan berjuta-juta suara dan aspirasi yang harus didengar serta dipahami.</p>
<p>Pada tataran praktis siapa yang dapat mendengar kemudian memahami suara-suara itu adalah pemenang dalam kehidupan. Artinya jika ia seorang pengusaha akan dia akan menjadi pengusaha yang sukses usahanya, jika dia seorang politisi maka dia akan sukses dalam berpolitik, jika dia seorang seniman maka dia akan menjadi seniman yang banyak penggemarnya…. Jika dan jika yang sangat panjang untuk diteruskan.</p>
<p><strong><em>Wallah’hu alam bisawab</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/04/30/dunia-remaja-dalam-kekinian/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dunia Maya dan Surat Kabar Kita&#8230;&#8230;</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/02/27/dunia-maya-dan-surat-kabar-kita/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/02/27/dunia-maya-dan-surat-kabar-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 02:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/02/27/dunia-maya-dan-surat-kabar-kita/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Ar-rahman Ar-rahim.
Tulisan ini dipersembahkan kepada yang mulia (yang mengaku) pakar IT
Roy Suryo berkaitan dengan pernyataan beliau  di detik.net tentang komunitas blogger .

Komunitas Blogger telah hadir di banyak sekali profesi 
Dalam satu percakapan dengan seorang rekan, entah dari mana asalnya perbincangan kemudian ditujukan pada pertumbuhan industri media. Dalam perbincangan itu terungkap satu dugaan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Bismillah Ar-rahman Ar-rahim.</strong></em></p>
<p>Tulisan ini dipersembahkan kepada yang mulia (yang mengaku) pakar IT<br />
Roy Suryo berkaitan dengan pernyataan beliau  di detik.net tentang komunitas blogger .</p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/CrewDD-2.jpg" height="360" width="480" /></p>
<p><em><strong>Komunitas Blogger telah hadir di banyak sekali profesi </strong></em></p>
<p>Dalam satu percakapan dengan seorang rekan, entah dari mana asalnya perbincangan kemudian ditujukan pada pertumbuhan industri media. Dalam perbincangan itu terungkap satu dugaan yang mengejutkan kita yaitu, “Dalam waktu yang terhitung tak lama lagi, industri surat kabar akan mati perlahan-lahan dan akhirnya akan benar-benar mati total”. Argumentasi ini didasari oleh pesatnya perkembangan IT, yang otomatis juga akan melahirkan generasi dengan peradapan baru pula.</p>
<p>Generasi  yang akan datang tentu akan  sangat akrab dengan dunia maya, atau dunia yang sangat erat hubungannya dengan koneksi internet. Sehingga  pergeseran peradapan akan juga mengubah pola hidup masyarakat kita. Jika sekarang ini terutama kaum terdidik, dipagi hari mencari koran guna mengikuti perkembangan, ekonomi, politik atau apa saja pada hari itu. Di generasi yang akan datang, kaum terdidik tak lagi mencari koran untuk mendapat segala informasi kekinian, untuk melakukan forcasting atau apa saja, karena pada masa itu, mereka cukup browsing data dari dunia maya yang tak terbatas itu.</p>
<p>Namun kapan waktu itu akan datang? Sebuah pertanyaan yang tak gampang untuk dijawab, jika boleh saya meramalkan, setidaknya ada beberapa persyaratan mendasar yang harus dipenuhi untuk sampai pada titik itu. Pertama, hardware komputer dan perangkat koneksi internet relatif murah untuk ukuran masyarakat luas. Kedua, kemudahan koneksi termasuk di dalamnya tidak mahalnya biaya koneksi internet. Ketiga, jika kecepatan proses koneksi internet, tak lagi menjadi persoalan. Keempat, tidak terjadi hal yang bersifat luar biasa, misal terjadinya resesi ekonomi yang super hebat di dunia ini. Jika setidaknya keempat hal di atas telah dapat dipenuhi, oleh sistem sosial pemerintahan yang berlaku pada saat itu, maka telah sampailah kita pada peradapan baru tersebut.</p>
<p>Oleh karena itu, banggalah anda para blogger sedunia, setidaknya kita telah mulai dan ikut mengubah peradapan umat manusia…..Viva Blogger sedunia.</p>
<p><em><strong>Walluhu’alam Bisawab</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/02/27/dunia-maya-dan-surat-kabar-kita/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Suku Banjar dan Sungainya&#8230;&#8230;.</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/02/05/suku-banjar-dan-sungainya/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/02/05/suku-banjar-dan-sungainya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 08:43:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/02/05/suku-banjar-dan-sungainya/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Ar-rahman Ar-rahim
Buih motor tempel dg latar belakang Jembatan Barito 

Dengan teman-teman berfoto di atas motor tempel 

Aku yang disebut orang sebagai suku Banjar, logikanya tentu akrab dengan dunia sungai, terlebih setelah adanya tayangan iklan di RCTI dengan  “acil/emak-emak yang sedang belanja” di pasar terapung. Pasar terapung dan segala pernak-pernik sungai sesungguhnya tak lagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Bismillah Ar-rahman Ar-rahim</strong></em></p>
<p><em><strong>Buih motor tempel dg latar belakang Jembatan Barito </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/sungai4.jpg" /></p>
<p><em><strong>Dengan teman-teman berfoto di atas motor tempel </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/Sungai2.jpg" height="360" width="480" /></p>
<p>Aku yang disebut orang sebagai suku Banjar, logikanya tentu akrab dengan dunia sungai, terlebih setelah adanya tayangan iklan di RCTI dengan  “acil/emak-emak yang sedang belanja” di pasar terapung. Pasar terapung dan segala pernak-pernik sungai sesungguhnya tak lagi akrab dengan suku Banjar kini, semisal aku yang memang bersuku Banjar tapi tinggal di Banjarbaru, karena di Banjarbaru sama sekali tidak terdapat sungai, sebagaimana yang tergambar dalam pikiran orang tentang suku Banjar.</p>
<p><em><strong>Tongkang BBM kecil sedang sandar di tepi sungai Barito </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/Sungai7-1.jpg" /></p>
<p>Ayah, kakek dan nenek ku dulu memang akrab dengan dunia sungai, karena mereka lahir dan di besarkan di “pinggir banyu” yang dalam bahasa Indonesianya “pingiran sungai”. Namun sekarang sungai-sungai di Banjarmasin, yang demikian kotor karena tercemar kegiatan manusia, bahkan tak sedikit sungai yang telah mati. Sekarang ini orientasi angkutan tak lagi mengutamakan  jalur sungai akan tetapi lebih mendahulukan jalur atau lintasan darat.</p>
<p>Sayapun cenderung tak lagi memandang sungai sebagai jalur angkutan yang memadai dari sisi kepraktisan, walaupun ketika sebelum tidur dulu sering nenek bercerita tentang serba-serbi kehidupan masyarakat “di pinggir banyu”. Mungkin ini adalah efek zaman yang mau lagi ingat dengan masa lalu, kalau boleh saya ungkapkan dengan kata-kata puitis, atau yang lebih tepat dengan kata-kata yang lebih sarkasme saya “Bagai kacang yang lupa dengan kulitnya”. Secara tak sengaja , kembali saya diperlihatkan bahwa sungai adalah potensi yang luar biasa, selain dari aspek perhubungan  juga kemungkinan untuk perkembangan pariwisata. Dari yang saya lihat dan perhatikan memang potensi suku Banjar di seputar sungai-sungai yang ada sungguh luar biasa.</p>
<p><em><strong>Rumah di pinggir sungai dengan &#8220;jukung tiung&#8221; (perahu besar) </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/sungai3.jpg" /></p>
<p>Pada satu ketika secara tidak sengaja, saya bersama beberapa rekan diajak berkeliling dengan motor tempel untuk melihat kehidupan masyarakat di sekitar sungai. Tentunya saya bersedia, rute yang kami lalui dari sungai di ujung Kayu tangi Kota Banjarmasin kearah Ujung panti Kabupaten  Barito kuala. Rute ini bukan jalur yang biasa dijalani oleh rombongan wisatawan. Sebelum berangkat kami minum es kelapa yang di jual dari “rombong” (warung di atas perahu). Melalui percakapan dengan pedagang es kelapa itu, saya teringat dengan idiolek, suku Banjar yang berada di sepanjang sungai, lafal dan syle bicaranya seperti kakek dan nenekku dulu.</p>
<p>Sehingga perjalanan ku dari ujung Kayu tangi sampai ke Ujung panti seperti kembali meniti ke ranah asal budaya ku, sebuah perjalanan yang terhitung sentimentil sekali tentunya…he…he… Rekaman peristiwa itu   seperti yang dapat anda  lihat pada halaman Web ini, sebagai sebuah rekaman foto yang sangat sederhana tentunya.</p>
<p><em><strong>Berjualan es kelapa diatas perahu </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/sungai1.jpg" /></p>
<p><em><strong>Wallahu&#8217;alam bisawab </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/02/05/suku-banjar-dan-sungainya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Banjir di J@karta&#8230;&#8230;..</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/02/03/banjir-di-jkarta/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/02/03/banjir-di-jkarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 16:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/02/03/banjir-di-jkarta/</guid>
		<description><![CDATA[Bismillah Ar-rahman Ar-rahim
&#160;
Seluruh kemewahan, nama besar, nilai glamour serta kehebatan Jakara  seakan sirna ; Pada Jumat bertepatan dengan tanggal 1 Februari, hegemoni Jakarta sebagai metropotitan tiba-tiba runtuh. Jakarta telah diguyur hujan lebat, lalu drainase kota tak mampu menampung air yang datang, ditambah tersumbatnya beberapa saluran pembuangan primer kota &#8230;.dst&#8230;. Sehingga datanglah banjir, yang cukup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="left"><em><strong>Bismillah Ar-rahman Ar-rahim</strong></em></p>
<p align="left">&nbsp;</p>
<p><em><strong>S</strong></em><em><strong>eluruh kemewahan, nama besar, nilai glamour serta kehebatan Jakara  seakan sirna ; Pada Jumat bertepatan dengan tanggal 1 Februari, hegemoni Jakarta sebagai metropotitan tiba-tiba runtuh. Jakarta telah diguyur hujan lebat, lalu drainase kota tak mampu menampung air yang datang, ditambah tersumbatnya beberapa saluran pembuangan primer kota &#8230;.dst&#8230;. Sehingga datanglah banjir, yang cukup merepotkan, setidaknya bagi saya yang sedang berada di Jakarta untuk urusan kantor. Berikut adalah rekaman foto kala banjir yang dapat saya rekam dengan kamera kecil saya.</strong></em></p>
<ul></ul>
<p><em><strong>Suasana arus lalu-lintas kala hujan deras melanda Jakarta</strong></em><br />
<img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/Banjir9.jpg" height="360" width="480" />a</p>
<p><em><strong>Seorang Lelaki berjalan lintasi genangan air </strong></em></p>
<p><em><strong>disampin pusat pertokoan Sarinah </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/banjir1.jpg" height="360" width="480" /></p>
<p><em><strong>Beginilah penampilan kondektur bis saat hujan dan banjir </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/banjir6.jpg" /></p>
<p><em><strong>Remaja yang sambil  bermain, membantu dan dapat uang&#8230;&#8230;. </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/banjir8.jpg" /></p>
<p><em><strong>Bis Bianglala yang terperangkap Banjir </strong></em></p>
<p><em><strong>di samping pusat pertokoan Sarinah </strong></em></p>
<p><em><strong><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/banjir2.jpg" /></strong></em></p>
<p><em><strong>Mobil pick up yang ngapung&#8230;.. di saming Sarinah</strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/banjir10.jpg" height="360" width="480" /></p>
<p><em><strong>Sedan yang terperangkap genangan air di jalan Sabang </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/banjir3.jpg" /></p>
<p><em><strong>Pemilik toko yang kebingungan </strong></em></p>
<p><em><strong>sedang ngomong-ngomong dengan karyawannya </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/banjir4.jpg" /></p>
<p><em><strong>Biar banjir melanda Jakarta Presiden tetap ngantor</strong></em></p>
<p><em><strong>dan tetap dengan pengawalan tentunya </strong></em></p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/Banjir7.jpg" height="360" width="480" /></p>
<p><em><strong>Walahu&#8217;alam bisawab </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/02/03/banjir-di-jkarta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Perjalan ke Okinawa (2)</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/02/03/catatan-perjalan-ke-okinawa-2/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/02/03/catatan-perjalan-ke-okinawa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 14:35:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/02/03/catatan-perjalan-ke-okinawa-2/</guid>
		<description><![CDATA[
Kenangan dengan penjual kue di pinggir jalan 
Bismillah ar-rahman ar-rahim 
Selain kebersihan kotanya, ada hal lain yang menarik untuk ditulis sebagai sebuah catatan tentang prilaku dan sikap masyarakat Okinawa. Sepanjag yang dapat saya amati, sikap dan pola pikir orang-orang di Okinawa cenderung sederhana dan apa adanya, namun dibalik kesederhanaan yang tampak, terdapat satu sikap masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/okinawa4.jpg" /></p>
<p><em><strong>Kenangan dengan penjual kue di pinggir jalan </strong></em></p>
<p><strong>Bismillah ar-rahman ar-rahim </strong></p>
<p>Selain kebersihan kotanya, ada hal lain yang menarik untuk ditulis sebagai sebuah catatan tentang prilaku dan sikap masyarakat Okinawa. Sepanjag yang dapat saya amati, sikap dan pola pikir orang-orang di Okinawa cenderung sederhana dan apa adanya, namun dibalik kesederhanaan yang tampak, terdapat satu sikap masyarakat Okinawa yang kukuh menggenggam adat dan budaya. Melalui refleksi adat dan budaya ini, mereka melawan dengan sangat kuat terhadap pengaruh peradaban barat.</p>
<p>Di kepulauan Okinawa terdapat pangkalan militer Amerika Serikat, Pangkalan itu berdiri sejak berakhirnya Perang Dunia II, konon sebagai salah satu syarat yang diajukan sekutu atas kekalahan Jepang dalam perang itu. Keberadaan Pangkalan ini telah lama menjadi sorotan umumnya kaum muda Jepang, artinya yang meributkan keberadaan pangkalan militer itu tidak hanya orang Okinawa saja.</p>
<p>Kaum muda Jepang berpandangan dengan adanya pangkalan itu berarti kewibawaan Kaisar mereka telah digerogoti atau dengan kata lain kedaulatan Jepang dengan berdirinya pangkalan itu patut untuk dipertanyakan. Namun apalah daya suara dari kaum muda ini, jika dibandingkan dengan kehendak dan kepentingan sang super power itu.</p>
<p>Jika pangkalan Amerika Serikat kedudukannya tidak dapat diganggu-gugat, dalam diam masyarakat Okinawa (Jepang) ternyata dapat melawan dengan sangat hebat. Mereka tidak melawan dengan spanduk, demo atau senjatan akan tetapi mereka melawan dengan budaya. Dengan perlawanan melalui budaya ini tentara amerika yang bertugas di Okinawa sungguh tak merasa nyaman, Ditengah keramah-tamahan masyarakat Okinawa (Jepang), tentara Amerika sungguh merasa demikian kesepian, jika diungkapkan dengan kata-kata puitis.</p>
<p>Hal-hal miring tentang prilaku para tentara ini tentunya telah dikenal secara luas oleh masyarakat dunia. Namun karena kebutuhan stabilitas kawasan (berdasar versi Amerika Serikat), pangkalan-pangkalan itu tetap ada. Persoalan benturan budaya adalah salah satu hal yang menyulitkan berbagai pihak, sebagaimana pada ex-pangkalan Amerika, di Subic Fhilipina atau Saigon Vietnam.</p>
<p>Biasanya disetiap berdirinya pangkalan militer, sangat besar prilaku masyarakat lokal yang terpengaruh dengan “budaya” tentara Amerika tersebut. Padahal mungkin saja “Budaya” dari prilaku mereka yang biasanya berkesan buruk itu, juga tidak mudah dilakukan para tentara tersebut di negaranya sendiri.</p>
<p>Prilaku “nyeleneh” para tentara yang lazim disebut “GI” mungkin karena mereka suntuk di pangkalan dan jauh dari kampung halaman. Bermodalkan kekuatan ekonomi (uang), perlakuan khusus dari pemerintah lokal serta kekuasaan biasanya para “GI” ini dari sisi budaya, dapat berbuat apa saja. Termasuk terhadap hal-hal yang berdasar nilai-nilai lokal terlarang, semisal seks bebas atau mabuk ditempat umum dan sebagainya.</p>
<p>Persoalan kemungkinan terjadinya perembesan prilaku buruk para tentara itu terhadap masyarakat lokal, telah diantisipasi dengan sangat baik oleh pemerintah Jepang di Okinawa. Misalkan jika selama ini kita mengenal dan membenarkan jargon, bahwa bahasa internasional adalah bahasa inggris sehingga kita dan anak-anak kita harus mengerti dan sanggup berbicara dalam bahasa itu, jika perdagangan, budaya, pendidikan dan sebagainya ingin tampil di pentas dunia. Demikianlah nilai yang telah lama kita dapat dan sekaligus mungkin kita benarkan. Namun dengan melihat Okinawa (Jepang), pikiran saya menjadi terbuka, ternyata jargon itu tidak mutlak kebenarannya.</p>
<p>Minimnya informasi dalam bahasa Inggris yang tertera pada booklet, brosur atau apasaja tetang Okinawa secara tidak langsung, telah memukul jembatan komunikasi antara tentara Amerika dengan masyarakat lokal (Okinawa). Sangat sedikit orang di Okinawa yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris, namun harus pula dipahami situasi seperti ini tidak lahir begitu saja, akan tetapi merupakan hasil konsepsi teselubung dari perlawan masyarakat Okinawa (Jepang) terhadap Amerika (Barat) dari sisi Budaya.</p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/okinawa5.jpg" /></p>
<p><em><strong>Nilai yang relatif takberubah di tempat-tempat hiburan </strong></em></p>
<p>Para pelajar dan mahasiswa di Jepang dari mengawali proses pendidikan telah ditanamkan dengan sangat kuat tentang kebanggaan terhadap budaya mereka, nilai-nilai heroisme, kecintaan terhadap Kaisar dan sebagainya. Melalui proses pendidikan inilah terbangun nasionalisme yang luarbiasa kuatnya dari orang-orang Jepang ini.</p>
<p>Pemahaman dan Nasionalisme mereka ternyata dapat meruntuhkan idiom bahasa Inggris adalah bahasa Internasional terpenting. Di Jepang (Okinawa) dari Informasi yang saya dapat, ternyata bahasa Inggris bukanlah mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, dengan kata lain untuk memperhalus istilah bahasa Inggris “terlarang” di Okinawa.</p>
<p>Jika Indonesia memprogramkan Visit Indonesia Years II pada tahun 2008 terutama bagi turis asing, Okinawa justeru terkesan menghindar dari kedatangan turis-turis asing. Ada satu kejadian unik yang saya alami, karena pegal-pegal seharian di Budokan (semacam gedung serba guna) pada malam itu kami ingin masage atau refleksi.</p>
<p>Di tepi jalan utama di Okinawa terdapat tempat untuk masage dan refleksi, masuklah kami ke dalamnya namun dengan sangat sopan seraya menunduk dengan ucapan “arigato….dst” kemudian dia menyodorkan selembar kertas dengan tulisan berbahasa Inggris yang bunyinya lebih kurang sebagai berikut : “Mohon maaf, karena keterbatasa kemampuan berbahasa Inggris dari pegawai kami, dengan sangat menyesal kami hanya melayani pelanggan yang dapat berbahasa Jepang (Orang Jepang)”…..nah looo.</p>
<p>Tulisan ini setidaknya ingin menggambarkan sesungguhnya tidak ada kebenara mutlak dari sebuah terminologi…..misal turis asing penting untuk meningkatkan perekonomian atau bahasa Inggris amat penting jika kita ingin tampil di pentas dunia….. Jepang dengan segala kemampuannya ternyata dapat menjungkirbalikkan semua terminologi ini…..</p>
<p><em><strong>Wallahhu&#8217;alam bisawab</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/02/03/catatan-perjalan-ke-okinawa-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Perjalanan ke Okinawa (1)</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/02/03/catatan-perjalanan-ke-okinawa-1/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/02/03/catatan-perjalanan-ke-okinawa-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Feb 2008 11:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/02/03/catatan-perjalanan-ke-okinawa-1/</guid>
		<description><![CDATA[
Berpose di atas jembatan yang air kalinya sangat bersih
Bismillah ar-rahman ar-rahim 
Dari tanggal 17 hingga 22 Januari, saya berkesempatan mengunjungi Okinawa salah satu provinsi negara Jepang yang posisinya berbatasan langsung dengan China Taipei. Saya datang sebagai official karateka Indonesia yang berlaga dalam turnamen Kejuaraan Dunia Karate Kyokusin Versi All Kyokusin Union. Okinawa adalah kota yang terhitung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/okinawa1.jpg" /></p>
<p><em><strong>Berpose di atas jembatan yang air kalinya sangat bersih</strong></em></p>
<p><em><strong>Bismillah ar-rahman ar-rahim </strong></em></p>
<p>Dari tanggal 17 hingga 22 Januari, saya berkesempatan mengunjungi Okinawa salah satu provinsi negara Jepang yang posisinya berbatasan langsung dengan China Taipei. Saya datang sebagai official karateka Indonesia yang berlaga dalam turnamen Kejuaraan Dunia Karate Kyokusin Versi All Kyokusin Union. Okinawa adalah kota yang terhitung tidak terlalu besar dan sibuk menurut ukuran Jepang, bahkan bandara internasionalnya yang bernama Naha International Airport terkesan sangat sederhana. Akan tetapi dibalik semua itu terdapat satu kenangan yang luar biasa tentang Okinawa, terutama mengenai kebersihan kotanya.</p>
<p>Sepintas yang saya lihat, kebersihan di Okinawa adalah hasil dari budaya bersih masyarakatnya. Di jalan-jalan kami lalui setiap pagi dan siang, tak pernah terlihat petugas kebersihan atau tukang sapu jalan yang mondar-mandir bekerja. Sebagai sebuah negara yang sangat maju mungkin saja mereka menggunakan tekhnologi untuk menjaga kebersihan kota. Artinya mereka memakai mesin penyapu jalan yang serba otomatis, tapi kapan bekerjanya..? Karena selama mondar-mandir di pusat kota Okinawa saya tak pernah berjumpa dengan mesin-mesin penyapu jalan otomatik itu. Jadi kapan yaa&#8230; jalan-jalan itu dibersihkan ? Satu pertanyaan yang memang terkesan bodoh untuk dilontarkan.</p>
<p>Selama di Okinawa hanya sekali saya bertemu denga mobil pengangkut sampah yang beroperasi sekitar jam 10 malam, dengan satu orang supir dan seorang keneknya, selain peristiwa itu takpernah sekalipun saya bertemu dengan; petugas, mesin atau apa saja yang berkaitan dengan kebersihan kota.</p>
<p>Konon katanya, seluruh kota di Jepang seperti Okinawa kebersihan kotanya, satu hal yang mengudang decak kagum tentunya. Selain hanya sekali bertemu dengan mobil pengankut sampah, di Okinawa juga tak terlihat Polisi yang berjaga-jaga mengatur lalu-lintas dan ketertiban lainnya. Bahkan dalam event sekelas Kejuaraan Dunia yang diikuti oleh 47 negara dari A sampi Z tak terlihat polisi berjaga atau bertugas.</p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/Okinawa6.jpg" /><br />
<em><strong>Demikian bersih tangga stasiun monorel dalam kota</strong></em><br />
Semua urusan dari pengaturan antrian, penyobekan karcis hingga pengaturan tempat duduk ditangani oleh panitia penyelenggara, padahal penonton yang datang ribuan orang dan dari berbagai negara. Namun semuanya dapat berjalan tertib, sehingga timbul rasa iri di hati ini, melihat kesadaran yang telah berbuah menjadi ketertiban masyarakat di Okinawa. Memang dari budaya antri yang telah mendarah daging, kebersihan yang telah merasuk kedalam jiwa, hingga rasa taat terhadap aturan lalu lintas yang luar biasa, adalah gambaran spirit dari masyarakat Okinawa yang tak terlalu sering diteriakan, namun terus dilaksanakan oleh mereka.</p>
<p>Yang patut pula menjadi catatan, prosentasi orang usil di Okinawa bisa dikatakan atau nyaris tidak ada, hingga kepelosok kota Okinawa yang kami datangi, tak terlihat satupun grafiti atau coretan di dinding buah tangan orang usil. Padahal jika remaja di Okinawa, jika mau membuat grafiti kan mudah saja, karena polisi atau satpam kan terlalu banyak yang berjaga-jaga. Rupa-rupanya nilai tidak ingin menimbulkan kerusakan atau kekotoran telah sukses tertanam dan ditanamkan dalam jiwa remaja di Okinawa.</p>
<p>Pada malam terakhir kami di Okinawa, ingin rasanya menikmati Ayam Goreng Kentucky, dan mampirlah kami di salah satu gerai Kentucky. Bersamaan dengan kami ada sepasang remaja yang sedang makan, usai makan ternyata mereka membersihkan segala kotoran atau sampah bekas makan mereka. Artinya sampah bekas makanan mereka, diletakan pada bak sampah yang telah terbagi menjadi 3 bagian itu, kemudian talam/tatakan mereka letakan dengan rapi ditempat asalnya…..oooo rupanya selama beberapa hari ini ketika kami makan pagi di Hotel tempat kami tinggal, karena makan paginya menggunakan metode self service seperti di Kentucky , seharusnya berdasar kebiasaan di Okinawa ini, talam atau tatakan di kembalikan ketempat asal… lalu sampah sisa makanan di buang ke tong sampah yang 4 macam itu…. Setelah seluruh urusan beres barulah kami seharusnya dapat meninggalkan ruang makan&#8230;. yach jadi malu dech kalu inget hal ini…he..he..</p>
<p><em><strong>Wallahhu&#8217;alam bisawab </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/02/03/catatan-perjalanan-ke-okinawa-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kretivitas Publik</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/01/12/kretifitas-publik/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/01/12/kretifitas-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jan 2008 05:18:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/01/12/kretifitas-publik/</guid>
		<description><![CDATA[
Kartun model ini yang sekarang merajai dunia 
Bismillah ar-rahman ar-rahim
Kreatifitas adalah satu hal yang mudah diucapkan namun relatif rumit untuk dibentuk atau dibangun. Apalagi slogan “Dengan Kesenian Kita Tingkatkan Kreatifitas Remaja” misalnya, adalah slogan yang benar-benar memerlukan kesungguhan untuk mewujudkannya. Kesungguhan yang dimaksud adalah keseriusan dalam pemikiran, serta daya dan upaya yang kuat tentunya, sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/kartunjepang2.jpg" /></p>
<p><em><strong>Kartun model ini yang sekarang merajai dunia </strong></em></p>
<p><em><strong>Bismillah ar-rahman ar-rahim</strong></em></p>
<p>Kreatifitas adalah satu hal yang mudah diucapkan namun relatif rumit untuk dibentuk atau dibangun. Apalagi slogan “Dengan Kesenian Kita Tingkatkan Kreatifitas Remaja” misalnya, adalah slogan yang benar-benar memerlukan kesungguhan untuk mewujudkannya. Kesungguhan yang dimaksud adalah keseriusan dalam pemikiran, serta daya dan upaya yang kuat tentunya, sehingga kalimat romantis atau heroik saja, belum cukup untuk mewujudkan cita-cita itu.</p>
<p>Membangun kreatifitas masyarakat melalui kesenian, tak cukup dengan talenta saja, jadi harus ada mekanisme manajerial di dalamnya. Secara praktis kita lihat Jepang pada saat ini, Mereka telah mampu mengeser kedudukan Hollywood (Amerika dan Eropa) untuk Film Kartun, Animasi, Komik dan Buku Bacaan. Setelah sekian lama , Buku Bacaan, Komik serta Film Kartun dan Animasi Amerika dan Eropah merajai pasaran dunia.</p>
<p>Pada tahun 80an hampir seluruh anak-anak dan remaja di dunia tentu mengenal sosok Tintin detectif cerdik dengan anjing kecilnya yang lucu, mereka tentunya juga mengenal sosok Micky &amp; Mouse yang lucu dan menggelikan. Dimulai dengan Film Animasi The Lion King, kemudian dilanjudkan dengan Petualangan Mulan yang gagah berani nilai-nilai Asia mulai merambah Hollywood. Untuk diketahui ternyata The Lion King adalah cerita khayalan dari kartunis Jepang yang kemudian dikembangkan oleh industri film Hollywood.</p>
<p>Sebelum masa tahun 80an artinya pada era 70an, anak-anak dan remaja di dunia mengenal sosok, Tarzan atau si Kaki Besar Geronimo dari suku Apache dalam cerita fiksi karya Karl May. Di Indonesia pada tahun 70an anak-anak dan remaja mengenal super hero versi Indonesia seperi; Godam si tangan kuat dan bisa terbang, Aquanus simanusia air, Gundala si Putra Petir dan yang lainnya.</p>
<p>Sekarang ini tak banyak lagi anak-anak atau remaja yang menyimak Micky &amp; Mouse apalagi cerita Godam, Gundala dan sejenisnya, yang terlihat dengan jelas, komik, Film Kartun dan Animasi telah dikuasai oleh produk jepang. Hanya beberapa komik atau bacaan barat yang masih diminati oleh remaja dan anak di Indonesia seperti Harry Potter dan Lord Of The Ring . Artinya terjadi arus perubahan berpikir dari Barat ke Asia (Jepang).</p>
<p>Komik dan Buku Bacaan Film Kartun atau Animasi, memang salah satu bentuk dari produk berkesenian, hal ini tentunya adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Namun efek lain yang juga harus dicermati pada era informasi seperti sekarang ini, negara yang menguasai arus informasi pada sektor Komik, Buku Bacaan, Film Kartun dan Animasi tentu memiliki sisi keunggulan tersendiri dalam persaingan lainnya.</p>
<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/okinawa7.jpg" /></p>
<p><em><strong>Salah-satu contoh keseriusan Jepang membina kretivitas seniman </strong></em></p>
<p>Apakah keberhasilan Jepang merebut kiblat itu hanya berdasar talenta atau bakat dari Komikus, Kartunis atau Animator semata? Lalu apakah pencapaian itu dapat diraih dalam waktu yang singkat? Jika coba kita telusuri apa yang telah diraih oleh Jepang, adalah buah dari usaha yang serius dan sungguh-sungguh dalam waktu yang relatif panjang.</p>
<p>Pada tahun 80an dalam sebuah kolom laporan perjalanan seorang kartunis Indonesia, merasa terheran-heran ketika mereka diundang ke Jepang. Mereka di undang dalam suatu acara berkaitan dengan profesi mereka sebagai Kartunis. Ternyata masyarakat Jepang mengelu-elukan Kartunis yang hadir dalam acara itu. Artinya ketika itu masyarakat Jepang telah sampai pada titik dimana profesi sebagai Kartunis demikian mereka hormati. Jadi membentuk sikap masyarakat yang dapat menghargai profesi kartunis tentu juga memerlukan proses yang juga panjang serta berliku. Pendek kata keberhasilan Jepang pada saat ini merupakan hasil dari keseriusan mereka membina sistem dan mekanisme berkesenian, yang diimbuhi oleh kebanggaan terhadap karya bangsa sendiri.</p>
<p>Kemudian jika kita perhatikan lebih jauh, ada tradisi berteather dalam kehidupan masyarakat Jepang, dan tradisi ini terus dijaga oleh mereka. Misalkan setiap tahun diadakan festival theater untuk anak-anak dan remaja, kemudian mereka menyiapkan segala keperluan penampilan dengan menjahit baju serta perlengkapan sendiri. Dengan cara ini tentu akan menumbuhkan penghayatan mereka pada kehidupan berkesenian.</p>
<p>Memang terlalu jauh jika kita membandingkan Indonesia dengan Jepang, namun setidaknya hal baik yang mungkin dapat kita lakukan, kita lakukanlah dengan segera. Kehidupan bertheater di Jepang dapat terus dibangun karena mereka memadukan unsur manajerial dalam pembinaan berkeseniaan. Misalkan ketika fesival theater dilangsungkan Televisi meliput acara itu dari persiapan hingga penampilan group theater anak-anak dan remaja itu.</p>
<p>Sehingga kreatifitas mereka dapat terus tumbuh dengan berantai melalui pemberitaan itu. Kemudian darimana biaya operasional peliputan itu, tentu dari iklan, kemudian mengapa para pemasang iklan mau membayar, karena acara itu banyak ditonton orang, kenapa acara itu ditonton banyak orang, karena menarik, mengapa menarik….dst. Adalah pertanyaan sebab akibat yang bersifat sangat panjang untuk di uraikan dalam kolom ini. Jika kita perhatikan yang pokok dari hal itu adalah spirit untuk berbuat baik bagi kejayaan budaya bangsa sendiri.</p>
<p>Dapat kita lihat, salah satu semaraknya kehidupan bertheater masyarakat Jepang, pada Global TV misalkan dalam acara “Masquered”. Sungguh dapat kita lihat bermunculannya beragam ide-ide yang tak terduga, pada acara festival teather itu dan hal ini terus tumbuh dan berkembang dan terhitung luar biasa.</p>
<p>Sesungguhnya kreatifitas, berkesenian atau apa saja, adalah saling berkaitan dan berhubungan satu aspek dan aspek lainnya, sebagaimana teori system; Bahwa kehidupan kita saat ini adalah bagian dari kehidupan yang lebih besar dan masing-masing berperan sesuai dengan fungsinya, lalu system itu melahirkan kesetimbangan. Jadi mungkin saja dari sisi teori system kita hanya sebagai pembeli atau konsumen dari para pembuat (Jepang , Eropah dan Amerika) sekiranya tidak ada gejolak maka system ini akan tetap berjalan dalam posisi setimbang….MENYEDIHKAN MEMANG!!!!</p>
<p><em><strong>Walahhu&#8217;alam bisawab </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/01/12/kretifitas-publik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SEKOLAH UNGGULAN DI KALSEL&#8230;.?</title>
		<link>http://ogifajar.com/2008/01/01/sekolah-unggulan-di-kalsel/</link>
		<comments>http://ogifajar.com/2008/01/01/sekolah-unggulan-di-kalsel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 16:37:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ogi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ogifajar.com/2008/01/01/sekolah-unggulan-di-kalsel/</guid>
		<description><![CDATA[
Foto rekaan; &#8221; Seandainya sekolah unggulan berdiri&#8221; 
Bismillah ar-rahman ar-rahim
Pada dasarnya ide tentang perlunya sekolah unggulan ini bermula dari, pemahaman bahwa siswa tidak dapat diseragamkan perlakuannya dalam konsep pendidikan. Artinya harus ada range atau rentang ukuran kemampuaan siswa, melalui rentang ukuran inilah kemudian dilahirkan konsep pembelajaran yang diperkirakan cocok bagi mereka. Suatu misal bagi beberapa anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/pendi.jpg" /><a href="http://i212.photobucket.com/albums/cc173/ogifajar/pendidikan.jpg"></a></p>
<p><em><strong>Foto rekaan; &#8221; Seandainya sekolah unggulan berdiri&#8221; </strong></em></p>
<p><em><strong>Bismillah ar-rahman ar-rahim</strong></em></p>
<p>Pada dasarnya ide tentang perlunya sekolah unggulan ini bermula dari, pemahaman bahwa siswa tidak dapat diseragamkan perlakuannya dalam konsep pendidikan. Artinya harus ada range atau rentang ukuran kemampuaan siswa, melalui rentang ukuran inilah kemudian dilahirkan konsep pembelajaran yang diperkirakan cocok bagi mereka. Suatu misal bagi beberapa anak diperlukan Sekolah Luar Biasa type A, B atau C dengan konsep berpikir yang sama kemudian lahirlah pemikiran perlunya sekolah unggulan bagi anak yang diklasifikasikan berkemampuan lebih</p>
<p>Berawal dari dengan berdirinya SMA Taruna Nusantara di Magelang, yang digagas Jend. L.B. Moerdani (Alm.) Secara perlahan namun pasti, langkah ini di ikuti oleh banyak pihak yang juga merasa perlu mendirikan sekolah unggulan. Pada pertengahan tahun 90 an, Kalimantan Selatan pun merasa perlu mendirikan sekolah unggulan untuk menampung para pelajar yang dianggap “berkemampuan lebih”.</p>
<p>Dengan mensiasati bantuan dana salah satu lembaga donor Internasional  untuk membangun  sebuah SMA (biasa),  dimodifikasi dengan dana APBD Tk I dan TkII (istilah waktu itu), sehingga menjadi SMA yang memiliki fasilitas lengkap (unggulan). Waktu telah berlalu, pejabat yang menangani silih berganti, persiapan terus dilakukan secara bertahap. Pada saat Assiten III Sekwilda dijabat oleh Drs. Raymullan Alm., keinginan “urang banjar” memiliki sekolah unggulan  nyaris terkabul.</p>
<p>Konsolidasi berbagai pihak yang berkepentingan   hampir mencapai 100%. Seluruh Kandep Depdikbud Kabupaten dan Kotamadya telah dikumpulkan untuk konsolidasi  yang hasilnya antara lain; Kandep Dikbud se Kalimantan Selatan siap untuk melakukan penyaringan siswa unggul dari masing-masing Kabupaten dan Kotamadya pada tahun ajaran 1999-2000.</p>
<p>Kanwil Depdikbud Provinsi Kalsel kala itu, di bawah koordinasi     Drs. Kasim Abbdurahman, MA. telah menyiapkan dengan cukup rinci, metode mekanisme hingga persyaratan guru-guru yang akan mengajar disekolah tersebut. Bahkan Depdibud telah memindahkan Kepala Sekolah yang dinilai memiliki prestasi terbaik menjadi kepala sekolah SMA unggulan (persiapan ) tersebut.</p>
<p>Pada tataran dana, seluruh perwakilan Pemda Tk II, se Kalimantan Selatan plus Pemda Prov Tk I Kalimantan Selatan telah menyatakan kebulatannya, untuk siap berbagi tanggung jawab mendirikan sekolah kebanggaan ini. Dalam salah satu pertemuan konsolidasi  tercatat Drs. Sofyan Arfan Alm (ketika itu Sekwilda Tk II Kodya Banjarmasin) adalah pejabat yang paling impresif mendukung gagasan tersebut, selain itu Bupati KDH Tk II Tapin  adalah pejabat yang juga sangat menaruh perhatian besar terhadap gagasan ini.</p>
<p>Pendek kata hampir semua komponen yang berkepentingan dan menentukan dalam  hal  teknis  pendidikan atau dana  telah berada pada posisi “siaga satu” alias siap tempur. Di  jajaran Pemda Tk I Kalsel, telah disiapkan tim kecil yang siap mengkoordinasikan berbagai hal. Kasubdin Cipta Karya (kala itu) Ir. Erhamna dengan beberapa staf telah demikian siap mulai dari site plane, gambar kerja hingga RAB dengan berbagai alternatif.</p>
<p>Assisten III Sekwilda (kala itu ) telah mengunjungi lokasi dan bangunan yang dicadangkan sebagai SMA unggulan., Jalan masuk menuju ke lokasi yang berlobang serta berliku segera disikapi, agar pada tahun anggaran terdekat (jika perlu ABT) segera diperbaiki melalui dana Inpres atau dana apa saja yang ada di Kabupaten Banjar atau Kotif Banjarbaru.</p>
<p>Melalui mekanisme pemerintahan yang sentralistik (masa itu) koordinasi antara pejabat Pemda Tk I dengan pejabat Pemda Tk II Banjar atau Kotif Banjarbaru guna merealisasi pembangunan jalan yang hanya lebih kurang 2,5 Km rasanya sangatlah mudah.</p>
<p>Pendek kata semua pihak telah memiliki kesatuan pandangan, bahwa SMU unggulan harus beroperasi paling tidak pada tahun ajaran 1999 atau 2000. Namun fakta kemudian berkata lain. Ketika  Tim kecil (akan) mulai bergerak gonjang-ganjing krisis ekonomi yang dilanjutkan dengan krisis politik dan  sebagainya.</p>
<p>Dampak dari krisis ini, hampir setiap hari demo silih berganti datang ke kantor Pemda Tk I Kalimantan Selatan. APBD Tk I Kalsel di Revisi untuk pencadangan dana ketahanan pangan dan sebagainya. Banyak pejabat yang mengambil posisi merunduk bahkan tiarap agar tidak terkena gelombang demo yang sukar diduga sasasrannya.</p>
<p>Ide, semangat dan perencanaan yang (hampir) jadi untuk mendirikan sekolah unggulan perlahan-lahan tenggelam ke dasar asa dan keinginan sebagaimana “Tictanic” yang tenggelam ke dalam samudra yang dingin membeku.</p>
<p>Jika mengingat itu,  kadang-kadang hati kecil terasa pedih dan ingin menangis, “Urang Banjar” telah kehilangan tongkat yang sangat berharga.  Pada masa kini rasanya sulit diharapkan Pemerintah Provinsi, Kabupaten  dan Kota mau bergandeng tangan secara bersama untuk  membangun sebuah sekolah unggulan.</p>
<p>Karena mereka terbalut egoisme otonomi yang melahirkan simbol masing-masing daerah otonom. Sehinga diakui atau tidak masing-masing Pemerintah Daerah menginginkan letak sekolah unggulan adalah di daerah nya bagi dengan alasan untuk kepentingan daerahnya sendiri pula…….. Selamat jalan …..harapan lahirnya SMA Unggulan di Kalsel……</p>
<p><em><strong>Wallahu&#8217;alam bisawab</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ogifajar.com/2008/01/01/sekolah-unggulan-di-kalsel/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
