Untuk Apa Pendidikan?

pendidikanApa sih tujuan pendidikan? Demikian tanya seorang profesor disuatu perkulihan. Diskusi dan perdebatan kemudian terjadi namun hingga perkuliahan berakhir pun tidak menghasilkan kesimpulan pasti. Dari sekian banyak pendapat, ada satu ungkapan yang hampir diamini semua orang: Pendidikan bertujuan untuk menjadikan anak didik sebagai “manusia” (humanisme). Mengapa demikian? Karena pendidikan akan sia-sia jika seseorang, kemudian menjadi “tidak berprikemanusiaan”, “egois”  atau “menipu orang lain” .

Adakah sekolah yang mengajar orang menjadi penipu atau pembohong? Secara eksplisit hal ini mungkin tidak pernah terjadi. Namun harus dipahami, pendidikan sebagai proses belajar, tidak hanya kegiatan mendengar dan mencatat pelajaran di sekolah atau bangku kuliah. Bandura seorang pemikir yang mengusung teori pembelajaran  sosial,  seperti halnya Alfred. Y. Raimer, Ivan Ilich atau Paolo Piere pada intinya mereka berpendapat : “Pendidikan bukan hanya soal duduk dan belajar di sekolah!”

Melalui proses sosial, masyarakat dan pemerintah mungkin saja mendidik seseorang atau warganya menjadi intelektual, kiai   atau  begundal   bahkan provokator. Pada titik ini masyarakat tinggal memilih ingin dijadikan apa generasi mendatang. Jika proses sosial di “manage” dengan positif maka akan lahir generasi yang brilian Sebaliknya, tebak saja sendiri apa hasilnya?

Pendidikan dan Proses Imitasi

Pendidikan sebagai upaya menjadikan generasi datang sebagai “manusia” tentunya tidak selesai jika hanya diperbincangkan lewat strategi persekolahan belaka. Walau harus diakui sekolah adalah pilar utama untuk menopang proses pendidikan. Analisis terhadap beberapa fenomena yang berkembang pada generasi muda kita, sesungguhnya sangat refresentatif jika didekati dengan term “ proses pembelajaran sosial” seperti yang dianut oleh Bandura atau Ivan ilich dan kawan-kawan. Sebagai contoh : Polisi mungkin saja benar,  mengusulkan agar dipasang pita getar (Polisi Tidur) di seputar lapangan Murdjani.  Upaya ini diharapkan akan menjadi resep “Ces-Pleng” agar mereka yang doyan ngebut menghentikan aktivitasnya.

Sebagai tindakan yang bersifat “refresif “, menghalau para “racer jalanan” atau melakukan “shock therapy” dengan senjata tilang dan razia,  adalah sesuatu kewajiban dan  sah bagi penegak hukum. Namun pada level analisis kebijakan, pola pikir ini tidak boleh berhenti pada titik tersebut. Harus ada orang atau institusi yang berpikir: “Mengapa demikian banyak remaja yang kebut-kebutan (di Lap. Murdjani misalnya). Salah satu referensi yang pernah saya baca danpfahami, pada diri remaja atau siapa saja terdapat sifat ingin meniru  idola atau panutannya (proses imitasi).

Siapa yang di Imitasi

Jika di simak pada hampir semua media memberitakan perkembangan balap mobil F1 (Formula 1),  Grand Prix Super Bike atau Gran Prix 500. Peristiwa-peristiwa tersebut merupakan berita hangat dan laris dijual. Perhatikan saja terdapat banyak terbitan atau kolom yang khusus “ngomongin” sepeda motor/mobil dan segala tetek bengeknya. Banyaknya kolom itu dibaca (dibeli) para muda kita (ABG) adalah fakta yang menunjukan berita tersebut memang digemari. Secara sosiologis setelah  menggemari, kemudian lahirlah proses “imitasi”.

Secara ringkas proses ini diartikan sebagai keinginan  meniru  apa yang dilakukan oleh seorang idola. Jika para pembalap yang diidolakan, maka kebut-kebutan di jalan raya boleh jadi adalah bagian dari proses tersebut. Pada bagian lain  “Hot News”  perkembangan kompetisi Sepak Bola seperti Liga serie A Italia,  Inggris atau Spayol adalah berita dengan klasifikasi yang sangat digemari. Berita Liga basket Amerika (NBA)  adalah kompetisi yang juga diminati ribuan penggermar yang lazim disebut NBA Mania. Semua “Hot News” tersebut pada prinsipnya akan melahirkan upaya imitasi dari para penggemar.

Jika para menggemar berita F1, GP Super Baike atau GP 500, kemudian mengimitasikan diri dengan cara kebut-kebutan di jalan, dari telisik interaksi humanisme hal tersebut adalah sebuah “kewajaran”. Persoalannya kemudian menjadi runyam, ketika proses peniruan tersebut dianggap mengganggu keselamatan jiwa orang lain. Kerunyaman menjadi semakin “amburadul”  ketika pengemar sepak bola tidak dapat mengimitasi diri menjadi Zidane atau Batistuta (misalnya), karena terbatasnya sarana olahraga. Demikian juga para NBA mania yang proses imitasinya terhalang karena tidak tersedianya fasilitas yang cukup.

Miskin dan kurangnya failitas bagi para muda yang ingin mengimitasi idolanya,  pada akhirnya membuat kebuntuan penyaluran proses tersebut Jadilah para Sepak Bola mania, basket mania dan mania lainya, berbondong-bondong turut menonton proses imitasi dari mereka yang doyan “balap”.  Para “Racer Jalanan” sangat gampang melakukan proses imitasi, karena  jalan raya ada dimana-mana, mereka punya sepeda motor kemudian Polantas kita belum kelihatan wibawanya.  Disisi yang berseberangan para pembalap yang ditonton menjadi semakin bersemangat  karena “stimulus yang tumbuh” lewat para mania lain yang menjadi suporter mereka, sehingga kadang terlihat jadi semakin nekat.

Lalu Bagaimana?

Bercermin dari ini, orang tua,  memerhati kaum muda, pengambil kebijakan atau aparat penegak hukum, sangat arif jika berdiskusi, kemudian memperbincangkan jalan keluar yang sifatnya terstrukur. Artinya mereka yang merasa tua dan berkuasa jangan hanya marah melulu kemudian menuding dengan alasan basi seperti; kenakalan remaja, membahayakan jiwa orang lain, rembesan budaya asing, ajang narkoba dan banyak lagi stigma klise sejenis itu. Pikirkan perencanaan, pengembangan dan pemeliharaan ruang publik. Bina secara proporsional dengan serius ikon-ikon yang digemari para muda, seperi sepak bola, Bala basket, panjat dinding, Volly ball  skater group (Skate Board), Scooter Club atau kegiatan-kegiatan seni, seperti Band remaja, Dance group,  Cheer Leader dan kegiatan lainya yang sedang ngetren. Banyak sekali peluang untuk merangkul para remaja atau kawula muda. Rangkulan ini akan membuat “proses imitasi” mereka akan beragam  dan terarah  sehingga tidak lagi menumpuk di satu tempat yang kemudian dirasa merepotkan  banyak orang. Suka atau tidak ABG saat ini adalah penentu bangsa kita pada masa datang. Perlakukanlah mereka dengan wajar, penuh empati dan  kasih sayang.

Satu hal lain yang juga harus diingat, apa yang pernah dilalui generasi terdahulu, proses dan situasinya tidaklah sama dengan  proses  dan kejadian yang saat ini  berlangsung. Generasi yang tumbuh pada era 80’an sunguh berbeda dengan mereka yang tumbuh pada era 90’an, demikian seterusnya. Aksioma ini harus dipahami agar tidak ada monopoli pemikiran tentang  pakem proses pembinaan para muda kita. Ngomongin ABG  beserta pernak-perniknya dengan serius menurut saya pada saat ini sangat bernilai strategis, karena apakah kita mau jadi bangsa comberan atau bukan, sangat ditentukan dari rangkaiaan proses ini.

Seorang teman pernah mengeluh, kok politisi,  birokrat atau para aktifis,  sukanya cuma ngomong soal-soal politik tingkat tinggi, dengan intensitas dan kerapatan yang luar biasa, semisal setelah soal Tomy dan tetek bengeknya, muncul Rahardi Ramlan Cs, Kemudian Akbar Tanjung, lalu Asramagate kemudian apa lagi ya? Pun di tataran local, berita Alur Barito dengan berbagai varian adalah “berita penting” yang terus memonopoli halaman media kita.

Jika hanya soal politik yang kita omongin, dimana ABG kita berada?. Kalapun ada yang ngomongin ABG biasnya hanya seputar mode,  kegiatan ekskul yang sifatnya sporadik, bukan pemikiran terstruktur tentang mau diapain para muda kita ini. Terkesan ngomongin segala macam problem atau aspirasi para muda (ABG) kita tidak memiliki nilai jual politik, apa lagi mendongkrak popularitas untuk sampai pada posisi sebagai tokoh, pengamat atau politikus yang disegani (padahal disegani itu penting ya?) Lebih dari itu, ngrurusin ABG sering dikomentarin miring, seperti kata seorang teman baik, “Wah pantas awet muda, urusannya ABG melulu sih,” dengan tatapan mata genit  penuh  kecurigaan. Kalau sudah begini mau apa lagi? Dengan segala kekonyolannya teman lain nyeletuk, “Salah-salah rumah tanggamu jadi taruhan!” Nah lho, kalau  seperti ini masalahnya, siapa yang tidak keder!