Beruntung sekali kami diajak Miyuki ’ibu kost’ kami yang baik untuk melihat Nara kota legendaris dalam sejarah perjalanan budaya Jepang. Nara adalah kota yang berdekatan dengan Osaka dan Kyoto, dari Osaka dengan menggunakan kereta api, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam  perjalanan. Nara memang kota wisata, sepintas jika kita berada di Nara, profil kotanya sangat mirip dengan Bogor dan kebun rayanya yang tersohor itu.

Ketika memasuki kota Nara, kami disambut oleh penarik Jindigkisa yang ramah,  jika di Hongkong atau China lazim disebut dengan istilah ricksaw yang artinya gerobak tarik berbentuk becak. Mereka memakai seragam lengkap bersepatu. Ada yang lucu ketika bertemu para penarik becak ini, berkebetulan sehari sebelum ke kota Nara, kami diajak rekreasi ke kota Kyoto oleh pantia kejuaraan dunia karate kyokushinkai.

Nah ketika rekreasi itu salah seorang  teman kami telah membeli sepatu yang dia persepsikan sebagai sepatu ninja. Ketika ditanya kenapa membeli sepatu itu ia pun menjawab, “Ini kelihatannya bagus untuk latihan sensei, sepatu inikan sering dipakai oleh para ninja di film-film” jawabnya. Ternyata sepatu yang identik sebagai sepatu ninja justru dipakai sebagai seragam bagi penarik jidigkisa. Lalu bertaburlah seloroh “Disangka sepatu nang ditukar sepatu ninja sekalinya sepatu gasan membecak…ha…ha…” Sungguh ramai seloroh tentang sepatu ‘model ninja’ yang telah dibeli oleh salah seorang rekan kami itu.

Ada hal yang menarik ketika kami melihat dua pasang turis minta ditarik dengan Jindigkisa, Ternyata penariknya telah menyiapkan dua kain merah seukuran handuk untuk menutupi kaki, terutama turis wanita yang menggunakan rok atau celana pendek. Demikian santun budaya yang telah diajarkan nenek moyang  bangsa Jepang, di tanah Jepang yang penduduknya bukan beragama Islam, konsep tetang batasan aurat ternyata dipahami juga.

Kota Nara memiliki banyak pepohonan, hewan rusa atau kijang tutul yang bebas berkeliaran sehingga menambah romantisnya kota itu. Namun sungguh sayang keromantisan ini terganggu oleh suara burung gagak yang juga banyak beterbangan di sela-sela pohon-pohon rindang di kota Nara. Perasaan seram dan berkesan angker terhadap burung gagak bisa jadi hanya menjadi milik kita masyarakat Indonesia. Entahlah bagi masyarakat Jepang. Kenapa banyak burung gagak? Saya tidak sempat menanyakan walaupun saya ingin sekali mengetahuinya.

Patung Sang Budha raksasa adalah salah satu obyek wisata yang menjadi salah satu titik tujuan orang datang ke kota Nara. Sang Budha di Kota Nara ini dalam posisi duduk bersila, agak berbeda dengan patung Sang Budha yang di Thailand, dimana patungnya dalam posisi tidur. Kuil dimana  patung Sang Budha berada terdiri dari dua lapis gerbang yang sangat tinggi dan besar, dengan tiang yang terbuat dari batang pohon dua kali pelukan orang dewasa, entahlah apakah diameter pohon sebesar itu masih ada di tanah Kalimantan. Sungguh sedih saya jika mengingat hal ini.

Patung  Sang Budha yang ada di kuil itu jumlahnya ada tiga, dengan posisi sebagaimana titik pada segi tiga atau tombak. Ukuran paling besar berada di depan dan diapit oleh dua lainnya yang lebih kecil. Melalui perbincangan dengan Miyuki dan beberapa orang Jepang, ternyata terdapat hubungan yang erat antara agama Shinto dengan Budha. Sehingga banyak para pelajar dan pengunjung lain yang beragama Shinto turut bersembahyang sebagai mana umat Budha lainnya.

Lelah  juga kaki ketika mengitari kuil itu, menandakan demikian besarnya kuil tersebut. Di luar kuil itulah banyak rusa berkeliaran dengan bebasnya. Bahkan menurut saya agak lucu, di toko-toko sekitar kuil juga ada yang menjual makanan untuk rusa atau kijang. Mungkin karena takut atau karena tidak terbiasa, para rusa atau kijang itu tidak mau mendekati ke makanan atau kue. Tetapi jika kita membeli kue itu, beramai-ramailah para kijang atau rusa mendekat sekaligus menyerbu, bahkan bisa-bisa sampai rusa atau kijang itu salah gigit, menggigit tangan kita.

Kue untuk makanan kijang atau rusa bentuknya bundar dan pipih dijual sekitar 50 yen / bungkus. Selain makanan rusa dan kijang pada toko-toko itu juga dipasarkan beraneka ragam makanan, Ketika pengunjung membeli makanan selain makanan untuk rusa, uniknya para rusa itu tidak mau mendekat. Secara berseloroh salah seorang dari kami menyatakan ‘rupa-rupanya kijang-kijang di sini sudah di tatar atau sudah S2 berataan….he…he…”.

Sebenarnya ingin iseng-iseng mencicipi bagaimana rasanya kue untuk rusa dan kijang itu, Namun sebagai mana ungkapan dalam bahasa Banjar “unjat-mara, unjat mara” alias ragu-ragu, takut kalo menjelma jadi kijang atau rusa benaran…he…he….

Ternyata dari pusat rekreasi di kota Nara telah tersedia bis kota untuk mencapai stasiun guna kembali ke Osaka. Di atas kereta menuju Osaka ramai kami berbincang serta berseloroh tentang hal-hal yang menurut kami lucu. Entah itu tentang sepatu ninja, makanan rusa dan lainnya. Kami terus bercanda dan akhirnya mendapat teguran dari pihak gerbong (dengan bahasa tarsan tentunya…he..he..). Usut punya usut ternyata naik kereta di jepang tidak diperkenankan berbicara atau berseloroh yang menimbulkan keributan atau kegaduhan.

“Ribut dan bercanda saja tidak diperkenankan apalagi ngamen,” sela salah seorang teman yang membuat suasana kembali menjadi nyaris meriah, namun kemeriahan itu terpaksa ditahan-tahan alias tidak berani tertawa lepas lagi.

Antara Nara, Bogor dan Malang

Dari perjalanan ke kota Nara, ada beberapa pelajaran yang bisa saya peroleh. sesungguhnya banyak tempat di Indonesia yang setara dengan kota Nara. Misalnya kota Bogor atau Malang. Keungulan Nara hanyalah pada kebersihan kotanya. Artinya setiap pengunjung berusaha tidak membuang sampah dan merokok sembarangan. Kemudian persediaan toilet yg bersih dan nyaman banyak tersedia pada setiap sudut tempat rekreasi di Kota Nara. Yang terakhir masyarakatnya atau para penyedia jasa bersikap sopan dan jujur. Artinya sikap “mengenai” dalam istilah Banjar atau ilmu “Aji Mumpung” benar-benar dijauhkan oleh para pekerja  jasa pariwisata di Jepang.

Jika ketiga hal itu dapat dilakukan maka saya berkeyakinan Bogor dan Malang setara dengan Kota Nara.

Pertanyaannya, bisakah kita? Jawabnya ada dihati dan diniat kita masing-masing.