headermask image

header image

Catatan Perjalan ke Okinawa (2)

Kenangan dengan penjual kue di pinggir jalan

Bismillah ar-rahman ar-rahim

Selain kebersihan kotanya, ada hal lain yang menarik untuk ditulis sebagai sebuah catatan tentang prilaku dan sikap masyarakat Okinawa. Sepanjag yang dapat saya amati, sikap dan pola pikir orang-orang di Okinawa cenderung sederhana dan apa adanya, namun dibalik kesederhanaan yang tampak, terdapat satu sikap masyarakat Okinawa yang kukuh menggenggam adat dan budaya. Melalui refleksi adat dan budaya ini, mereka melawan dengan sangat kuat terhadap pengaruh peradaban barat.

Di kepulauan Okinawa terdapat pangkalan militer Amerika Serikat, Pangkalan itu berdiri sejak berakhirnya Perang Dunia II, konon sebagai salah satu syarat yang diajukan sekutu atas kekalahan Jepang dalam perang itu. Keberadaan Pangkalan ini telah lama menjadi sorotan umumnya kaum muda Jepang, artinya yang meributkan keberadaan pangkalan militer itu tidak hanya orang Okinawa saja.

Kaum muda Jepang berpandangan dengan adanya pangkalan itu berarti kewibawaan Kaisar mereka telah digerogoti atau dengan kata lain kedaulatan Jepang dengan berdirinya pangkalan itu patut untuk dipertanyakan. Namun apalah daya suara dari kaum muda ini, jika dibandingkan dengan kehendak dan kepentingan sang super power itu.

Jika pangkalan Amerika Serikat kedudukannya tidak dapat diganggu-gugat, dalam diam masyarakat Okinawa (Jepang) ternyata dapat melawan dengan sangat hebat. Mereka tidak melawan dengan spanduk, demo atau senjatan akan tetapi mereka melawan dengan budaya. Dengan perlawanan melalui budaya ini tentara amerika yang bertugas di Okinawa sungguh tak merasa nyaman, Ditengah keramah-tamahan masyarakat Okinawa (Jepang), tentara Amerika sungguh merasa demikian kesepian, jika diungkapkan dengan kata-kata puitis.

Hal-hal miring tentang prilaku para tentara ini tentunya telah dikenal secara luas oleh masyarakat dunia. Namun karena kebutuhan stabilitas kawasan (berdasar versi Amerika Serikat), pangkalan-pangkalan itu tetap ada. Persoalan benturan budaya adalah salah satu hal yang menyulitkan berbagai pihak, sebagaimana pada ex-pangkalan Amerika, di Subic Fhilipina atau Saigon Vietnam.

Biasanya disetiap berdirinya pangkalan militer, sangat besar prilaku masyarakat lokal yang terpengaruh dengan “budaya” tentara Amerika tersebut. Padahal mungkin saja “Budaya” dari prilaku mereka yang biasanya berkesan buruk itu, juga tidak mudah dilakukan para tentara tersebut di negaranya sendiri.

Prilaku “nyeleneh” para tentara yang lazim disebut “GI” mungkin karena mereka suntuk di pangkalan dan jauh dari kampung halaman. Bermodalkan kekuatan ekonomi (uang), perlakuan khusus dari pemerintah lokal serta kekuasaan biasanya para “GI” ini dari sisi budaya, dapat berbuat apa saja. Termasuk terhadap hal-hal yang berdasar nilai-nilai lokal terlarang, semisal seks bebas atau mabuk ditempat umum dan sebagainya.

Persoalan kemungkinan terjadinya perembesan prilaku buruk para tentara itu terhadap masyarakat lokal, telah diantisipasi dengan sangat baik oleh pemerintah Jepang di Okinawa. Misalkan jika selama ini kita mengenal dan membenarkan jargon, bahwa bahasa internasional adalah bahasa inggris sehingga kita dan anak-anak kita harus mengerti dan sanggup berbicara dalam bahasa itu, jika perdagangan, budaya, pendidikan dan sebagainya ingin tampil di pentas dunia. Demikianlah nilai yang telah lama kita dapat dan sekaligus mungkin kita benarkan. Namun dengan melihat Okinawa (Jepang), pikiran saya menjadi terbuka, ternyata jargon itu tidak mutlak kebenarannya.

Minimnya informasi dalam bahasa Inggris yang tertera pada booklet, brosur atau apasaja tetang Okinawa secara tidak langsung, telah memukul jembatan komunikasi antara tentara Amerika dengan masyarakat lokal (Okinawa). Sangat sedikit orang di Okinawa yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris, namun harus pula dipahami situasi seperti ini tidak lahir begitu saja, akan tetapi merupakan hasil konsepsi teselubung dari perlawan masyarakat Okinawa (Jepang) terhadap Amerika (Barat) dari sisi Budaya.

Nilai yang relatif takberubah di tempat-tempat hiburan

Para pelajar dan mahasiswa di Jepang dari mengawali proses pendidikan telah ditanamkan dengan sangat kuat tentang kebanggaan terhadap budaya mereka, nilai-nilai heroisme, kecintaan terhadap Kaisar dan sebagainya. Melalui proses pendidikan inilah terbangun nasionalisme yang luarbiasa kuatnya dari orang-orang Jepang ini.

Pemahaman dan Nasionalisme mereka ternyata dapat meruntuhkan idiom bahasa Inggris adalah bahasa Internasional terpenting. Di Jepang (Okinawa) dari Informasi yang saya dapat, ternyata bahasa Inggris bukanlah mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, dengan kata lain untuk memperhalus istilah bahasa Inggris “terlarang” di Okinawa.

Jika Indonesia memprogramkan Visit Indonesia Years II pada tahun 2008 terutama bagi turis asing, Okinawa justeru terkesan menghindar dari kedatangan turis-turis asing. Ada satu kejadian unik yang saya alami, karena pegal-pegal seharian di Budokan (semacam gedung serba guna) pada malam itu kami ingin masage atau refleksi.

Di tepi jalan utama di Okinawa terdapat tempat untuk masage dan refleksi, masuklah kami ke dalamnya namun dengan sangat sopan seraya menunduk dengan ucapan “arigato….dst” kemudian dia menyodorkan selembar kertas dengan tulisan berbahasa Inggris yang bunyinya lebih kurang sebagai berikut : “Mohon maaf, karena keterbatasa kemampuan berbahasa Inggris dari pegawai kami, dengan sangat menyesal kami hanya melayani pelanggan yang dapat berbahasa Jepang (Orang Jepang)”…..nah looo.

Tulisan ini setidaknya ingin menggambarkan sesungguhnya tidak ada kebenara mutlak dari sebuah terminologi…..misal turis asing penting untuk meningkatkan perekonomian atau bahasa Inggris amat penting jika kita ingin tampil di pentas dunia….. Jepang dengan segala kemampuannya ternyata dapat menjungkirbalikkan semua terminologi ini…..

Wallahhu’alam bisawab

Catatan Perjalanan ke Okinawa (1)

Berpose di atas jembatan yang air kalinya sangat bersih

Bismillah ar-rahman ar-rahim 

Dari tanggal 17 hingga 22 Januari, saya berkesempatan mengunjungi Okinawa salah satu provinsi negara Jepang yang posisinya berbatasan langsung dengan China Taipei. Saya datang sebagai official karateka Indonesia yang berlaga dalam turnamen Kejuaraan Dunia Karate Kyokusin Versi All Kyokusin Union. Okinawa adalah kota yang terhitung tidak terlalu besar dan sibuk menurut ukuran Jepang, bahkan bandara internasionalnya yang bernama Naha International Airport terkesan sangat sederhana. Akan tetapi dibalik semua itu terdapat satu kenangan yang luar biasa tentang Okinawa, terutama mengenai kebersihan kotanya.

Sepintas yang saya lihat, kebersihan di Okinawa adalah hasil dari budaya bersih masyarakatnya. Di jalan-jalan kami lalui setiap pagi dan siang, tak pernah terlihat petugas kebersihan atau tukang sapu jalan yang mondar-mandir bekerja. Sebagai sebuah negara yang sangat maju mungkin saja mereka menggunakan tekhnologi untuk menjaga kebersihan kota. Artinya mereka memakai mesin penyapu jalan yang serba otomatis, tapi kapan bekerjanya..? Karena selama mondar-mandir di pusat kota Okinawa saya tak pernah berjumpa dengan mesin-mesin penyapu jalan otomatik itu. Jadi kapan yaa… jalan-jalan itu dibersihkan ? Satu pertanyaan yang memang terkesan bodoh untuk dilontarkan.

Selama di Okinawa hanya sekali saya bertemu denga mobil pengangkut sampah yang beroperasi sekitar jam 10 malam, dengan satu orang supir dan seorang keneknya, selain peristiwa itu takpernah sekalipun saya bertemu dengan; petugas, mesin atau apa saja yang berkaitan dengan kebersihan kota.

Konon katanya, seluruh kota di Jepang seperti Okinawa kebersihan kotanya, satu hal yang mengudang decak kagum tentunya. Selain hanya sekali bertemu dengan mobil pengankut sampah, di Okinawa juga tak terlihat Polisi yang berjaga-jaga mengatur lalu-lintas dan ketertiban lainnya. Bahkan dalam event sekelas Kejuaraan Dunia yang diikuti oleh 47 negara dari A sampi Z tak terlihat polisi berjaga atau bertugas.


Demikian bersih tangga stasiun monorel dalam kota
Semua urusan dari pengaturan antrian, penyobekan karcis hingga pengaturan tempat duduk ditangani oleh panitia penyelenggara, padahal penonton yang datang ribuan orang dan dari berbagai negara. Namun semuanya dapat berjalan tertib, sehingga timbul rasa iri di hati ini, melihat kesadaran yang telah berbuah menjadi ketertiban masyarakat di Okinawa. Memang dari budaya antri yang telah mendarah daging, kebersihan yang telah merasuk kedalam jiwa, hingga rasa taat terhadap aturan lalu lintas yang luar biasa, adalah gambaran spirit dari masyarakat Okinawa yang tak terlalu sering diteriakan, namun terus dilaksanakan oleh mereka.

Yang patut pula menjadi catatan, prosentasi orang usil di Okinawa bisa dikatakan atau nyaris tidak ada, hingga kepelosok kota Okinawa yang kami datangi, tak terlihat satupun grafiti atau coretan di dinding buah tangan orang usil. Padahal jika remaja di Okinawa, jika mau membuat grafiti kan mudah saja, karena polisi atau satpam kan terlalu banyak yang berjaga-jaga. Rupa-rupanya nilai tidak ingin menimbulkan kerusakan atau kekotoran telah sukses tertanam dan ditanamkan dalam jiwa remaja di Okinawa.

Pada malam terakhir kami di Okinawa, ingin rasanya menikmati Ayam Goreng Kentucky, dan mampirlah kami di salah satu gerai Kentucky. Bersamaan dengan kami ada sepasang remaja yang sedang makan, usai makan ternyata mereka membersihkan segala kotoran atau sampah bekas makan mereka. Artinya sampah bekas makanan mereka, diletakan pada bak sampah yang telah terbagi menjadi 3 bagian itu, kemudian talam/tatakan mereka letakan dengan rapi ditempat asalnya…..oooo rupanya selama beberapa hari ini ketika kami makan pagi di Hotel tempat kami tinggal, karena makan paginya menggunakan metode self service seperti di Kentucky , seharusnya berdasar kebiasaan di Okinawa ini, talam atau tatakan di kembalikan ketempat asal… lalu sampah sisa makanan di buang ke tong sampah yang 4 macam itu…. Setelah seluruh urusan beres barulah kami seharusnya dapat meninggalkan ruang makan…. yach jadi malu dech kalu inget hal ini…he..he..

Wallahhu’alam bisawab 

Kretivitas Publik

Kartun model ini yang sekarang merajai dunia

Bismillah ar-rahman ar-rahim

Kreatifitas adalah satu hal yang mudah diucapkan namun relatif rumit untuk dibentuk atau dibangun. Apalagi slogan “Dengan Kesenian Kita Tingkatkan Kreatifitas Remaja” misalnya, adalah slogan yang benar-benar memerlukan kesungguhan untuk mewujudkannya. Kesungguhan yang dimaksud adalah keseriusan dalam pemikiran, serta daya dan upaya yang kuat tentunya, sehingga kalimat romantis atau heroik saja, belum cukup untuk mewujudkan cita-cita itu.

Membangun kreatifitas masyarakat melalui kesenian, tak cukup dengan talenta saja, jadi harus ada mekanisme manajerial di dalamnya. Secara praktis kita lihat Jepang pada saat ini, Mereka telah mampu mengeser kedudukan Hollywood (Amerika dan Eropa) untuk Film Kartun, Animasi, Komik dan Buku Bacaan. Setelah sekian lama , Buku Bacaan, Komik serta Film Kartun dan Animasi Amerika dan Eropah merajai pasaran dunia.

Pada tahun 80an hampir seluruh anak-anak dan remaja di dunia tentu mengenal sosok Tintin detectif cerdik dengan anjing kecilnya yang lucu, mereka tentunya juga mengenal sosok Micky & Mouse yang lucu dan menggelikan. Dimulai dengan Film Animasi The Lion King, kemudian dilanjudkan dengan Petualangan Mulan yang gagah berani nilai-nilai Asia mulai merambah Hollywood. Untuk diketahui ternyata The Lion King adalah cerita khayalan dari kartunis Jepang yang kemudian dikembangkan oleh industri film Hollywood.

Sebelum masa tahun 80an artinya pada era 70an, anak-anak dan remaja di dunia mengenal sosok, Tarzan atau si Kaki Besar Geronimo dari suku Apache dalam cerita fiksi karya Karl May. Di Indonesia pada tahun 70an anak-anak dan remaja mengenal super hero versi Indonesia seperi; Godam si tangan kuat dan bisa terbang, Aquanus simanusia air, Gundala si Putra Petir dan yang lainnya.

Sekarang ini tak banyak lagi anak-anak atau remaja yang menyimak Micky & Mouse apalagi cerita Godam, Gundala dan sejenisnya, yang terlihat dengan jelas, komik, Film Kartun dan Animasi telah dikuasai oleh produk jepang. Hanya beberapa komik atau bacaan barat yang masih diminati oleh remaja dan anak di Indonesia seperti Harry Potter dan Lord Of The Ring . Artinya terjadi arus perubahan berpikir dari Barat ke Asia (Jepang).

Komik dan Buku Bacaan Film Kartun atau Animasi, memang salah satu bentuk dari produk berkesenian, hal ini tentunya adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Namun efek lain yang juga harus dicermati pada era informasi seperti sekarang ini, negara yang menguasai arus informasi pada sektor Komik, Buku Bacaan, Film Kartun dan Animasi tentu memiliki sisi keunggulan tersendiri dalam persaingan lainnya.

Salah-satu contoh keseriusan Jepang membina kretivitas seniman 

Apakah keberhasilan Jepang merebut kiblat itu hanya berdasar talenta atau bakat dari Komikus, Kartunis atau Animator semata? Lalu apakah pencapaian itu dapat diraih dalam waktu yang singkat? Jika coba kita telusuri apa yang telah diraih oleh Jepang, adalah buah dari usaha yang serius dan sungguh-sungguh dalam waktu yang relatif panjang.

Pada tahun 80an dalam sebuah kolom laporan perjalanan seorang kartunis Indonesia, merasa terheran-heran ketika mereka diundang ke Jepang. Mereka di undang dalam suatu acara berkaitan dengan profesi mereka sebagai Kartunis. Ternyata masyarakat Jepang mengelu-elukan Kartunis yang hadir dalam acara itu. Artinya ketika itu masyarakat Jepang telah sampai pada titik dimana profesi sebagai Kartunis demikian mereka hormati. Jadi membentuk sikap masyarakat yang dapat menghargai profesi kartunis tentu juga memerlukan proses yang juga panjang serta berliku. Pendek kata keberhasilan Jepang pada saat ini merupakan hasil dari keseriusan mereka membina sistem dan mekanisme berkesenian, yang diimbuhi oleh kebanggaan terhadap karya bangsa sendiri.

Kemudian jika kita perhatikan lebih jauh, ada tradisi berteather dalam kehidupan masyarakat Jepang, dan tradisi ini terus dijaga oleh mereka. Misalkan setiap tahun diadakan festival theater untuk anak-anak dan remaja, kemudian mereka menyiapkan segala keperluan penampilan dengan menjahit baju serta perlengkapan sendiri. Dengan cara ini tentu akan menumbuhkan penghayatan mereka pada kehidupan berkesenian.

Memang terlalu jauh jika kita membandingkan Indonesia dengan Jepang, namun setidaknya hal baik yang mungkin dapat kita lakukan, kita lakukanlah dengan segera. Kehidupan bertheater di Jepang dapat terus dibangun karena mereka memadukan unsur manajerial dalam pembinaan berkeseniaan. Misalkan ketika fesival theater dilangsungkan Televisi meliput acara itu dari persiapan hingga penampilan group theater anak-anak dan remaja itu.

Sehingga kreatifitas mereka dapat terus tumbuh dengan berantai melalui pemberitaan itu. Kemudian darimana biaya operasional peliputan itu, tentu dari iklan, kemudian mengapa para pemasang iklan mau membayar, karena acara itu banyak ditonton orang, kenapa acara itu ditonton banyak orang, karena menarik, mengapa menarik….dst. Adalah pertanyaan sebab akibat yang bersifat sangat panjang untuk di uraikan dalam kolom ini. Jika kita perhatikan yang pokok dari hal itu adalah spirit untuk berbuat baik bagi kejayaan budaya bangsa sendiri.

Dapat kita lihat, salah satu semaraknya kehidupan bertheater masyarakat Jepang, pada Global TV misalkan dalam acara “Masquered”. Sungguh dapat kita lihat bermunculannya beragam ide-ide yang tak terduga, pada acara festival teather itu dan hal ini terus tumbuh dan berkembang dan terhitung luar biasa.

Sesungguhnya kreatifitas, berkesenian atau apa saja, adalah saling berkaitan dan berhubungan satu aspek dan aspek lainnya, sebagaimana teori system; Bahwa kehidupan kita saat ini adalah bagian dari kehidupan yang lebih besar dan masing-masing berperan sesuai dengan fungsinya, lalu system itu melahirkan kesetimbangan. Jadi mungkin saja dari sisi teori system kita hanya sebagai pembeli atau konsumen dari para pembuat (Jepang , Eropah dan Amerika) sekiranya tidak ada gejolak maka system ini akan tetap berjalan dalam posisi setimbang….MENYEDIHKAN MEMANG!!!!

Walahhu’alam bisawab

SEKOLAH UNGGULAN DI KALSEL….?

Foto rekaan; ” Seandainya sekolah unggulan berdiri” 

Bismillah ar-rahman ar-rahim

Pada dasarnya ide tentang perlunya sekolah unggulan ini bermula dari, pemahaman bahwa siswa tidak dapat diseragamkan perlakuannya dalam konsep pendidikan. Artinya harus ada range atau rentang ukuran kemampuaan siswa, melalui rentang ukuran inilah kemudian dilahirkan konsep pembelajaran yang diperkirakan cocok bagi mereka. Suatu misal bagi beberapa anak diperlukan Sekolah Luar Biasa type A, B atau C dengan konsep berpikir yang sama kemudian lahirlah pemikiran perlunya sekolah unggulan bagi anak yang diklasifikasikan berkemampuan lebih

Berawal dari dengan berdirinya SMA Taruna Nusantara di Magelang, yang digagas Jend. L.B. Moerdani (Alm.) Secara perlahan namun pasti, langkah ini di ikuti oleh banyak pihak yang juga merasa perlu mendirikan sekolah unggulan. Pada pertengahan tahun 90 an, Kalimantan Selatan pun merasa perlu mendirikan sekolah unggulan untuk menampung para pelajar yang dianggap “berkemampuan lebih”.

Dengan mensiasati bantuan dana salah satu lembaga donor Internasional untuk membangun sebuah SMA (biasa), dimodifikasi dengan dana APBD Tk I dan TkII (istilah waktu itu), sehingga menjadi SMA yang memiliki fasilitas lengkap (unggulan). Waktu telah berlalu, pejabat yang menangani silih berganti, persiapan terus dilakukan secara bertahap. Pada saat Assiten III Sekwilda dijabat oleh Drs. Raymullan Alm., keinginan “urang banjar” memiliki sekolah unggulan nyaris terkabul.

Konsolidasi berbagai pihak yang berkepentingan hampir mencapai 100%. Seluruh Kandep Depdikbud Kabupaten dan Kotamadya telah dikumpulkan untuk konsolidasi yang hasilnya antara lain; Kandep Dikbud se Kalimantan Selatan siap untuk melakukan penyaringan siswa unggul dari masing-masing Kabupaten dan Kotamadya pada tahun ajaran 1999-2000.

Kanwil Depdikbud Provinsi Kalsel kala itu, di bawah koordinasi Drs. Kasim Abbdurahman, MA. telah menyiapkan dengan cukup rinci, metode mekanisme hingga persyaratan guru-guru yang akan mengajar disekolah tersebut. Bahkan Depdibud telah memindahkan Kepala Sekolah yang dinilai memiliki prestasi terbaik menjadi kepala sekolah SMA unggulan (persiapan ) tersebut.

Pada tataran dana, seluruh perwakilan Pemda Tk II, se Kalimantan Selatan plus Pemda Prov Tk I Kalimantan Selatan telah menyatakan kebulatannya, untuk siap berbagi tanggung jawab mendirikan sekolah kebanggaan ini. Dalam salah satu pertemuan konsolidasi tercatat Drs. Sofyan Arfan Alm (ketika itu Sekwilda Tk II Kodya Banjarmasin) adalah pejabat yang paling impresif mendukung gagasan tersebut, selain itu Bupati KDH Tk II Tapin adalah pejabat yang juga sangat menaruh perhatian besar terhadap gagasan ini.

Pendek kata hampir semua komponen yang berkepentingan dan menentukan dalam hal teknis pendidikan atau dana telah berada pada posisi “siaga satu” alias siap tempur. Di jajaran Pemda Tk I Kalsel, telah disiapkan tim kecil yang siap mengkoordinasikan berbagai hal. Kasubdin Cipta Karya (kala itu) Ir. Erhamna dengan beberapa staf telah demikian siap mulai dari site plane, gambar kerja hingga RAB dengan berbagai alternatif.

Assisten III Sekwilda (kala itu ) telah mengunjungi lokasi dan bangunan yang dicadangkan sebagai SMA unggulan., Jalan masuk menuju ke lokasi yang berlobang serta berliku segera disikapi, agar pada tahun anggaran terdekat (jika perlu ABT) segera diperbaiki melalui dana Inpres atau dana apa saja yang ada di Kabupaten Banjar atau Kotif Banjarbaru.

Melalui mekanisme pemerintahan yang sentralistik (masa itu) koordinasi antara pejabat Pemda Tk I dengan pejabat Pemda Tk II Banjar atau Kotif Banjarbaru guna merealisasi pembangunan jalan yang hanya lebih kurang 2,5 Km rasanya sangatlah mudah.

Pendek kata semua pihak telah memiliki kesatuan pandangan, bahwa SMU unggulan harus beroperasi paling tidak pada tahun ajaran 1999 atau 2000. Namun fakta kemudian berkata lain. Ketika Tim kecil (akan) mulai bergerak gonjang-ganjing krisis ekonomi yang dilanjutkan dengan krisis politik dan sebagainya.

Dampak dari krisis ini, hampir setiap hari demo silih berganti datang ke kantor Pemda Tk I Kalimantan Selatan. APBD Tk I Kalsel di Revisi untuk pencadangan dana ketahanan pangan dan sebagainya. Banyak pejabat yang mengambil posisi merunduk bahkan tiarap agar tidak terkena gelombang demo yang sukar diduga sasasrannya.

Ide, semangat dan perencanaan yang (hampir) jadi untuk mendirikan sekolah unggulan perlahan-lahan tenggelam ke dasar asa dan keinginan sebagaimana “Tictanic” yang tenggelam ke dalam samudra yang dingin membeku.

Jika mengingat itu, kadang-kadang hati kecil terasa pedih dan ingin menangis, “Urang Banjar” telah kehilangan tongkat yang sangat berharga. Pada masa kini rasanya sulit diharapkan Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota mau bergandeng tangan secara bersama untuk membangun sebuah sekolah unggulan.

Karena mereka terbalut egoisme otonomi yang melahirkan simbol masing-masing daerah otonom. Sehinga diakui atau tidak masing-masing Pemerintah Daerah menginginkan letak sekolah unggulan adalah di daerah nya bagi dengan alasan untuk kepentingan daerahnya sendiri pula…….. Selamat jalan …..harapan lahirnya SMA Unggulan di Kalsel……

Wallahu’alam bisawab