
Kenangan dengan penjual kue di pinggir jalan
Bismillah ar-rahman ar-rahim
Selain kebersihan kotanya, ada hal lain yang menarik untuk ditulis sebagai sebuah catatan tentang prilaku dan sikap masyarakat Okinawa. Sepanjag yang dapat saya amati, sikap dan pola pikir orang-orang di Okinawa cenderung sederhana dan apa adanya, namun dibalik kesederhanaan yang tampak, terdapat satu sikap masyarakat Okinawa yang kukuh menggenggam adat dan budaya. Melalui refleksi adat dan budaya ini, mereka melawan dengan sangat kuat terhadap pengaruh peradaban barat.
Di kepulauan Okinawa terdapat pangkalan militer Amerika Serikat, Pangkalan itu berdiri sejak berakhirnya Perang Dunia II, konon sebagai salah satu syarat yang diajukan sekutu atas kekalahan Jepang dalam perang itu. Keberadaan Pangkalan ini telah lama menjadi sorotan umumnya kaum muda Jepang, artinya yang meributkan keberadaan pangkalan militer itu tidak hanya orang Okinawa saja.
Kaum muda Jepang berpandangan dengan adanya pangkalan itu berarti kewibawaan Kaisar mereka telah digerogoti atau dengan kata lain kedaulatan Jepang dengan berdirinya pangkalan itu patut untuk dipertanyakan. Namun apalah daya suara dari kaum muda ini, jika dibandingkan dengan kehendak dan kepentingan sang super power itu.
Jika pangkalan Amerika Serikat kedudukannya tidak dapat diganggu-gugat, dalam diam masyarakat Okinawa (Jepang) ternyata dapat melawan dengan sangat hebat. Mereka tidak melawan dengan spanduk, demo atau senjatan akan tetapi mereka melawan dengan budaya. Dengan perlawanan melalui budaya ini tentara amerika yang bertugas di Okinawa sungguh tak merasa nyaman, Ditengah keramah-tamahan masyarakat Okinawa (Jepang), tentara Amerika sungguh merasa demikian kesepian, jika diungkapkan dengan kata-kata puitis.
Hal-hal miring tentang prilaku para tentara ini tentunya telah dikenal secara luas oleh masyarakat dunia. Namun karena kebutuhan stabilitas kawasan (berdasar versi Amerika Serikat), pangkalan-pangkalan itu tetap ada. Persoalan benturan budaya adalah salah satu hal yang menyulitkan berbagai pihak, sebagaimana pada ex-pangkalan Amerika, di Subic Fhilipina atau Saigon Vietnam.
Biasanya disetiap berdirinya pangkalan militer, sangat besar prilaku masyarakat lokal yang terpengaruh dengan “budaya” tentara Amerika tersebut. Padahal mungkin saja “Budaya” dari prilaku mereka yang biasanya berkesan buruk itu, juga tidak mudah dilakukan para tentara tersebut di negaranya sendiri.
Prilaku “nyeleneh” para tentara yang lazim disebut “GI” mungkin karena mereka suntuk di pangkalan dan jauh dari kampung halaman. Bermodalkan kekuatan ekonomi (uang), perlakuan khusus dari pemerintah lokal serta kekuasaan biasanya para “GI” ini dari sisi budaya, dapat berbuat apa saja. Termasuk terhadap hal-hal yang berdasar nilai-nilai lokal terlarang, semisal seks bebas atau mabuk ditempat umum dan sebagainya.
Persoalan kemungkinan terjadinya perembesan prilaku buruk para tentara itu terhadap masyarakat lokal, telah diantisipasi dengan sangat baik oleh pemerintah Jepang di Okinawa. Misalkan jika selama ini kita mengenal dan membenarkan jargon, bahwa bahasa internasional adalah bahasa inggris sehingga kita dan anak-anak kita harus mengerti dan sanggup berbicara dalam bahasa itu, jika perdagangan, budaya, pendidikan dan sebagainya ingin tampil di pentas dunia. Demikianlah nilai yang telah lama kita dapat dan sekaligus mungkin kita benarkan. Namun dengan melihat Okinawa (Jepang), pikiran saya menjadi terbuka, ternyata jargon itu tidak mutlak kebenarannya.
Minimnya informasi dalam bahasa Inggris yang tertera pada booklet, brosur atau apasaja tetang Okinawa secara tidak langsung, telah memukul jembatan komunikasi antara tentara Amerika dengan masyarakat lokal (Okinawa). Sangat sedikit orang di Okinawa yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris, namun harus pula dipahami situasi seperti ini tidak lahir begitu saja, akan tetapi merupakan hasil konsepsi teselubung dari perlawan masyarakat Okinawa (Jepang) terhadap Amerika (Barat) dari sisi Budaya.

Nilai yang relatif takberubah di tempat-tempat hiburan
Para pelajar dan mahasiswa di Jepang dari mengawali proses pendidikan telah ditanamkan dengan sangat kuat tentang kebanggaan terhadap budaya mereka, nilai-nilai heroisme, kecintaan terhadap Kaisar dan sebagainya. Melalui proses pendidikan inilah terbangun nasionalisme yang luarbiasa kuatnya dari orang-orang Jepang ini.
Pemahaman dan Nasionalisme mereka ternyata dapat meruntuhkan idiom bahasa Inggris adalah bahasa Internasional terpenting. Di Jepang (Okinawa) dari Informasi yang saya dapat, ternyata bahasa Inggris bukanlah mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, dengan kata lain untuk memperhalus istilah bahasa Inggris “terlarang” di Okinawa.
Jika Indonesia memprogramkan Visit Indonesia Years II pada tahun 2008 terutama bagi turis asing, Okinawa justeru terkesan menghindar dari kedatangan turis-turis asing. Ada satu kejadian unik yang saya alami, karena pegal-pegal seharian di Budokan (semacam gedung serba guna) pada malam itu kami ingin masage atau refleksi.
Di tepi jalan utama di Okinawa terdapat tempat untuk masage dan refleksi, masuklah kami ke dalamnya namun dengan sangat sopan seraya menunduk dengan ucapan “arigato….dst” kemudian dia menyodorkan selembar kertas dengan tulisan berbahasa Inggris yang bunyinya lebih kurang sebagai berikut : “Mohon maaf, karena keterbatasa kemampuan berbahasa Inggris dari pegawai kami, dengan sangat menyesal kami hanya melayani pelanggan yang dapat berbahasa Jepang (Orang Jepang)”…..nah looo.
Tulisan ini setidaknya ingin menggambarkan sesungguhnya tidak ada kebenara mutlak dari sebuah terminologi…..misal turis asing penting untuk meningkatkan perekonomian atau bahasa Inggris amat penting jika kita ingin tampil di pentas dunia….. Jepang dengan segala kemampuannya ternyata dapat menjungkirbalikkan semua terminologi ini…..
Wallahhu’alam bisawab








BlogoSquare