mentawaiJum’at, 5 Nopember 2010, Radar Banjar Peduli (RBP) memberangkatkan relawan ke Mentawai, Sumatera Barat. Keberangkatan ini bertujuan untuk melihat langsung kerusakan alam di Mentawai akibat Tsunami, serta melakukan identifikasi jenis bantuan yang paling sesuai dengan situasi dan keadaan di sana.

Tim keberangkatan RBP kali ini terdiri atas tiga orang. Yakni Yohandromeda, Randu Alamsyah dan saya sendiri. Kami berangkat melalui bandara Syamsudin Noor kemudian transit di Jakarta dan tiba sekitar pukul 3 sore di bandara Minangkabau, Padang.

Di sana kami langsung menemui Sukri, kebetulan adalah Pimred Padang Express sekaligus kontak RBP di Sumatera Barat. Sukri mengatakan bahwa sore itu ada 14 pasien korban Tsunami dari Sikakap Kab. Mentawai  telah tiba menuju RS. Dr. Abdul Jamil, Padang.

membesukkorban mentawaiInformasi selanjutnya ditambahkan oleh ketua DPRD Kab. Mentawai yang mendampingi korban, “Pasien diberangkatkan dengan helikopter,” ujarnya sambil menjelaskan alasan utama korban dikirim ke Padang adalah karena keterbatasan dalam merawat pasien selama di  puskesmas Sikakap, Mentawai.

Setelah menjenguk korban, kami langsung bergegas agar dapat ke Mentawai secepatnya. Berdasarkan informasi di lapangan ternyata kapal bernama Hiu Macan akan bertolak dari pelabuhan TPI Bungus, Padang, jam 12 malam. Kapal Hiu Macan adalah milik Departemen Perikanan dan Kelautan. Kapal Hiu Macan merupakan kapal tercepat yang beroperasi di perairan Indonesia. Kapal ini bisa melaju dengan kecepatan 30 Knot/jam.

Sekitar jam 10 malam kami berangkat ke pelabuhan TPI Bungus padang. Di sana kami tidak hanya bertiga, tapi ada 9 sukarelawan asal Jepang dan beberapa orang pakar Tsunami dari berbagai mancanegara.

Berdasarkan perkiraan, antara jarak Padang – Sikakap perjalanan akan dapat ditempuh sekitar 3 – 4 jam menggunakan kapal Hiu Macan. Tapi berhubung saat itu kapal Hiu Macan juga harus membawa kapal bantuan dari menteri Perikanan dan Kelautan untuk Pemkab.Mentawai, kapal Hiu Macan tak dapat melaju dengan kecepatan maksimal. Itu artinya waktu dalam perjalanan akan menjadi lebih lama hingga 5-6 jam.

Merasakan Amuk Gelombang

Kami berangkat dari dermaga TPI Bungus Padang sekitar jam 12 malam. Jika sesuai jadwal kami akan tiba di Sikakap jam 6 pagi. Perlahan kami segera menaiki kapal Hiu Macan dengan perasaan tidak sabar segera tiba di Sikakap. Alangkah terkejutnya – sekitar pukul 2 dini hari – kapal yang kami tumpangi dihantam ombak besar akibat badai. Awalnya hanya cemas, namun hantaman demi hantaman ombak membuat beberapa penumpang panik. Mereka berteriak agar pelampung segera dibagikan.

Rasa cemas itu juga saya alami. Bagaimana tidak, dalam situasi tersebut untuk berdiri tegap saja sulit. Sebisanya kami mempertahankan diri dengan memegang benda-benda seperti meja, kursi dan tiang.

Dalam keadaan panik, sesuatu yang lucu pun terjadi. Ketika Yohan diberi satu pelampung, ternyata pelampung itu tidak muat masuk ke badan Yohan. Lalu Yohan kebingungan namun saya tidak ingat persis kejadian selanjutnya karena kami sibuk memikirkan diri kami sendiri.

Amuk gelombang tak juga kunjung reda. Beberapa penumpang terlihat ada yang mulai muntah. Saya tetap bertahan dengan duduk di kursi dan meja yang kaki-kakinya tertanam di lantai kapal. Tangan saya kemudian mencengkeram kuat tiang yang menjulur di tengah meja tersebut. Sempat saya perhatikan sekeliling, rupanya hampir semua penumpang kecuali awak kapal tidak ada lagi yang sanggup berdiri atau beraktifitas. Tanpa sadar, rasa kantuk pun mengalahkan rasa mual. Akhirnya saya tertidur dalam keadaan duduk dan tangan yang masih mencengkeram tiang.

Tiba di Sikakap, Pagai Utara

alam mentawaiKetika saya terbangun, tampaknya masa-masa sulit tadi malam telah berakhir. Di luar matahari juga telah terbit. Rasa cemas tiba-tiba tergantikan dengan suasana hati yang membiru. Air laut yang biru dan pulau-pulau pun terlihat sangat indah. Saya dan teman-teman kagum dengan eloknya pemandangan itu. Saat melongok ke samping dan belakang kapal, beberapa sampan penduduk mengiringi kapal kami dengan membawa buah-buahan untuk diperjualbelikan.

Tak lama kemudian kami tiba di dermaga Sikakap Kec. Pagai Utara. Di sana kami juga melihat berbagai macam kapal milik TNI dan Polri. Ada KRI Teluk Cirebon, KRI Pasopati, ada KRI Teluk Ambon, serta kapal-kapal lainnya.

sampanJika ada yang datang maka ada pula yang pergi untuk pulang.  Di dermaga itu kami saksikan banyak relawan yang bersiap pulang. Tapi kedatangan kapal-kapal tak sebanding jumlahnya dengan kapal yang akan membawa mereka pulang lewat Padang. Akhirnya para relawan itu harus bersabar dan setia untuk menunggu di dermaga.

Setelah kapal yang kami tumpangi benar-benar merapat, kami segera mencari warung serta tempat penginapan sebelum melanjutkan tugas sebagai relawan. Ketika kami sedang sarapan dengan lauk yang sederhana, seorang wanita bule asal Jerman yang juga relawan menghampiri kami. Saya masih ingat, wanita bule itu juga berangkat bersama kami menggunakan kapal Hiu Macan. Setelah say hello, wanita Jerman itu kemudian bertanya kepada salah seorang teman kami.

“Sudah sembuh?” tanya si wanita Jerman. Kami segera tertawa karena teman saya itu tidak mengaku kalauu malam tadi ia muntah-muntah. Kemudian si Jerman itu memberi obat seraya berkata “Minum obat ini lagi?” Ucapan wanita Jerman itu seakan membuka kedok teman saya tadi.

Ketika kami terus menertawakan, wanita Jerman itu berkata, “Kenapa tertawa? Kalau seseorang mabuk laut karena tidak biasa di laut itu biasa dan tidak perlu ditertawakan,” katanya.Wanita Jerman itu kemudian memberikan advice. “Kalau mau berlayar maka 1 jam sebelum berlayar minum antimo dan dalam perjalanan minum obat sakit mag. Mendengar ucapan wanita Jerman itu semakin nyaringlah kami tertawa dengan nasehat-nasehat dia.

Usai sarapan, kami kemudian berjalan sekitar 300 Meter. Dari berbagai informasi, kami mengetahui bahwa di Sikakap terdapat 2 wisma penginapan. Pertama, wisma Bagindo. Kedua, wisma Lestari. Kami menuju wisma Bagindo dan menanyakan apakah masih tersisa kamar. Ternyata tidak ada lagi kamar kosong yang tersedia di sana. Demikian pun yang terjadi di wisma Lestari. Semua tempat sudah penuh. Beruntung di Wisma lestari kami bertemu Kapten Hari Udin, Kepala Teritorial Kodim Mentawai. Dengan pertolongan beliau akhirnya kami bisa mendapat 1 kamar yang sangat sederhana…(bersambung)