Perjalanan Melihat Pengungsian
Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya yang berjudul RBP untuk Mentawai. Perlu dijelaskan, Kab. Mentawai terdiri dari 4 pulau besar. Pertama, pulau Pagai Selatan. Kedua, pagai utara. Ketiga, pulau Sipora, Keempat pulau Siberut.
Keempat pulau ini berada di sisi barat sumatera, yang berada di laut lepas samudera Hindia. Sehingga pulau-pulau tersebut pada dasarnya berbatasan langsung dengan Austalia dsan India. Jadi pulau-pulau tadi berada di tepi Samudera Hindia. Kemudian yang terkena Tsunami adalah Sisi Barat kepulauan Pagai Selatan, Sisi Barat Kepulauan Pagai Utara, dan sisi Barat kepulauan Sipora. Dimana amukan Tsunami berpencar-pencar sehingga antar 1 titik dengan titik lainnya hanya bisa ditempuh dengan jalur laut serta udara saja.
Belum sempat merebahkan diri untuk beristirahat di wisma Lestari, kami mendapat informasi terbaru bahwa akan ada kapal yang berangkat ke Pagai Selatan bersama Bupati Mentawai untuk melihat langsung kondisi para pengungsi di sana. Mendengar informasi itu langasung saya menyatakan minat ingin mendampingi bupati Mentawai ke pengungsian. Syukur Alhamdulillah keinginan saya mendapat sambutan baik dari protokol Pemkab. Mentawai.
Sampai di pelabuhan,ternyata Bupati Mentawai telah berangkat menggunakan kapal motor 007 yang juga milik Pemkab. Mentawai. Mungkin ketua DPRD telah menyampaikan kepada Bupati rencana kami untuk datang ke Mentawai. Sehingga beliau menyisakan satu kapal lagi untuk kami menyusul ke pengungsian.
Maka berlayarlah kami dengan kapal Pemkab. Mentawai yang bernama Sikirei. Kapal ini relatif cukup besar karena bisa memuat hingga 20 orang penumpang. Setelah mengarungi selat + 2 jam perjalanan, tibalah kami di satu daerah yang berdekatan dengan sebuah Tanjung. Orang Mentawai sering menyebut daerah itu dengan sebutan Bulasat. Untuk sampai ke tepi pantai kami harus menggunakan sampan alias perahu tidak bermesin. Mengingat disitu tidak ada dermaga untuk menambatkan kapal.
Setelah tiba di darat, sungguh saya merasakan keadaan yang mencekam. Rumah-rumah dikosongkan atau tidak berpenghuni. Tidak ada kegiatan penghidupan di lokasi tersebut. Berdiri sebuah gereja yang dalam proses pembangunan dan proses itu terhenti atau terbengkalai. Pada beberapa titik terlihat bangunan yang porak poranda, saya menduga ini akibat hantaman Tsunami beberapa waktu yang lalu.
Kemudian kami mendapat info bahwa bapak Bupati saat ini bersama pengungsi di atas gunung (lokasi pengungsian). Maka kami pun bergegas menuju ke lokasi yang dimaksud.
Setelah melewati jalan setapak yang telah dibeton atau lajim disebut sebagai pendistrin lebih kurang 2 km kemudian disambung dengan melewati jalan setapak yang bersemak lebih kurang 1 km, akhirnya kami harus mendaki gunung dengan kecuraman + 60 0.
Mula-mula saya agak ragu untuk mendaki tanjakan itu. Tetapi keraguan itu kemudian sirna karena semangat yang kuat ingin melihat dan berdialog dengan para pengungsi langsung. Akhirnya dimantapkan langkah, saya mulai mendaki tanjakan tersebut.
Memang terasa sangat berat terlebih bobot tubuh saya sekarang lebih 100 Kg. Dan saya hanyalah mantan atlet sehingga kondisi saya tidak sekuat 10 tahun yang lalu. Syukur Alhamdulillah, akhirnya saya sampai juga di puncak bukit dengan napas yang tersengal-sengal. Sempat saya khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres dengan jantung atau paru-paru saya. Namun setelah saya coba berjalan dan meniti pada satu batang kayu, ternyata keseimbangan saya masih sangatlah baik. Namun napas tetap memburu sehingga saya agak bingung juga dengan keadaan ini. Namun ketika sampai pada gubuk terbuka, dan di sana banyak orang berkumpul kemudian pemandu saya mengatakan, “Itu Bapak Bupati, yang cuma memakai kaos singlet,” tunjuk si pemandu.
Perjalanan kali ini sungguh berat. Tidak saja menanjak, tapi juga curam dan licin karena jalan yang dilalui bersifat darurat. Sehingga benar-benar semacam uji ketangkasan. Bagi orang luar Mentawai (bukan penduduk asli Mentawai), pastilah tanjakan tersebut memberatkan. Dan saya juga melihat pak Bupati masih tersengal-sengal ketika saya tiba di sana.
Kemudian Bupati mempersilakan saya duduk di samping beliau dan memperkenalkan diri saya dengan bahasa Mentawai kepada penduduk yang hadir dalam pertemuan tersebut. Kesan yang dapat saya tangkap, Bupati Mentawai adalah seseorang yang sangat sederhana dan mau mendengarkan suara masyarakatnya. Ruang pertemuan hanyalah sebuah gubuk terbuka namun beliau dengan penuh antusias memperhatikan dengan seksama perkataan warganya. Sebuah pembelajaran yang luar biasa artinya bagi saya sebagai seorang pemimpin yang baru menjabat 3 bulan sebagai wakil walikota.
Beliau akan mengakhiri masa jabatan pada awal 2011 ini setelah 2 periode memimpin Mentawai. Dalam pertemuan tersebut ternyata bupati sedang mensosialisasikan perlunya masyarakat di kepulauan mentawai bermukim di atas bukit atau menjauhi pantai demi keselamatan mereka sendiri. Bupati juga menyampaikan bahwa berdasarkan prakiraan berbagai ilmu tentang geologi, Mentawai adalah daerah yang rawan gempa dan Tsunami.
Bagi masyarakat Mentawai, hal itu pun sebenarnya juga telah mereka sadari sejak lama. Sehingga ada semacam kearifan lokal yang mengajarkan kepada masyarakat Mentawai untuk tidak bermukim di pantai. Kearifan lokal ini pun selalu disampakan secara turun-temurun secara lisan. Kenyataan ini bisa dilihat dari profesi penduduk asli Mentawai itu sendiri. Mereka cenderung memilih sebagai petani kopra dan bukan sebagai nelayan. Memang agak aneh, orang pantai namun tidak bekerja sebagai nelayan. Mungkin hal ini dikarenakan ganasnya ombak serta kemungkinan Tsunami yang selalu mengancam ditambah kearifan lokal yang telah mereka pahami.
Oleh sebab itu, ketika bupati menyampaikan keinginan pemerintah untuk merelokasi pemukiman berpindah ke atas bukit tidak terlalu banyak pertentantangan yang dihadapi. Masyarakat Mentawai pun memiliki kesadaran akan hal itu. Jika mereka masih sering ke pantai itu dikarenakan persoalan ekonomi semata. Di pantailah mereka bisa menukarkan (barter) hasil kopra yang diolah masyarakat menjadi minyak atsiri kepada para pedagang yang merapat di pantai. Untuk memenuhi hal itu, tidak ada alternatif lain, selain melalui jalur laut. Sementara, pemerintah lamban menyiapkan dan memperbaiki jalur angkutan di darat.
Setelah bertemu sebagian masyarakat dusun, Bupati ingin bertemu lagi dengan seluruh kepala dusun yang ada di desa itu. Ternyata desa itu memiliki 6 dusun. Dan kepala-kepala dusun sudah siap untuk bertemu serta berdialog dengan bupati. Untuk mengadakan pertemuan tersebut dicarilah tempat yang agak luas yang berada di perkampungan asal. Maka bupati beserta beberapa pejabat Pemkab. Mentawai kembali menuruni bukit untuk bertemu para pemimpin dusun. Sebab di bukit itu hanya dihuni oleh pengungsi dari dua dusun saja.
Akhirnya terkumpulah 6 orang kepala dusun yang diajak berembuk supaya bersepakat merelokasi pemukiman di kilo dua atau kilo 14 dan kilo 37. Karena di titik tersebut telah ada jalan ex HPH milik PT. Minas.
Singkat cerita, proses sosialisasi berjalan lancar dan setiap kepala dusun bersepakat untuk merelokasi pemukiman ke atas bukit yang berdekatan dengan jalan dari kilometer 1 sampai kilometer 40. Sementara dusun 1 sampai dusun 6 di daerah desa Monai Bulasat akan ditempatkan di sekitar Kilo 2. Setelah sosialisasi dilaksanakan kami kembali menuju pulau Pagai Utara atau pelabuhan Sikakap.
Sekitar 30 menit menuju perjalanan pulang, kami dihadang oleh hujan dan badai yang cukup besar. Namun karena kami naik kapal yang relatif besar, maka goncangan yang dirasakan tidaklah terlalu hebat. Dalam perjalanan terdapat long boat milik Pemkab. Mentawai dengan lincah berliuk di antara ombak-ombak yang besar. Berdasarkan informasi, operator long boat itu memang tergolong operator pilihan yang biasa bermain di pantai barat Sumatera. Dan memang orang-orang seperti mereka sangat diperlukan karena keterampilan operator adalah satu hal yang sangat penting bagi keselamatan penumpang. Setelah hari gelap, sekitar jam 8 malam, kami tiba di sekitar daerah Sikakap. Kapal mengantarkan Bupati ke kediaman pribadi beliau di Nemnem, kampung halaman Bupati di Pagai Utara. Setelah dari Nemnem barulah kami merapat di pelabuhan sikakap kembali (Bersambung…)
No Comments Yet - be the First!