Jalan Darat yang Membelah Pagai Selatan.

Setelah bertemu para pengungsi dan kembali ke Sikakap untuk beristirahat – Baca tulisan sebelumnya RBP untuk Mentawai (1)RBP untuk Mentawai (2) – kami kembali mendapat info bahwa Wagub Sumatera Barat yang sangat aktif menangani bencana Tsunami di Mentawai ternyata akan melihat secara langsung jalan darat yang melintasi pulau Pagai Selatan. Menggunakan helikopter, Wagub tiba di Padang untuk keperluan melantik Plt. Sekda Mentawai dan juga akan melihat kemungkinan lintas darat sebagai jalur distribusi bantuan.

RBPuntukMentawai3Sekitar jam 10 pagi, kami menyeberangi selat dari Pagai Utara ke Pagai Selatan. Kemudian bersama kru dari TV One, Metro TV bersama Danrem, bupati Mentawai, Dandim Mentawai, Aparatur Departemen PU, aparat PU Kab. Mentawai, dan beberapa pejabat teras di Mentawai akan mendampingi Wagub melihat lintas darat tersebut. Ternyata, yang dimaksud lintas darat adalah eks HPH dari kilo 1 sampai kilo 40 di pulau Pagai Selatan. Konon panjang jalan yang sudah dibuat oleh pemilik HPH untuk jalur pengangkutan kayu adalah 60 Km. Namun pada kesempatan ini kami hanya akan menjalani dari kilo 1 sampai kilo 37. Karena banyaknya rombongan yang ikut serta, sementara mobil yang disediakan oleh PT. Minas hanya sebuah mobil double cabin Mitsubishi jelas tidaklah cukup mengangkut semua rombongan.

Kemudian ketua DPRD Mentawai menelpon seseorang agar diberi pinjaman sebuah dump truck. Beberapa waktu berselang, datanglah sebuah dump truck untuk membawa rombongan yang tersisa. Dapat digambarkan yang naik Mitsubishi double cabin adalah Wagub Sumatara Barat, Bupati, Danrem, Kepala Dinas PU Prov. Sumatera Barat serta Ketua DPRD Kab. Mnetawai. Kemudian di atas bak terbuka, ditumpangi 2 orang kru TV One, 1 orang kru Metro TV, Sekpri Wagub, serta 2 orang anggota satpol PP. Sedangkan yang diangkut dump truck adalah Dandim Mentawai, pejabat dari departemen PU, pegawai dinas PU Kab. Mentawai, anggota Satpol PP kab. Mentawai.

RBPuntukMentawai3aPada saat rombongan bergerak, awalnya jalan yang ditempuh sangatlah curam mendaki. Ada hal luar biasa yang saya lihat, ternyata di kepulauan Pagai Selatan, terdapat cukup banyak alat berat. Seperti traktor, loader dan excavator. Bahkan, di pulau Pagai Selatan terdapat workshop atau bengkel untuk perbaikan alat-alat berat tersebut.  Kami berangkat dari kilo 1, atau lajim disebut orang Pagai Selatan sebagai daerah Lokpon.

Kemudian di tengah jalan kami disambangi oleh penduduk asli mentawai. Ternyata mereka bertujuan ingin menumpang ke dusun lain. Penumpang yang terbanyak kami dapati dari kilo 2.

Dalam menyusuri jalan tanah yang memang sudah lama tidak dipakai atau diaktkikfikan, kadangkala kami harus merunduk karena banyaknya semak yang berasal dari pohon di samping jalan.  Di perjalanan kami bertemu tiga jembatan yang baru saja diperbaiki, sebelumnya terputus. Entah karena Tsunami atau faktor lain. Jembatan yang dibuat relatif bersifat darurat karena dari batangan kayu besar yang ditumpuk sehingga dapat menjadi jembatan. Membuat jembatan darurat seperti ini tidaklah sulit di mentawai selatan karaena tersedianya alat berat yang seperti saya sebutkan tadi.

Rupanya di pulau Pagai Selatan terdapat jalan dari kilo 1 sampai kilo 60, hanya saja jalan tersebut sudah lama tidak dipergunakan karena penduduknya lebih memilih jalur angkutan laut daripada angkutan darat. Hal ini terkesan lucu bagi kita yang biasa hidup di darat. Namun ketika bencana datang mulailah orang terpikir bagaimana agar pengiriman bantuan bisa melalui jalur darat mengingat sulitnya dan tidak efisiennya mengirimnkan bantuan melalui jalur laut dan udara.  Sehingga mulailah disusun rencana untuk bisa kembali mengaktifkan jalur darat di Pagai Selatan. Jembatan yang rusak menurut catatan yang ada, sekitar 3 buah. Kami sempat berhenti di kilo 14, dan sebelum di kilo 14 terdapat pemukiman ex korban gempa 2007 yang lalu. Kemudian akhirnya kami tiba di Km 37. Ternyata di Km 37 sudah ada SD, SMP, gereja, Masjid dan pemukiman ex korban gempa tahun 2007 lalu. Di km 37 inilah nantinya akan dijadikan sentral pemukiman bagi korban Tsunami 2010 ini.

Mengingat program pemerintah pusat dan pemerintah kab. Mentawai akan merelokasi penduduk ke perbukitan tidak lagi ditepi pantai. Selain relokasi, saya berpikir yang patut diperhitungkan adalah bagaimana agar jalan HPH agar bisa lebih layak dilalui oleh kendaraan. Misalnya jembatan harus memang bersesuaian dengan keselamatan pengguna jalan. Serta perlu dimasyarakatkan jalur perdagangan melalui jalan darat. Sebab dengan metode yang sampai saat ini berlaku secara umum, jual beli yang terjadi masih bersifat sistem barter. Antara kopra yang ditukarkan oleh penduduk asli mentawai dengan minyak atau keperluan lainnya kepada pedagang yang berasal daria Padang, Sumatera Barat. Untuk itu sangatlah tepat kalau RBP nantinya mendorong percepatan peralihan pemukiman dengan membantu unit sepeda motor untuk masing-masing dusun. Sebab menurut informasi sederhana yang dapat dikumpulkan ternyata sangat jarang orang asli penduduk Mentawai yang bisa mengendarai sepeda motor, mengingat jarangnya sepeda motor di daerah tersebut.

Semoga jika jalan di Pagai Jalan telah memadai, kemudian RBP memberikan bantuan sepeda motor ke setiap dusun, perekonomian di Pagai selatan bisa bergerak, sehingga masyarakat lainnya pun tergerak atau bisa membeli sepeda motor masing-masing. (bersambung…)