nanang kleleponSecara pribadi saya memandang; telah terjadi peleburan yang bersifat luar biasa secara sosial antara urang Banjarbaru dan urang Martapura. Dengan kata lain, telah lahir kelompok lapisan yang disebut sebagai masyarakat baru, khususnya dalam hal budaya.

Waktu dulu saya kecil, sekitar tahun 70an, terlihat cukup jelas style atau gaya urang Banjarbaru dan Martapura yang berbeda. Urang Banjarbaru dengan trade mark Pegawai Negeri, Tentara, Polisi, pegawai PLN, Telkom, Pos Giro atau Bank dan mahasiswa. Sementara urang Martapura dikenal sebagai pedagang sekaligus komunitas Islam tradisional yang dalam bahasa sosiologi dikenal sebagai kaum santri.

Pada saat ini agak sulit bagi kita untuk mengklasifikasikan perbedaan antara dua kelompok masyarakat tersebut. Hal ini terjadi karena derasnya proses pembauran sosial urang Banjarbaru dan Martapura disertai pengaruh tambahan dari pendatang baru. Melalui fakta empirik dapat dilihat urang Martapura semata-mata tidak lagi sebagai pedagang dalam lingkungan Islam tradisional, demikian pula yang terjadi pada urang Banjarbaru. Meski demikian, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah style atau gaya urang Pahuluan telah banyak merasuk dalam keseharian urang Banjarbaru dan urang Martapura.

Sebuah gaya yang kemudian menjadi budaya, lantas saling bercampur baur inilah yang menjadi patron dari cerita Nanang Klelepon. Ide dan penggarapan Nanang Klelepon memang dibidani oleh generasi baru dari komunitas urang Banjarbaru dan urang Martapura. Seperti Mahfuz Abdullah, urang Kandangan nang lawas bagana di Banjarbaru, Ramli Arisno urang Jawa nang lawas badiam di banua Banjar dan Deni Setiawan urang Martapura yang sempat mengecap pendidikan sekolah Islam dan memiliki style metropolis.

Nanang Klelepon ditilik dari sisi bahasa tentu akan dianalogikan sebagai kananakan Martapura karena wadai klelepon sampai saat ini bagi masyarakat Kalimantan Selatan identik dengan Martapura. Namun jika dilihat dari tutur atau akar dari gaya bahasa Nanang Klelepon, sering kali lebih mirip dengan style urang Pahuluan. pada kesempatan lain Nanang Klelepon dengan style sebagai urang Jawa perantauan. Sesuatu yang fenomenalogis, sepanjang yang saya baca, sangat sedikit seri Nanang Klelepon yang memiliki Joke atau bertutur dengan akar budaya urang Martapura tradisional. Seperti cara guyon, gaya, bahasa sampai penyebutan kampung khas Martapura seperti; kampung Melayu, Keraton, Breman atau kampung Jawa.

Nanang Klelepon sesungguhnya adalah bayang-bayang dari masyarakat  yang terus tumbuh dan berubah, baik dari sisi gaya hidup atau budaya, sehingga penamaan Klelepon pada Nanang, Puracit pada Rudy, sesungguhnya adalah realitas dari kekinian. Itulah yang bisa saya tangkap atau ruh dari cerita Nanang Klelepon yang kemudian terbit di harian Radar Banjarmasin. Cerita Nanang Klelepon juga mengisyaratkan meski klelepon identik dengan Martapura namun yang berdagang dan tempat berdagang pun tidak lagi selalu identik dengan Martapura. Hal ini terjadi pula dengan ketupat kandangan atau rendang padang. Tidak harus urang Kandangan atau urang Padang. Bagi saya, itulah yang termaknai.

Selama bergaul, saya memiliki beberapa pengalaman menarik. Ada seorang teman, dia bersuku Batak dan bermarga Siregar. Pekerjaannya adalah abdi negara, polisi. Dalam pikiran saya (mungkin anda juga), seorang polisi, Batak pula, umumnya sangar. Kalau bicara, terkesan membentak. Tapi kenyataannya tidak demikian. Teman saya itu, tutur katanya lembut mirip orang Sunda. Ada lagi seorang teman, Hadi Purwanto namanya. Keturunan orang Jawa. Baca sekali namanya. Sangat Jawa, bukan? Wajah Hadi Purwanto pun memiliki ciri-ciri urang Jawa. Karena ia lahir dan besar di Kandangan, sementara ayahnya berprofesi juga sebagai abdi negara, tentara. Beliau bertugas di Kandangan. Hadi Purwanto yang saya kenal itu akhirnya memiliki temperamen dan tipikal khas urang Kandangan.

Catatan di atas telah menggambarkan dalam skala kecil yang merekam  terjadinya proses asimilasi, duplikasi sekaligus globalisasi dari kehidupan di sekitar kita. Apa yang dibuat oleh orang-orang muda pencetus dan penulis Nanang Klelepon, menurut pandangan saya, salah satunya ingin memotret kenyataan pergeseran sekaligus pembauran antar sebuah budaya. Sebut saja Banjar hari ini. Martapura hari ini. Banjarbaru hari ini, atau Kalsel hari ini.

Generasi baru dengan gaya hidup yang tak lagi kental dengan budaya asal, karena mengalami pergeseran  dan asimilasi dengan gaya hidup dan budaya lain, merupakan tipikal khas urang Banjarbaru yang berada di sebuah kota terbuka.  Haji Amak sebagai salah satu tokoh yang sering di tulis dalam cerita pendek Nanang Klelepon merupakan tipikal orang muda Banjarbaru yang telah naik haji namun tidak menggambarkan  sosok “pak haji” sebagaimana dalam sketsa imajiner orang Islam.

Haji Amak yang usianya tidak terlalu muda namun juga belum dapat dikatakan tua. Artinya masih sepantaran saja dengan Nanang Klelepon Cs. Cara berpakaian Haji Amak biasa saja. Prilakunya pun relatif masih suka bagayaan. Ciri fisik Haji Amak tentu saja lamak ganal, agak tambun. Haji Amak digambarkan suka mentraktir, yah termasuk  bos dalam skala kecil-kecilan. Pada beberapa seri, Haji Amak dijadikan papantul atas tindakan dan keputusannya terhadap informasi yang mehalabiu dari Nanang Klelepon. Akhirnya kelucuan timbul dari Haji Amak justru karena dirinya tertipu alias tabunguli baik ulah Nanang Klelepon atau tokoh lainnya. [ ]

Catatan:

Urang = Orang
nang lawas bagana = Yang lama tinggal/menetap/diam
kananakan: Anak-anak, merujuk pada sebutan kata ganti ‘orang’.
Pahuluan: Sebutan untuk mereka yang berdiam di daerah Hulu Sungai (Sebuah tempat di Kalsel).
Lamak ganal: Gemuk berbadan besar
Sangar: Menakutkan
Klelepon: Salah satu jenis jajanan khas Banjar, Kalsel yang banyak dijumpai di Martapura.